KOMPAS.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, suasana religius mulai terasa. Takbir menggema, persiapan kurban dilakukan, dan umat Islam bersiap menyambut salah satu momen paling sakral dalam kalender Hijriah.
Di tengah berbagai persiapan itu, muncul satu pertanyaan yang cukup sering terdengar, apakah harus mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Idul Adha?
Pertanyaan ini tampak sederhana, namun menyimpan dimensi fikih yang penting untuk dipahami.
Sebab, dalam Islam, setiap amalan memiliki dasar hukum, hikmah, dan tata cara yang tidak boleh diabaikan.
Berikut penjelasan lengkap mengenai hukum mandi sebelum sholat Idul Adha, disertai dalil, pandangan ulama, hingga hikmah yang terkandung di dalamnya.
Dalam kajian Ilmu Fikih, mandi sebelum sholat Idul Adha termasuk dalam kategori sunnah muakkadah, yaitu amalan yang sangat dianjurkan tetapi tidak sampai pada tingkat wajib.
Artinya, seseorang tetap sah melaksanakan sholat Idul Adha meskipun tidak mandi terlebih dahulu. Namun, jika dilakukan, amalan ini akan menyempurnakan ibadah dan menambah nilai pahala.
Pendapat ini disepakati oleh mayoritas ulama dari berbagai mazhab, seperti Syafi’i, Maliki, dan Hanbali.
Mereka merujuk pada praktik yang dilakukan para sahabat Nabi, termasuk Ali bin Abi Thalib yang menyebut mandi pada hari raya sebagai bagian dari amalan yang dianjurkan.
Dalam sejumlah riwayat, disebutkan bahwa Nabi Muhammad biasa mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.
Riwayat ini, meski sebagian dinilai tidak mencapai derajat paling kuat, tetap diperkuat oleh praktik para sahabat dan tradisi umat Islam generasi awal.
Baca juga: Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari
Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa mandi Idul Adha harus disertai keramas.
Secara hukum, keramas tidak wajib dalam mandi sunnah Idul Adha. Namun, keramas tetap dianjurkan sebagai bagian dari upaya menyempurnakan kebersihan diri.
Dalam konteks ini, penting membedakan antara mandi sunnah dan mandi wajib (junub). Pada mandi wajib, air harus benar-benar merata ke seluruh tubuh, termasuk rambut hingga ke kulit kepala.
Sementara pada mandi sunnah Idul Adha, yang ditekankan adalah kebersihan secara umum. Jika rambut terkena air secara merata, maka sudah cukup, meskipun tidak dilakukan secara khusus seperti keramas.
Dengan kata lain, keramas bukan syarat sah, tetapi bagian dari adab kebersihan yang dianjurkan.
Dalam literatur klasik, anjuran mandi hari raya banyak dibahas oleh para ulama. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menjelaskan bahwa mandi pada hari raya termasuk sunnah yang disepakati karena bertujuan menjaga kebersihan saat berkumpul dalam ibadah besar.
Sementara itu, dalam buku Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa mandi pada hari raya merupakan bagian dari syiar Islam yang menunjukkan keindahan dan kebersihan dalam beribadah.
Dalam karya lain seperti Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, juga ditegaskan bahwa mandi Id termasuk sunnah yang dianjurkan karena berkaitan dengan pertemuan besar umat Islam dalam satu tempat.
Baca juga: Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Secara praktik, mandi Idul Adha tidak berbeda jauh dengan mandi besar. Berikut langkah-langkah yang dianjurkan:
Niat mandi Idul Adha:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْاَضْحَى سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liyaumi 'iidil Adha sunnatal Lillahi Ta'alaa.
Artinya: “Saya niat mandi pada hari Raya Idul Adha sebagai sunnah karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menjelaskan bahwa waktu mandi Idul Adha dimulai sejak pertengahan malam hingga sebelum pelaksanaan sholat Id.
Namun, waktu yang paling utama adalah setelah terbit fajar hingga sebelum berangkat ke tempat sholat. Hal ini bertujuan agar kondisi tubuh tetap bersih dan segar saat berkumpul bersama jamaah.
Selain mandi, terdapat sejumlah amalan sunnah lain yang melengkapi ibadah Idul Adha:
Amalan-amalan ini bukan sekadar ritual, tetapi membentuk suasana spiritual yang khas dalam perayaan Idul Adha.
Baca juga: Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Cek Libur dan Potensi Long Weekend
Jika ditelaah lebih dalam, mandi sebelum sholat Idul Adha bukan hanya soal kebersihan fisik.
Dalam perspektif spiritual, mandi menjadi simbol penyucian diri sebelum menghadap Allah SWT dalam momen besar. Ia mencerminkan kesiapan lahir dan batin, sekaligus penghormatan terhadap hari raya.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kebersihan lahir adalah pintu menuju kebersihan batin. Dengan tubuh yang bersih, hati lebih mudah hadir dalam kekhusyukan ibadah.
Pada akhirnya, mandi sebelum sholat Idul Adha bukanlah kewajiban yang menentukan sah atau tidaknya ibadah.
Namun, meninggalkannya berarti melewatkan satu sunnah penting yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang besar.
Dalam tradisi Islam, kesempurnaan ibadah tidak hanya diukur dari sah atau tidaknya, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mengikuti sunnah Rasulullah.
Dan di balik amalan sederhana seperti mandi, tersimpan pesan mendalam tentang kebersihan, kesiapan, dan penghormatan terhadap hari raya yang penuh makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang