Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?

Kompas.com, 17 April 2026, 11:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, suasana religius mulai terasa. Takbir menggema, persiapan kurban dilakukan, dan umat Islam bersiap menyambut salah satu momen paling sakral dalam kalender Hijriah.

Di tengah berbagai persiapan itu, muncul satu pertanyaan yang cukup sering terdengar, apakah harus mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Idul Adha?

Pertanyaan ini tampak sederhana, namun menyimpan dimensi fikih yang penting untuk dipahami.

Sebab, dalam Islam, setiap amalan memiliki dasar hukum, hikmah, dan tata cara yang tidak boleh diabaikan.

Berikut penjelasan lengkap mengenai hukum mandi sebelum sholat Idul Adha, disertai dalil, pandangan ulama, hingga hikmah yang terkandung di dalamnya.

Mandi Sebelum Sholat Idul Adha: Sunnah, Bukan Wajib

Dalam kajian Ilmu Fikih, mandi sebelum sholat Idul Adha termasuk dalam kategori sunnah muakkadah, yaitu amalan yang sangat dianjurkan tetapi tidak sampai pada tingkat wajib.

Artinya, seseorang tetap sah melaksanakan sholat Idul Adha meskipun tidak mandi terlebih dahulu. Namun, jika dilakukan, amalan ini akan menyempurnakan ibadah dan menambah nilai pahala.

Pendapat ini disepakati oleh mayoritas ulama dari berbagai mazhab, seperti Syafi’i, Maliki, dan Hanbali.

Mereka merujuk pada praktik yang dilakukan para sahabat Nabi, termasuk Ali bin Abi Thalib yang menyebut mandi pada hari raya sebagai bagian dari amalan yang dianjurkan.

Dalam sejumlah riwayat, disebutkan bahwa Nabi Muhammad biasa mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.

Riwayat ini, meski sebagian dinilai tidak mencapai derajat paling kuat, tetap diperkuat oleh praktik para sahabat dan tradisi umat Islam generasi awal.

Baca juga: Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari

Apakah Harus Keramas? Ini Penjelasannya

Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa mandi Idul Adha harus disertai keramas.

Secara hukum, keramas tidak wajib dalam mandi sunnah Idul Adha. Namun, keramas tetap dianjurkan sebagai bagian dari upaya menyempurnakan kebersihan diri.

Dalam konteks ini, penting membedakan antara mandi sunnah dan mandi wajib (junub). Pada mandi wajib, air harus benar-benar merata ke seluruh tubuh, termasuk rambut hingga ke kulit kepala.

Sementara pada mandi sunnah Idul Adha, yang ditekankan adalah kebersihan secara umum. Jika rambut terkena air secara merata, maka sudah cukup, meskipun tidak dilakukan secara khusus seperti keramas.

Dengan kata lain, keramas bukan syarat sah, tetapi bagian dari adab kebersihan yang dianjurkan.

Dalil dan Landasan Ulama

Dalam literatur klasik, anjuran mandi hari raya banyak dibahas oleh para ulama. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menjelaskan bahwa mandi pada hari raya termasuk sunnah yang disepakati karena bertujuan menjaga kebersihan saat berkumpul dalam ibadah besar.

Sementara itu, dalam buku Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa mandi pada hari raya merupakan bagian dari syiar Islam yang menunjukkan keindahan dan kebersihan dalam beribadah.

Dalam karya lain seperti Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, juga ditegaskan bahwa mandi Id termasuk sunnah yang dianjurkan karena berkaitan dengan pertemuan besar umat Islam dalam satu tempat.

Baca juga: Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya

Tata Cara Mandi Idul Adha yang Dianjurkan

Secara praktik, mandi Idul Adha tidak berbeda jauh dengan mandi besar. Berikut langkah-langkah yang dianjurkan:

  • Membaca niat dalam hati untuk mandi sunnah Idul Adha
  • Membasuh kedua tangan
  • Berwudhu seperti hendak sholat
  • Menyiram kepala sebanyak tiga kali sambil memastikan air merata
  • Menyiram seluruh tubuh, dimulai dari sisi kanan lalu kiri
  • Membersihkan bagian tubuh yang tersembunyi

Niat mandi Idul Adha:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْاَضْحَى سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liyaumi 'iidil Adha sunnatal Lillahi Ta'alaa.

Artinya: “Saya niat mandi pada hari Raya Idul Adha sebagai sunnah karena Allah Ta’ala.”

Waktu Terbaik untuk Mandi Idul Adha

Para ulama menjelaskan bahwa waktu mandi Idul Adha dimulai sejak pertengahan malam hingga sebelum pelaksanaan sholat Id.

Namun, waktu yang paling utama adalah setelah terbit fajar hingga sebelum berangkat ke tempat sholat. Hal ini bertujuan agar kondisi tubuh tetap bersih dan segar saat berkumpul bersama jamaah.

Amalan Sunnah Lain yang Mengiringi

Selain mandi, terdapat sejumlah amalan sunnah lain yang melengkapi ibadah Idul Adha:

  • Memperbanyak takbir sejak malam hari raya
  • Mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian
  • Tidak makan sebelum sholat Id
  • Berjalan kaki ke tempat sholat jika memungkinkan
  • Mengambil rute berbeda saat berangkat dan pulang

Amalan-amalan ini bukan sekadar ritual, tetapi membentuk suasana spiritual yang khas dalam perayaan Idul Adha.

Baca juga: Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Cek Libur dan Potensi Long Weekend

Hikmah di Balik Mandi Hari Raya

Jika ditelaah lebih dalam, mandi sebelum sholat Idul Adha bukan hanya soal kebersihan fisik.

Dalam perspektif spiritual, mandi menjadi simbol penyucian diri sebelum menghadap Allah SWT dalam momen besar. Ia mencerminkan kesiapan lahir dan batin, sekaligus penghormatan terhadap hari raya.

Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kebersihan lahir adalah pintu menuju kebersihan batin. Dengan tubuh yang bersih, hati lebih mudah hadir dalam kekhusyukan ibadah.

Tidak Wajib, Tapi Sangat Dianjurkan

Pada akhirnya, mandi sebelum sholat Idul Adha bukanlah kewajiban yang menentukan sah atau tidaknya ibadah.

Namun, meninggalkannya berarti melewatkan satu sunnah penting yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang besar.

Dalam tradisi Islam, kesempurnaan ibadah tidak hanya diukur dari sah atau tidaknya, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mengikuti sunnah Rasulullah.

Dan di balik amalan sederhana seperti mandi, tersimpan pesan mendalam tentang kebersihan, kesiapan, dan penghormatan terhadap hari raya yang penuh makna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Apakah Boleh Kurban Atas Nama Satu Keluarga? Ini Penjelasan Ulama
Apakah Boleh Kurban Atas Nama Satu Keluarga? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Kisah Suraya, Jemaah Haji Termuda Asal Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Balita
Kisah Suraya, Jemaah Haji Termuda Asal Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Balita
Aktual
Kisah Sarminiah, Jemaah Haji Tertua dari Kota Yogyakarta yang Berangkat di Usia 85 Tahun
Kisah Sarminiah, Jemaah Haji Tertua dari Kota Yogyakarta yang Berangkat di Usia 85 Tahun
Aktual
6 Tips Memilih Hewan Kurban Sehat, Ini Syarat Lengkap Menurut Syariat
6 Tips Memilih Hewan Kurban Sehat, Ini Syarat Lengkap Menurut Syariat
Aktual
Cara dan Waktu Terbaik Potong Kuku Menurut Sunnah Nabi
Cara dan Waktu Terbaik Potong Kuku Menurut Sunnah Nabi
Aktual
Setelah Syawal Bulan Apa? Ini Keistimewaan Zulkaidah
Setelah Syawal Bulan Apa? Ini Keistimewaan Zulkaidah
Aktual
Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?
Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?
Aktual
Teks Khutbah Jumat 17 April 2026: 5 Golongan yang Harus Dijauhi Menjelang Akhir Zaman
Teks Khutbah Jumat 17 April 2026: 5 Golongan yang Harus Dijauhi Menjelang Akhir Zaman
Aktual
Doa Akhir Bulan Syawal dan Amalan Sunnah Penutup Penuh Berkah
Doa Akhir Bulan Syawal dan Amalan Sunnah Penutup Penuh Berkah
Doa dan Niat
Wamenhaj Dahnil Ingatkan Petugas Haji Tidak Pamer di Tanah Suci
Wamenhaj Dahnil Ingatkan Petugas Haji Tidak Pamer di Tanah Suci
Aktual
Wamenhaj: PPIH Ujung Tombak Haji 2026, Kesiapan Mental Jadi Kunci Sukses Layanan Jemaah
Wamenhaj: PPIH Ujung Tombak Haji 2026, Kesiapan Mental Jadi Kunci Sukses Layanan Jemaah
Aktual
Wamenhaj Ingatkan PPIH Jelang Haji 2026: Ini Bukan Sekadar Tugas, tapi Misi Suci
Wamenhaj Ingatkan PPIH Jelang Haji 2026: Ini Bukan Sekadar Tugas, tapi Misi Suci
Aktual
Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Aktual
Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari
Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari
Aktual
Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com