KOMPAS.com - Nama Harun al-Rasyid kerap hadir dalam dua wajah yang kontras. Di satu sisi, ia dikenang sebagai yang saleh dan pelindung ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, ia hidup dalam kemewahan istana yang sering memicu kritik. Namun justru di antara dua kutub itulah, sejarah peradaban Islam mencapai salah satu puncaknya.
Tatkala dunia Barat mengalami kemunduran setelah runtuhnya Imperium Romawi, sebuah peradaban baru tumbuh di Timur.
Peradaban Arab-Muslim muncul sebagai kekuatan global dan mencapai puncak awalnya di Baghdad, di bawah kepemimpinan Harun al-Rasyid tokoh legendaris yang kelak hidup dalam kisah Seribu Satu Malam, tetapi kekuasaannya di dunia nyata tak kalah megah dari dongeng.
Harun al-Rasyid lahir pada 763 M sebagai putra Khalifah al-Mahdi. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam lingkungan istana yang menekankan pendidikan agama, sastra, dan kepemimpinan.
Ia juga ditempa dalam pengalaman militer sejak usia muda, memimpin ekspedisi dan berhadapan langsung dengan dinamika kekuasaan.
Ketika naik takhta pada 786 M, wilayah Islam telah membentang luas dari Samudra Atlantik hingga perbatasan China.
Kekuasaan Abbasiyah bukan hanya terbesar, tetapi juga terkuat pada masanya. Tantangan Harun bukan lagi menaklukkan wilayah, melainkan merawat sebuah imperium raksasa agar tetap stabil dan beradab.
Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam
Dikutip dari buku Kejayaan Sang Khalifah Harun ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia pada Zaman Keemasan Islam karya Benson Bobrick, di bawah Harun al-Rasyid, Baghdad menjelma menjadi pusat peradaban dunia.
Kota itu bukan hanya ibu kota politik, tetapi simpul pertemuan ilmu, perdagangan, dan budaya.
Pedagang dari Timur dan Barat bertemu, gagasan lintas peradaban saling bertukar, dan ilmu pengetahuan berkembang pesat.
Meski Islam menyebar terutama melalui perang pada fase awal, kaum Muslim justru mencapai prestasi budaya yang luar biasa.
Hingga berabad-abad kemudian, peradaban Arab-Muslim memberi dampak mendalam terhadap Barat dari astronomi, geometri, aljabar, kedokteran, kimia, hingga ilmu pengetahuan alam lainnya.
Pengaruh itu merembes ke bidang teknik, mode berpakaian, persenjataan, hukum, musik, dan sastra.
Pada masa inilah, benih lembaga penerjemahan dan pengembangan ilmu yang kelak dikenal sebagai Baitul Hikmah mulai tumbuh, meski mencapai puncaknya pada era putranya, al-Ma’mun.
Namun kejayaan itu tidak lahir tanpa konflik. Di balik kemegahan Baghdad, ketegangan elite mengendap.
Episode paling dramatis adalah kejatuhan keluarga Barmakiyah, wazir berpengaruh yang sebelumnya menjadi tulang punggung administrasi Abbasiyah.
Penindakan terhadap Barmak menunjukkan sisi keras Harun al-Rasyid. Ia tegas, bahkan kejam, ketika merasa keseimbangan kekuasaan terancam.
Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai tanda rapuhnya relasi antara penguasa dan lingkar dalam istana, friksi internal yang kelak ikut melemahkan kekhalifahan.
Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil
Sumber-sumber klasik menggambarkan Harun al-Rasyid sebagai sosok yang rajin beribadah, gemar berhaji dan berjihad. Namun ia juga hidup dalam kemewahan istana, dikelilingi musik, sastra, dan hiburan.
Kontradiksi ini kerap dipandang sebagai kemunafikan. Padahal, ia mencerminkan realitas kepemimpinan sebuah imperium besar.
Harun hidup di persimpangan antara ideal moral Islam dan tuntutan simbolik kekuasaan global.
Ia saleh dalam keyakinan, tetapi politis dalam tindakan; sederhana dalam ibadah, namun megah dalam representasi negara.
Pada masa Harun al-Rasyid, dunia Islam tidak terisolasi. Ia menjalin hubungan diplomatik dengan Bizantium dan Eropa Barat. Hubungannya dengan Charlemagne menjadi simbol awal diplomasi lintas peradaban.
Perseteruan panjang antara Arab dan Bizantium tetap berlangsung, tetapi juga diiringi pertukaran hadiah, utusan, dan gagasan. Dunia saat itu sedang terhubung, dan Baghdad berdiri di pusatnya.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid
Harun al-Rasyid wafat pada 809 M dalam sebuah ekspedisi. Sepeninggalnya, kekhalifahan Abbasiyah tidak runtuh seketika, tetapi mulai retak dari dalam.
Konflik antara putra-putranya membuka babak perang saudara, friksi internal yang secara perlahan melemahkan Baghdad hingga akhirnya jatuh berabad kemudian.
Namun sejarah tidak mengingat Harun al-Rasyid dari akhir itu semata. Ia dikenang sebagai simbol zaman keemasan Islam, ketika kekuasaan, ilmu, dan kebudayaan bertemu dalam satu pusat peradaban.
Kisah Harun al-Rasyid mengajarkan bahwa kejayaan tidak pernah lahir dari kesederhanaan semata, melainkan dari kemampuan merawat kompleksitas antara iman dan dunia, antara pena dan pedang.
Warisan itu, sebagaimana dicatat para sejarawan, terus bergema dalam peradaban manusia hingga hari ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang