KOMPAS.com - Menunaikan ibadah haji bukan hanya soal tiba di Tanah Suci, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas ibadah sepanjang perjalanan.
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul di kalangan jemaah adalah bagaimana melaksanakan shalat ketika berada di dalam pesawat?
Situasi di udara yang serba terbatas seringkali menimbulkan keraguan. Namun dalam ajaran Islam, kewajiban shalat tetap berlaku dalam kondisi apa pun, termasuk saat safar.
Justru dalam kondisi seperti inilah, syariat menghadirkan kemudahan (rukhsah) agar ibadah tetap dapat dijalankan tanpa memberatkan.
Baca juga: Kumpulan Doa Berangkat Haji Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Dalam fikih Islam, perjalanan jauh (safar) tidak menggugurkan kewajiban shalat. Hal ini ditegaskan dalam berbagai literatur klasik maupun kontemporer.
Dalam buku Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu: Panduan Doa dan Ibadah Haji Umroh karya Freddy Rangkuti dan Siti Haniah, disebutkan bahwa jemaah haji tetap wajib menunaikan shalat ketika waktunya telah tiba, termasuk saat berada di dalam pesawat.
Biasanya, maskapai yang melayani penerbangan haji juga memberikan pengumuman waktu shalat melalui pengeras suara.
Dalam kondisi tertentu, shalat bahkan dilakukan secara berjamaah dengan imam dari petugas haji.
Hal ini sejalan dengan prinsip dasar dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah An-Nisa ayat 101 yang memberikan keringanan berupa qashar (meringkas rakaat) bagi orang yang sedang dalam perjalanan.
Islam memberikan kemudahan bagi musafir melalui dua bentuk rukhsah utama, yaitu jamak dan qashar.
Dalam Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa, qashar adalah meringkas shalat yang berjumlah empat rakaat (Dzuhur, Ashar, Isya) menjadi dua rakaat.
Jamak adalah menggabungkan dua waktu shalat, seperti Dzuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya.
Namun, tidak semua shalat bisa dijamak. Shalat Subuh tetap harus dikerjakan pada waktunya dan tidak bisa digabungkan.
Keringanan ini menjadi solusi praktis bagi jemaah haji yang berada dalam penerbangan panjang lintas negara.
Salah satu tantangan utama shalat di pesawat adalah arah kiblat. Dalam kondisi normal, menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat. Namun dalam situasi terbatas seperti di pesawat, terdapat kelonggaran.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 115 disebutkan bahwa ke mana pun seseorang menghadap, di situlah wajah Allah.
Ayat ini menjadi dasar bahwa dalam kondisi darurat atau tidak memungkinkan, arah kiblat dapat disesuaikan dengan posisi.
Selain itu, hadis riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat di atas kendaraan mengikuti arah kendaraan tersebut.
Artinya, jemaah dapat melaksanakan shalat dengan posisi duduk di kursi dan mengikuti arah pesawat jika tidak memungkinkan berdiri atau berpindah tempat.
Baca juga: Tata Cara Shalat Jamak Qashar saat Safar, Lengkap dengan Syaratnya
Dalam kondisi tertentu, penggunaan air untuk berwudhu di pesawat bisa menjadi sulit—baik karena keterbatasan air, antrean panjang, maupun kondisi kesehatan.
Dalam situasi seperti ini, Islam memberikan solusi melalui tayamum sebagai bentuk keringanan (rukhsah).
Hal ini dijelaskan dalam berbagai kitab fikih, salah satunya Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, bahwa tayamum diperbolehkan ketika air tidak tersedia atau penggunaannya menimbulkan kesulitan.
Tayamum dimulai dengan niat di dalam hati untuk bersuci sebagai pengganti wudhu atau mandi wajib. Niat ini menjadi pembeda antara tayamum sebagai ibadah dan sekadar aktivitas biasa.
Tidak perlu dilafalkan, cukup dihadirkan dalam hati dengan kesadaran bahwa tayamum dilakukan untuk keperluan shalat.
Media tayamum adalah permukaan yang mengandung debu suci. Dalam konteks pesawat, jemaah dapat menggunakan permukaan seperti meja lipat, dinding kabin, atau bagian kursi yang diyakini terdapat debu tipis.
Dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah az-Zuhaili dijelaskan bahwa debu yang menempel pada benda padat tetap sah digunakan selama tidak tercampur najis.
Langkah berikutnya adalah menepukkan kedua telapak tangan secara ringan ke permukaan tersebut. Tidak perlu keras, cukup sebagai simbol mengambil debu.
Setelah itu, usapkan kedua tangan ke seluruh wajah secara merata. Ini menggantikan basuhan wajah dalam wudhu.
Kemudian, usapkan kedua tangan ke tangan yang lain. Dalam praktik yang umum, cukup sampai pergelangan tangan, meskipun sebagian ulama memperbolehkan hingga siku.
Setelah langkah tersebut, tayamum dianggap selesai dan jemaah dapat langsung melaksanakan shalat.
Perlu diingat, tayamum hanya berlaku untuk satu waktu shalat fardhu. Jika masuk waktu berikutnya, maka tayamum perlu diulang kembali jika kondisi masih sama.
Tayamum bukan pilihan utama, melainkan alternatif ketika benar-benar dibutuhkan. Oleh karena itu, jika air tersedia dan memungkinkan digunakan tanpa kesulitan berarti, maka wudhu tetap harus diutamakan.
Namun dalam kondisi safar seperti penerbangan haji yang panjang, tayamum menjadi bentuk kemudahan dari Allah agar ibadah tidak terabaikan.
Pelaksanaan shalat di pesawat pada dasarnya mengikuti rukun shalat seperti biasa, hanya saja disesuaikan dengan kondisi ruang dan keterbatasan gerak.
Shalat dimulai dengan niat di dalam hati sesuai waktu dan jenis shalat yang dikerjakan, baik itu qashar, jamak, atau keduanya. Setelah itu dilanjutkan dengan takbiratul ihram sambil mengangkat tangan semampunya.
Dalam kondisi duduk di kursi pesawat, takbir tetap sah dilakukan tanpa harus berdiri jika memang tidak memungkinkan.
Setelah takbir, jemaah dianjurkan membaca doa iftitah sebagaimana shalat biasa. Meski kondisi pesawat tidak selalu kondusif, upaya menghadirkan kekhusyukan tetap menjadi bagian penting dari ibadah.
Pembacaan Surah Al-Fatihah menjadi rukun yang tidak boleh ditinggalkan. Setelah itu dilanjutkan dengan surat pendek atau ayat Al-Qur’an lainnya.
Dalam situasi pesawat yang mungkin bising, bacaan dapat dilakukan secara lirih (sir) agar tetap fokus dan tidak mengganggu penumpang lain.
Jika tidak memungkinkan berdiri, rukuk dilakukan dengan cara membungkukkan badan ke depan.
Posisi rukuk dibuat lebih rendah dari posisi duduk biasa sebagai bentuk isyarat penghormatan.
Prinsipnya, selama gerakan menunjukkan perbedaan antara berdiri dan rukuk, maka hal itu sudah dianggap sah.
Setelah rukuk, jemaah kembali ke posisi duduk tegak sebagai pengganti i’tidal. Bacaan i’tidal tetap dilafalkan sebagaimana dalam shalat biasa.
Sujud dilakukan dengan membungkukkan badan lebih dalam dibandingkan rukuk. Ini menjadi penanda utama antara dua gerakan tersebut.
Dalam kondisi ideal, sujud memang dilakukan dengan meletakkan dahi di tempat sujud. Namun dalam pesawat, isyarat ini sudah cukup mewakili jika tidak memungkinkan secara fisik.
Posisi ini tetap dilakukan dalam keadaan duduk di kursi. Jemaah membaca doa di antara dua sujud sebagaimana biasanya, tanpa perlu berpindah posisi.
Setelah menyelesaikan satu rakaat, jemaah melanjutkan ke rakaat berikutnya dengan pola gerakan yang sama. Jika melakukan qashar, maka cukup dua rakaat untuk shalat yang biasanya empat rakaat.
Pada rakaat terakhir, jemaah membaca tasyahud akhir dalam posisi duduk, kemudian diakhiri dengan salam ke kanan dan kiri semampunya.
Baca juga: Niat dan Tata Cara Shalat Sunnah Safar, Bisa Dikerjakan Saat Hendak Mudik dan Kembali ke Perantauan
Selain memahami tata cara, jemaah juga perlu memperhatikan beberapa hal penting agar shalat tetap optimal meski dalam perjalanan panjang.
Perjalanan haji bukan sekadar mobilitas fisik, tetapi juga latihan spiritual. Menanamkan niat kuat untuk tetap menjaga shalat sejak sebelum keberangkatan akan membantu konsistensi selama di perjalanan.
Kesadaran ini penting karena kondisi lelah dan jet lag seringkali membuat seseorang menunda atau bahkan melupakan waktu shalat.
Perbedaan zona waktu menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, penting bagi jemaah untuk mengetahui jadwal shalat berdasarkan posisi pesawat.
Biasanya informasi ini diumumkan oleh petugas, namun memiliki acuan sendiri, baik dari aplikasi atau panduan manasik akan membuat jemaah lebih siap.
Islam memberikan kemudahan berupa jamak dan qashar, namun bukan berarti digunakan tanpa pemahaman.
Jemaah perlu mengetahui kapan boleh menjamak taqdim (di awal waktu) atau ta’khir (di akhir waktu), serta kapan harus tetap shalat pada waktunya seperti shalat Subuh.
Kenyamanan pakaian sangat berpengaruh terhadap kekhusyukan. Pakaian yang longgar, menutup aurat, dan tidak menghambat gerakan akan membantu jemaah menjalankan shalat dengan lebih baik.
Bagi perempuan, membawa mukena praktis sangat dianjurkan agar tidak kesulitan saat waktu shalat tiba.
Jika memungkinkan, jemaah sebaiknya menjaga wudhu sejak sebelum naik pesawat. Ini akan memudahkan ketika waktu shalat tiba.
Namun jika wudhu batal dan air sulit digunakan, tayamum menjadi solusi yang sah secara syariat. Memahami tata caranya sejak awal sangat penting agar tidak bingung saat dibutuhkan.
Kondisi perjalanan sering membuat seseorang menunda shalat. Padahal, menjaga waktu shalat adalah hal utama.
Jika sudah masuk waktu, sebaiknya segera ditunaikan dengan memanfaatkan rukhsah yang ada.
Lingkungan pesawat yang ramai, sempit, dan penuh aktivitas bisa mengganggu konsentrasi.
Namun justru di sinilah latihan kekhusyukan diuji—bagaimana tetap menghadirkan hati kepada Allah meski dalam kondisi yang tidak ideal.
Shalat di pesawat bukan sekadar solusi darurat, melainkan bukti bahwa Islam adalah agama yang fleksibel namun tetap tegas dalam prinsip. Kewajiban tidak dihapus, tetapi cara pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi.
Bagi jemaah haji, memahami tata cara ini menjadi bagian penting dari persiapan ibadah. Sebab perjalanan menuju Tanah Suci sejatinya sudah dimulai sejak langkah pertama meninggalkan rumah.
Di situlah nilai ibadah diuji, bukan hanya di Arafah atau di depan Ka’bah, tetapi juga di dalam kabin pesawat, ketika seorang hamba tetap menjaga hubungannya dengan Allah di tengah keterbatasan.
Dengan pemahaman yang baik, shalat di pesawat bukan lagi menjadi beban, melainkan kesempatan untuk merasakan kedekatan spiritual yang mungkin justru lebih dalam dari biasanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang