Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harun al-Rasyid: Kekuasaan, Ilmu, dan Wajah Ganda Sebuah Peradaban

Kompas.com, 3 Januari 2026, 14:15 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nama Harun al-Rasyid kerap hadir dalam dua wajah yang kontras. Di satu sisi, ia dikenang sebagai yang saleh dan pelindung ilmu pengetahuan.

Di sisi lain, ia hidup dalam kemewahan istana yang sering memicu kritik. Namun justru di antara dua kutub itulah, sejarah peradaban Islam mencapai salah satu puncaknya.

Tatkala dunia Barat mengalami kemunduran setelah runtuhnya Imperium Romawi, sebuah peradaban baru tumbuh di Timur.

Peradaban Arab-Muslim muncul sebagai kekuatan global dan mencapai puncak awalnya di Baghdad, di bawah kepemimpinan Harun al-Rasyid tokoh legendaris yang kelak hidup dalam kisah Seribu Satu Malam, tetapi kekuasaannya di dunia nyata tak kalah megah dari dongeng.

Dari Putra Khalifah ke Penguasa Dunia Islam

Harun al-Rasyid lahir pada 763 M sebagai putra Khalifah al-Mahdi. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam lingkungan istana yang menekankan pendidikan agama, sastra, dan kepemimpinan.

Ia juga ditempa dalam pengalaman militer sejak usia muda, memimpin ekspedisi dan berhadapan langsung dengan dinamika kekuasaan.

Ketika naik takhta pada 786 M, wilayah Islam telah membentang luas dari Samudra Atlantik hingga perbatasan China.

Kekuasaan Abbasiyah bukan hanya terbesar, tetapi juga terkuat pada masanya. Tantangan Harun bukan lagi menaklukkan wilayah, melainkan merawat sebuah imperium raksasa agar tetap stabil dan beradab.

Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam

Baghdad sebagai Jantung Peradaban Dunia

Dikutip dari buku Kejayaan Sang Khalifah Harun ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia pada Zaman Keemasan Islam karya Benson Bobrick, di bawah Harun al-Rasyid, Baghdad menjelma menjadi pusat peradaban dunia.

Kota itu bukan hanya ibu kota politik, tetapi simpul pertemuan ilmu, perdagangan, dan budaya.

Pedagang dari Timur dan Barat bertemu, gagasan lintas peradaban saling bertukar, dan ilmu pengetahuan berkembang pesat.

Meski Islam menyebar terutama melalui perang pada fase awal, kaum Muslim justru mencapai prestasi budaya yang luar biasa.

Hingga berabad-abad kemudian, peradaban Arab-Muslim memberi dampak mendalam terhadap Barat dari astronomi, geometri, aljabar, kedokteran, kimia, hingga ilmu pengetahuan alam lainnya.

Pengaruh itu merembes ke bidang teknik, mode berpakaian, persenjataan, hukum, musik, dan sastra.

Pada masa inilah, benih lembaga penerjemahan dan pengembangan ilmu yang kelak dikenal sebagai Baitul Hikmah mulai tumbuh, meski mencapai puncaknya pada era putranya, al-Ma’mun.

Kekuasaan dan Ketegangan Politik Istana

Namun kejayaan itu tidak lahir tanpa konflik. Di balik kemegahan Baghdad, ketegangan elite mengendap.

Episode paling dramatis adalah kejatuhan keluarga Barmakiyah, wazir berpengaruh yang sebelumnya menjadi tulang punggung administrasi Abbasiyah.

Penindakan terhadap Barmak menunjukkan sisi keras Harun al-Rasyid. Ia tegas, bahkan kejam, ketika merasa keseimbangan kekuasaan terancam.

Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai tanda rapuhnya relasi antara penguasa dan lingkar dalam istana, friksi internal yang kelak ikut melemahkan kekhalifahan.

Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil

Antara Kesalehan Pribadi dan Kemewahan Istana

Sumber-sumber klasik menggambarkan Harun al-Rasyid sebagai sosok yang rajin beribadah, gemar berhaji dan berjihad. Namun ia juga hidup dalam kemewahan istana, dikelilingi musik, sastra, dan hiburan.

Kontradiksi ini kerap dipandang sebagai kemunafikan. Padahal, ia mencerminkan realitas kepemimpinan sebuah imperium besar.

Harun hidup di persimpangan antara ideal moral Islam dan tuntutan simbolik kekuasaan global.

Ia saleh dalam keyakinan, tetapi politis dalam tindakan; sederhana dalam ibadah, namun megah dalam representasi negara.

Diplomasi Global dan Benturan Peradaban

Pada masa Harun al-Rasyid, dunia Islam tidak terisolasi. Ia menjalin hubungan diplomatik dengan Bizantium dan Eropa Barat. Hubungannya dengan Charlemagne menjadi simbol awal diplomasi lintas peradaban.

Perseteruan panjang antara Arab dan Bizantium tetap berlangsung, tetapi juga diiringi pertukaran hadiah, utusan, dan gagasan. Dunia saat itu sedang terhubung, dan Baghdad berdiri di pusatnya.

Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid

Warisan Keemasan dan Retaknya Masa Depan

Harun al-Rasyid wafat pada 809 M dalam sebuah ekspedisi. Sepeninggalnya, kekhalifahan Abbasiyah tidak runtuh seketika, tetapi mulai retak dari dalam.

Konflik antara putra-putranya membuka babak perang saudara, friksi internal yang secara perlahan melemahkan Baghdad hingga akhirnya jatuh berabad kemudian.

Namun sejarah tidak mengingat Harun al-Rasyid dari akhir itu semata. Ia dikenang sebagai simbol zaman keemasan Islam, ketika kekuasaan, ilmu, dan kebudayaan bertemu dalam satu pusat peradaban.

Kisah Harun al-Rasyid mengajarkan bahwa kejayaan tidak pernah lahir dari kesederhanaan semata, melainkan dari kemampuan merawat kompleksitas antara iman dan dunia, antara pena dan pedang.

Warisan itu, sebagaimana dicatat para sejarawan, terus bergema dalam peradaban manusia hingga hari ini.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Sejarah Baru New York: Zohran Mamdani Dilantik dengan Al-Qur’an Berusia Ratusan Tahun
Sejarah Baru New York: Zohran Mamdani Dilantik dengan Al-Qur’an Berusia Ratusan Tahun
Aktual
Profil KH Amal Fathullah Zarkasyi, Pimpinan Gontor yang Wafat Hari Ini
Profil KH Amal Fathullah Zarkasyi, Pimpinan Gontor yang Wafat Hari Ini
Aktual
Pimpinan Ponpes Gontor KH Amal Fathullah Zarkasyi Wafat, Ini Jadwal Lengkap Pemakaman
Pimpinan Ponpes Gontor KH Amal Fathullah Zarkasyi Wafat, Ini Jadwal Lengkap Pemakaman
Aktual
BPKH Pastikan Dana PK Haji Khusus 2026 Siap, Pencairan Tunggu Proses Administratif
BPKH Pastikan Dana PK Haji Khusus 2026 Siap, Pencairan Tunggu Proses Administratif
Aktual
Harun al-Rasyid: Kekuasaan, Ilmu, dan Wajah Ganda Sebuah Peradaban
Harun al-Rasyid: Kekuasaan, Ilmu, dan Wajah Ganda Sebuah Peradaban
Aktual
Abu Sufyan bin al-Harits: Dari Musuh Terdekat Menjadi Pembela Setia Nabi
Abu Sufyan bin al-Harits: Dari Musuh Terdekat Menjadi Pembela Setia Nabi
Aktual
Menag Soroti Tantangan AI bagi Umat Beragama di Era Perubahan Cepat
Menag Soroti Tantangan AI bagi Umat Beragama di Era Perubahan Cepat
Aktual
Isbat Nikah dalam Islam: Pengertian, Dasar Hukum, dan Kemaslahatannya
Isbat Nikah dalam Islam: Pengertian, Dasar Hukum, dan Kemaslahatannya
Aktual
Doa untuk Pemimpin: Amalan Sunyi yang Dampaknya Besar bagi Negeri
Doa untuk Pemimpin: Amalan Sunyi yang Dampaknya Besar bagi Negeri
Doa dan Niat
Doa untuk Negera yang Terluka, Dari Rakyat yang Masih Setia
Doa untuk Negera yang Terluka, Dari Rakyat yang Masih Setia
Doa dan Niat
Dzikir Penenang Hati: Hasbunallah wa Ni'mal Wakil
Dzikir Penenang Hati: Hasbunallah wa Ni'mal Wakil
Doa dan Niat
Contoh Zina yang Tidak Disadari dan Cara Menghindarinya
Contoh Zina yang Tidak Disadari dan Cara Menghindarinya
Doa dan Niat
Kalender Ramadhan 2026 Lengkap: Awal Puasa, Nuzulul Quran, hingga Perkiraan Lailatul Qadar
Kalender Ramadhan 2026 Lengkap: Awal Puasa, Nuzulul Quran, hingga Perkiraan Lailatul Qadar
Aktual
Perkiraan Awal Ramadhan 2026 Mulai Terbaca, Ini Tanggalnya
Perkiraan Awal Ramadhan 2026 Mulai Terbaca, Ini Tanggalnya
Aktual
Waspada! Gelombang Dingin Minus 2 Derajat Terjang 7 Wilayah di Arab Saudi
Waspada! Gelombang Dingin Minus 2 Derajat Terjang 7 Wilayah di Arab Saudi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com