Editor
KOMPAS.com - Hari Kartini diperingati setiap 21 April sebagai momentum mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan.
Namun, di balik kiprahnya sebagai pahlawan nasional, terdapat kisah penting tentang pencarian ilmu agama yang jarang disorot.
Salah satu tokoh yang memberi kesan mendalam dalam hidup Kartini adalah ulama besar asal Semarang, KH Sholeh Darat.
Baca juga: Jejak Spiritual RA Kartini dan Kegelisahannya Saat Jadi Santriwati KH Sholeh Darat
Pertemuan keduanya disebut menjadi awal lahirnya tafsir Al Quran berbahasa Jawa yang bersejarah.
RA Kartini lahir pada 21 April 1879 dan wafat pada 17 September 1904. Dalam pergaulannya dengan berbagai kalangan, termasuk pejabat kolonial Belanda, Kartini dikenal sebagai sosok kritis dan haus ilmu.
Baca juga: Kartini Bukan Sekadar Simbol, Ini Peran Nyatanya bagi Muslimah Kini
Sikap itu juga terlihat ketika ia mendalami ajaran Islam. Dari sinilah hubungan intelektualnya dengan bermula.
Berikut sosok dan kisah KH Sholeh Darat, yang dirangkum dari laman Kompas.tv dan Kemenag.
KH Sholeh Darat memiliki nama lengkap Muhammad Saleh atau Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani.
Ia lahir di Dukuh Kedung Jumbleng, Desa Ngroto Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.
Nama Darat sendiri diambil dari nama tempat tinggal Kyai Sholeh di pantai utara Semarang yang menjadi tempat berlabuh orang-orang luar Jawa yang berlabuh (mendarat).
Nama Darat ini kemudian diabadikan menjadi nama Kampung Darat yang terletak di Semarang Utara.
Kyai Sholeh Darat meninggal pada 18 Desember 1903 dalam usia 83 tahun dan dimakamkan di pemakanan umum Bergota, Semarang.
Dikutip dari Ensiklopedia Islam, Sholeh Darat merupakan putra KH Umar, seorang ulama yang pernah bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro.
Sejak kecil, ia belajar ilmu agama dari ayahnya dan para ulama di sekitarnya.
Saat remaja, ia berguru kepada KH Syahid, ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah.
Setelah itu, ayahnya membawa Saleh belajar kepada sejumlah kiai lain, seperti KH Asnawi Saleh Kudus, KH Ishaq Damaran, dan KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni yang merupakan mufti Semarang.
Usai menamatkan pendidikan di Semarang, Sholeh Darat diajak ayahnya ke Singapura lalu ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama.
Selama di Makkah, ia belajar bersama KH Muhammad Nawawi Banten atau Syekh Nawawi al Bantani dan KH Cholil Bangkalan. Pengalaman belajar di Tanah Suci memperkuat kapasitas keilmuannya sebagai ulama Nusantara.
Sekembalinya ke Semarang, ia mendirikan pesantren di kawasan Darat yang berada di pesisir Kota Semarang.
Dari pesantren itu, ia mengembangkan dakwah, menulis berbagai kitab, dan membina banyak murid.
KH Sholeh Darat dikenal memiliki banyak murid yang kemudian menjadi tokoh besar Islam di Indonesia.
Selain RA Kartini, murid-muridnya berasal dari kalangan ulama dan bangsawan.
Beberapa nama yang disebut pernah belajar kepadanya antara lain KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, KH Mahfuz pendiri Pondok Pesantren Termas Pacitan, serta KH Idris pendiri Pesantren Jamsaren Solo.
Salah satu kisah paling dikenal dari hubungan Kartini dan KH Sholeh Darat adalah dorongan Kartini agar Al Quran diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa.
Pada masa itu, hampir tidak ada kiai yang berani membuat terjemahan Al Quran karena masih dianggap tabu.
“Saya merasa perlu menyampaikan rasa terimakasih kepada romo kyai dan bersyukur yang sebesa-besarnya kepada Allah yang menerjemahkan surat al-fatihah ke dalam Bahasa Jawa sehingga mudah dipahami,” kata Kartini ketika mengikuti pengajian Sholeh Darat di Pendopo Kesultanan Demak.
Kartini mengaku sebelumnya tidak memahami makna Surat Al Fatihah yang sering dibaca.
"Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya. Tapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena Romo Kyai menjelaskannya dalam Bahasa Jawa yang saya pahami," katanya.
Ketika Kartini menikah dengan R.M Joyodiningrat, Bupati Rembang, KH Sholeh Darat disebut memberikan hadiah pernikahan berupa kitab tafsir Faid-Rahman.
Faid ar-Rahman merupakan karya terjemahan dengan muatan tafsir yang ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon.
Nama Faid ar-Rahman sendiri, secara sederhana bermakna limpahan kasih sayang Tuhan yang di dalamnya tidak hanya menjelaskan makna Al-Qur’an secara eksplisit (zahir) namun juga implisit (batin).
Tafsir ini ditulis sesuai dengan urutan mushaf (tartib mushaf). Kitab tersebut dikenal sebagai tafsir Al Quran berbahasa Jawa pertama di Nusantara yang ditulis menggunakan huruf pegon.
Karya itu menjadi tonggak penting dalam penyebaran pemahaman Islam kepada masyarakat Jawa yang belum menguasai bahasa Arab.
Selain Faid-Rahman, KH Sholeh Darat juga menghasilkan sejumlah karya lain yang banyak dijadikan rujukan keilmuan.
Di antaranya Majmu’ah asy-Syariah al Kafiyah li al-Awwam, kitab tentang syariat bagi masyarakat awam.
Ia juga menulis Kitab al-Hikam, terjemahan dari karya Ibnu Athaillah As Sakandari, serta Kitab Asrar-as Salah yang membahas rahasia salat.
Warisan intelektualnya terus dikenang sebagai bagian penting sejarah Islam di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang