KOMPAS.com – Hujan yang mengguyur wilayah utara Arab Saudi baru-baru ini menghadirkan pemandangan langka, sebuah kolam kuno peninggalan peradaban Islam kembali terisi air hingga mendekati penuh.
Dilansir dari Saudi Press Agency, kolam itu adalah Kolam Al-Jumaimiyah, sebuah struktur bersejarah yang telah berdiri lebih dari 1.300 tahun sejak era Dinasti Abbasiyah.
Fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan juga membuka kembali perhatian pada kecanggihan teknologi air dalam peradaban Islam klasik yang kerap terlupakan.
Baca juga: Sejarah Raja Persia: Dari Cyrus hingga Revolusi Islam Iran 1979
Di tengah lanskap gurun yang keras, kehadiran air selalu menjadi penentu kehidupan. Pada masa lalu, jalur-jalur perdagangan dan ziarah membutuhkan sistem penampungan air yang andal untuk menopang perjalanan panjang.
Kolam Al-Jumaimiyah dibangun sebagai bagian dari jaringan infrastruktur air untuk para pelancong yang melintasi wilayah Hijaz menuju Irak.
Dalam buku A History of the Arab Peoples karya Albert Hourani dijelaskan bahwa pada masa Abbasiyah, pembangunan fasilitas publik seperti sumur, waduk, dan kanal air menjadi prioritas untuk mendukung mobilitas ekonomi dan keagamaan.
Kolam ini menjadi bukti nyata bagaimana kebutuhan spiritual, seperti perjalanan haji—beririsan dengan inovasi teknologi pada masa itu.
Kolam Al-Jumaimiyah tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari jaringan besar yang dikenal sebagai Jalur Zubaida, salah satu rute haji paling penting dalam sejarah Islam.
Jalur ini dinamai dari Zubaida binti Ja'far, sosok perempuan berpengaruh yang dikenal karena kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur bagi jemaah haji.
Dalam literatur klasik seperti Tarikh Baghdad, disebutkan bahwa Zubaida menginisiasi pembangunan sumur, waduk, dan tempat peristirahatan di sepanjang jalur tersebut, sehingga perjalanan haji menjadi lebih aman dan terjamin.
Setiap titik pemberhentian di jalur ini biasanya berjarak sekitar 50 kilometer, jarak yang disesuaikan dengan kemampuan perjalanan kafilah unta.
Baca juga: Harun al-Rasyid: Kekuasaan, Ilmu, dan Wajah Ganda Sebuah Peradaban
Secara arsitektural, Kolam Al-Jumaimiyah menunjukkan tingkat perencanaan yang sangat matang.
Struktur ini dibangun di dalam cekungan alami berbentuk melingkar untuk memaksimalkan penampungan air hujan.
Kolam ini memiliki luas sekitar 30 meter persegi dengan kedalaman lebih dari 6 meter. Dua lapisan dinding mengelilinginya, dinding dalam sejajar permukaan tanah, sementara dinding luar lebih tinggi untuk mencegah limpasan air.
Sebanyak 13 anak tangga di sisi timur memungkinkan akses langsung ke dasar kolam. Di bagian luar, struktur diperkuat dengan penyangga silindris yang berfungsi menjaga kestabilan bangunan.
Dalam buku Islamic Science and Engineering karya Donald R. Hill dijelaskan bahwa teknik pengelolaan air pada masa Islam klasik telah memanfaatkan prinsip hidrologi alami, termasuk pengendalian aliran banjir dan penyimpanan air jangka panjang.
Kemampuan kolam ini menyimpan air hingga berbulan-bulan, bahkan mencapai satu tahun dalam kondisi tertentu, menjadi bukti nyata kecanggihan tersebut.
Peristiwa terisinya kembali kolam ini setelah hujan lebat menjadi momen yang jarang terjadi. Dalam kondisi normal, wilayah utara Arab Saudi dikenal sebagai kawasan kering dengan curah hujan yang sangat terbatas.
Namun kali ini, intensitas hujan yang cukup tinggi membuat aliran air dari lembah sekitar kembali mengisi kolam hingga tingkat yang hampir penuh.
Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga para peneliti dan pemerhati sejarah yang melihatnya sebagai “kebangkitan” simbolik dari warisan peradaban masa lalu.
Baca juga: Mengintip AlUla, Oasis Gurun Warisan Dunia UNESCO yang Menyimpan Jejak Peradaban Arab Kuno
Lebih dari sekadar bangunan, Kolam Al-Jumaimiyah mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan gurun.
Ia menunjukkan bagaimana keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui inovasi dan pemahaman terhadap alam.
Dalam konteks spiritual, keberadaan kolam ini juga memiliki makna mendalam. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang para peziarah menuju Tanah Suci, sebuah perjalanan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan iman.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku The Hajj: Pilgrimage in Islam karya F.E. Peters, infrastruktur seperti jalur Zubaida memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman haji sebagai perjalanan kolektif umat Islam lintas wilayah dan budaya.
Terisinya kembali kolam kuno ini seolah menjadi pengingat bahwa peradaban Islam di masa lalu tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam sains dan teknologi.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis air global saat ini, warisan seperti Kolam Al-Jumaimiyah justru relevan untuk dikaji ulang.
Ia mengajarkan bahwa solusi berkelanjutan sering kali sudah pernah ditemukan, hanya saja terlupakan oleh zaman.
Kini, ketika air kembali mengisi kolam itu setelah berabad-abad, ia tidak hanya membawa kehidupan, tetapi juga menghidupkan kembali cerita tentang kecerdasan, ketekunan, dan visi jauh ke depan dari peradaban yang pernah berjaya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang