Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tata Cara Shalat di Pesawat untuk Jemaah Haji, Lengkap dengan Tayamum

Kompas.com, 21 April 2026, 10:47 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menunaikan ibadah haji bukan hanya soal tiba di Tanah Suci, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas ibadah sepanjang perjalanan.

Salah satu pertanyaan yang kerap muncul di kalangan jemaah adalah bagaimana melaksanakan shalat ketika berada di dalam pesawat?

Situasi di udara yang serba terbatas seringkali menimbulkan keraguan. Namun dalam ajaran Islam, kewajiban shalat tetap berlaku dalam kondisi apa pun, termasuk saat safar.

Justru dalam kondisi seperti inilah, syariat menghadirkan kemudahan (rukhsah) agar ibadah tetap dapat dijalankan tanpa memberatkan.

Baca juga: Kumpulan Doa Berangkat Haji Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya

Kewajiban Shalat Tetap Berlaku Saat di Pesawat

Dalam fikih Islam, perjalanan jauh (safar) tidak menggugurkan kewajiban shalat. Hal ini ditegaskan dalam berbagai literatur klasik maupun kontemporer.

Dalam buku Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu: Panduan Doa dan Ibadah Haji Umroh karya Freddy Rangkuti dan Siti Haniah, disebutkan bahwa jemaah haji tetap wajib menunaikan shalat ketika waktunya telah tiba, termasuk saat berada di dalam pesawat.

Biasanya, maskapai yang melayani penerbangan haji juga memberikan pengumuman waktu shalat melalui pengeras suara.

Dalam kondisi tertentu, shalat bahkan dilakukan secara berjamaah dengan imam dari petugas haji.

Hal ini sejalan dengan prinsip dasar dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah An-Nisa ayat 101 yang memberikan keringanan berupa qashar (meringkas rakaat) bagi orang yang sedang dalam perjalanan.

Rukhsah dalam Shalat: Jamak dan Qashar

Islam memberikan kemudahan bagi musafir melalui dua bentuk rukhsah utama, yaitu jamak dan qashar.

Dalam Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa, qashar adalah meringkas shalat yang berjumlah empat rakaat (Dzuhur, Ashar, Isya) menjadi dua rakaat.

Jamak adalah menggabungkan dua waktu shalat, seperti Dzuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya.

Namun, tidak semua shalat bisa dijamak. Shalat Subuh tetap harus dikerjakan pada waktunya dan tidak bisa digabungkan.

Keringanan ini menjadi solusi praktis bagi jemaah haji yang berada dalam penerbangan panjang lintas negara.

Menghadap Kiblat dan Posisi Shalat di Pesawat

Salah satu tantangan utama shalat di pesawat adalah arah kiblat. Dalam kondisi normal, menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat. Namun dalam situasi terbatas seperti di pesawat, terdapat kelonggaran.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 115 disebutkan bahwa ke mana pun seseorang menghadap, di situlah wajah Allah.

Ayat ini menjadi dasar bahwa dalam kondisi darurat atau tidak memungkinkan, arah kiblat dapat disesuaikan dengan posisi.

Selain itu, hadis riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat di atas kendaraan mengikuti arah kendaraan tersebut.

Artinya, jemaah dapat melaksanakan shalat dengan posisi duduk di kursi dan mengikuti arah pesawat jika tidak memungkinkan berdiri atau berpindah tempat.

Baca juga: Tata Cara Shalat Jamak Qashar saat Safar, Lengkap dengan Syaratnya

Tata Cara Tayamum di Pesawat bagi Jemaah Haji

Dalam kondisi tertentu, penggunaan air untuk berwudhu di pesawat bisa menjadi sulit—baik karena keterbatasan air, antrean panjang, maupun kondisi kesehatan.

Dalam situasi seperti ini, Islam memberikan solusi melalui tayamum sebagai bentuk keringanan (rukhsah).

Hal ini dijelaskan dalam berbagai kitab fikih, salah satunya Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, bahwa tayamum diperbolehkan ketika air tidak tersedia atau penggunaannya menimbulkan kesulitan.

1. Niat Tayamum dalam Hati

Tayamum dimulai dengan niat di dalam hati untuk bersuci sebagai pengganti wudhu atau mandi wajib. Niat ini menjadi pembeda antara tayamum sebagai ibadah dan sekadar aktivitas biasa.

Tidak perlu dilafalkan, cukup dihadirkan dalam hati dengan kesadaran bahwa tayamum dilakukan untuk keperluan shalat.

2. Menyiapkan Media Tayamum

Media tayamum adalah permukaan yang mengandung debu suci. Dalam konteks pesawat, jemaah dapat menggunakan permukaan seperti meja lipat, dinding kabin, atau bagian kursi yang diyakini terdapat debu tipis.

Dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah az-Zuhaili dijelaskan bahwa debu yang menempel pada benda padat tetap sah digunakan selama tidak tercampur najis.

3. Menepukkan Kedua Tangan ke Permukaan

Langkah berikutnya adalah menepukkan kedua telapak tangan secara ringan ke permukaan tersebut. Tidak perlu keras, cukup sebagai simbol mengambil debu.

4. Mengusap Wajah

Setelah itu, usapkan kedua tangan ke seluruh wajah secara merata. Ini menggantikan basuhan wajah dalam wudhu.

5. Mengusap Kedua Tangan hingga Pergelangan atau Siku

Kemudian, usapkan kedua tangan ke tangan yang lain. Dalam praktik yang umum, cukup sampai pergelangan tangan, meskipun sebagian ulama memperbolehkan hingga siku.

6. Tayamum Selesai dan Siap Shalat

Setelah langkah tersebut, tayamum dianggap selesai dan jemaah dapat langsung melaksanakan shalat.

Perlu diingat, tayamum hanya berlaku untuk satu waktu shalat fardhu. Jika masuk waktu berikutnya, maka tayamum perlu diulang kembali jika kondisi masih sama.

Catatan Penting Tayamum di Pesawat

Tayamum bukan pilihan utama, melainkan alternatif ketika benar-benar dibutuhkan. Oleh karena itu, jika air tersedia dan memungkinkan digunakan tanpa kesulitan berarti, maka wudhu tetap harus diutamakan.

Namun dalam kondisi safar seperti penerbangan haji yang panjang, tayamum menjadi bentuk kemudahan dari Allah agar ibadah tidak terabaikan.

Tata Cara Shalat di Pesawat bagi Jemaah Haji

Pelaksanaan shalat di pesawat pada dasarnya mengikuti rukun shalat seperti biasa, hanya saja disesuaikan dengan kondisi ruang dan keterbatasan gerak.

1. Memulai dengan Niat dan Takbiratul Ihram

Shalat dimulai dengan niat di dalam hati sesuai waktu dan jenis shalat yang dikerjakan, baik itu qashar, jamak, atau keduanya. Setelah itu dilanjutkan dengan takbiratul ihram sambil mengangkat tangan semampunya.

Dalam kondisi duduk di kursi pesawat, takbir tetap sah dilakukan tanpa harus berdiri jika memang tidak memungkinkan.

2. Membaca Doa Iftitah dengan Khusyuk

Setelah takbir, jemaah dianjurkan membaca doa iftitah sebagaimana shalat biasa. Meski kondisi pesawat tidak selalu kondusif, upaya menghadirkan kekhusyukan tetap menjadi bagian penting dari ibadah.

3. Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek

Pembacaan Surah Al-Fatihah menjadi rukun yang tidak boleh ditinggalkan. Setelah itu dilanjutkan dengan surat pendek atau ayat Al-Qur’an lainnya.

Dalam situasi pesawat yang mungkin bising, bacaan dapat dilakukan secara lirih (sir) agar tetap fokus dan tidak mengganggu penumpang lain.

4. Rukuk dengan Isyarat Membungkuk

Jika tidak memungkinkan berdiri, rukuk dilakukan dengan cara membungkukkan badan ke depan.

Posisi rukuk dibuat lebih rendah dari posisi duduk biasa sebagai bentuk isyarat penghormatan.

Prinsipnya, selama gerakan menunjukkan perbedaan antara berdiri dan rukuk, maka hal itu sudah dianggap sah.

5. I’tidal dengan Kembali ke Posisi Tegak

Setelah rukuk, jemaah kembali ke posisi duduk tegak sebagai pengganti i’tidal. Bacaan i’tidal tetap dilafalkan sebagaimana dalam shalat biasa.

6. Sujud dengan Membungkuk Lebih Dalam

Sujud dilakukan dengan membungkukkan badan lebih dalam dibandingkan rukuk. Ini menjadi penanda utama antara dua gerakan tersebut.

Dalam kondisi ideal, sujud memang dilakukan dengan meletakkan dahi di tempat sujud. Namun dalam pesawat, isyarat ini sudah cukup mewakili jika tidak memungkinkan secara fisik.

7. Duduk di Antara Dua Sujud

Posisi ini tetap dilakukan dalam keadaan duduk di kursi. Jemaah membaca doa di antara dua sujud sebagaimana biasanya, tanpa perlu berpindah posisi.

8. Rakaat Berikutnya Dilakukan dengan Pola yang Sama

Setelah menyelesaikan satu rakaat, jemaah melanjutkan ke rakaat berikutnya dengan pola gerakan yang sama. Jika melakukan qashar, maka cukup dua rakaat untuk shalat yang biasanya empat rakaat.

9. Tasyahud Akhir dan Salam

Pada rakaat terakhir, jemaah membaca tasyahud akhir dalam posisi duduk, kemudian diakhiri dengan salam ke kanan dan kiri semampunya.

Baca juga: Niat dan Tata Cara Shalat Sunnah Safar, Bisa Dikerjakan Saat Hendak Mudik dan Kembali ke Perantauan

Tips Shalat di Pesawat agar Tetap Sah dan Khusyuk

Selain memahami tata cara, jemaah juga perlu memperhatikan beberapa hal penting agar shalat tetap optimal meski dalam perjalanan panjang.

1. Menanamkan Niat dan Kesadaran Ibadah Sejak Awal

Perjalanan haji bukan sekadar mobilitas fisik, tetapi juga latihan spiritual. Menanamkan niat kuat untuk tetap menjaga shalat sejak sebelum keberangkatan akan membantu konsistensi selama di perjalanan.

Kesadaran ini penting karena kondisi lelah dan jet lag seringkali membuat seseorang menunda atau bahkan melupakan waktu shalat.

2. Memahami Jadwal Shalat Selama Penerbangan

Perbedaan zona waktu menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, penting bagi jemaah untuk mengetahui jadwal shalat berdasarkan posisi pesawat.

Biasanya informasi ini diumumkan oleh petugas, namun memiliki acuan sendiri, baik dari aplikasi atau panduan manasik akan membuat jemaah lebih siap.

3. Memanfaatkan Keringanan (Rukhsah) dengan Bijak

Islam memberikan kemudahan berupa jamak dan qashar, namun bukan berarti digunakan tanpa pemahaman.

Jemaah perlu mengetahui kapan boleh menjamak taqdim (di awal waktu) atau ta’khir (di akhir waktu), serta kapan harus tetap shalat pada waktunya seperti shalat Subuh.

4. Menggunakan Pakaian yang Mendukung Ibadah

Kenyamanan pakaian sangat berpengaruh terhadap kekhusyukan. Pakaian yang longgar, menutup aurat, dan tidak menghambat gerakan akan membantu jemaah menjalankan shalat dengan lebih baik.

Bagi perempuan, membawa mukena praktis sangat dianjurkan agar tidak kesulitan saat waktu shalat tiba.

5. Menjaga Wudhu atau Memahami Tayamum

Jika memungkinkan, jemaah sebaiknya menjaga wudhu sejak sebelum naik pesawat. Ini akan memudahkan ketika waktu shalat tiba.

Namun jika wudhu batal dan air sulit digunakan, tayamum menjadi solusi yang sah secara syariat. Memahami tata caranya sejak awal sangat penting agar tidak bingung saat dibutuhkan.

6. Tidak Menunda Shalat Hingga Keluar Waktu

Kondisi perjalanan sering membuat seseorang menunda shalat. Padahal, menjaga waktu shalat adalah hal utama.

Jika sudah masuk waktu, sebaiknya segera ditunaikan dengan memanfaatkan rukhsah yang ada.

7. Menjaga Fokus di Tengah Gangguan

Lingkungan pesawat yang ramai, sempit, dan penuh aktivitas bisa mengganggu konsentrasi.
Namun justru di sinilah latihan kekhusyukan diuji—bagaimana tetap menghadirkan hati kepada Allah meski dalam kondisi yang tidak ideal.

Menjaga Ibadah di Tengah Perjalanan

Shalat di pesawat bukan sekadar solusi darurat, melainkan bukti bahwa Islam adalah agama yang fleksibel namun tetap tegas dalam prinsip. Kewajiban tidak dihapus, tetapi cara pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi.

Bagi jemaah haji, memahami tata cara ini menjadi bagian penting dari persiapan ibadah. Sebab perjalanan menuju Tanah Suci sejatinya sudah dimulai sejak langkah pertama meninggalkan rumah.

Di situlah nilai ibadah diuji, bukan hanya di Arafah atau di depan Ka’bah, tetapi juga di dalam kabin pesawat, ketika seorang hamba tetap menjaga hubungannya dengan Allah di tengah keterbatasan.

Dengan pemahaman yang baik, shalat di pesawat bukan lagi menjadi beban, melainkan kesempatan untuk merasakan kedekatan spiritual yang mungkin justru lebih dalam dari biasanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Haji Tidak Selalu Mabrur, Ini Tanda dan Cara Agar Ibadah Diterima
Haji Tidak Selalu Mabrur, Ini Tanda dan Cara Agar Ibadah Diterima
Aktual
Tata Cara Shalat di Pesawat untuk Jemaah Haji, Lengkap dengan Tayamum
Tata Cara Shalat di Pesawat untuk Jemaah Haji, Lengkap dengan Tayamum
Aktual
Apa Saja Rukun Haji? Ini 6 Rukun Penentu Sah Ibadah Haji
Apa Saja Rukun Haji? Ini 6 Rukun Penentu Sah Ibadah Haji
Aktual
Kumpulan Doa Berangkat Haji Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Kumpulan Doa Berangkat Haji Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Dari Media Sosial ke Aksi Nyata, Kisah Penyelamatan ODGJ di Banyuwangi Ini Bikin Haru
Dari Media Sosial ke Aksi Nyata, Kisah Penyelamatan ODGJ di Banyuwangi Ini Bikin Haru
Aktual
Meninggalkan Wajib Haji: Sah atau Tidak Hajinya? Ini Penjelasan Lengkap, Termasuk Denda dan Keringanannya
Meninggalkan Wajib Haji: Sah atau Tidak Hajinya? Ini Penjelasan Lengkap, Termasuk Denda dan Keringanannya
Aktual
118 Hotel Disiapkan di Madinah, Siap Tampung 103 Ribu Jemaah Haji Indonesia 2026
118 Hotel Disiapkan di Madinah, Siap Tampung 103 Ribu Jemaah Haji Indonesia 2026
Aktual
Kapan Idul Adha 2026? Cek Tanggalnya dan Potensi Libur Panjang 6 Hari
Kapan Idul Adha 2026? Cek Tanggalnya dan Potensi Libur Panjang 6 Hari
Aktual
Hadapi Cuaca Ekstrem, Ini 7 Alat Pelindung Diri Wajib Bagi Jemaah Haji
Hadapi Cuaca Ekstrem, Ini 7 Alat Pelindung Diri Wajib Bagi Jemaah Haji
Aktual
Standar Ketat Haji 2026, Makanan Jemaah Dicek 3 Kali Sehari
Standar Ketat Haji 2026, Makanan Jemaah Dicek 3 Kali Sehari
Aktual
 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede Gunakan Fast Track Haji 2026, Jemaah Lebih Cepat Lewati Imigrasi
Embarkasi Jakarta-Pondok Gede Gunakan Fast Track Haji 2026, Jemaah Lebih Cepat Lewati Imigrasi
Aktual
 Satgas Haji Gagalkan 8 WNI Berangkat ke Tanah Suci Pakai Visa Non-Haji, Travel Nakal Diusut
Satgas Haji Gagalkan 8 WNI Berangkat ke Tanah Suci Pakai Visa Non-Haji, Travel Nakal Diusut
Aktual
Arab Saudi Siapkan Transportasi Haji 2026: 3,1 Juta Kursi dan 12.000 Penerbangan untuk Layani Tamu Allah
Arab Saudi Siapkan Transportasi Haji 2026: 3,1 Juta Kursi dan 12.000 Penerbangan untuk Layani Tamu Allah
Aktual
Kartu Nusuk untuk Haji 2026: Fungsi, Cara Pakai, dan Aturan Jika Kartu Hilang
Kartu Nusuk untuk Haji 2026: Fungsi, Cara Pakai, dan Aturan Jika Kartu Hilang
Aktual
Badan Karantina Kawal Distribusi Hewan Kurban via Tol Laut Jelang Idul Adha 2026
Badan Karantina Kawal Distribusi Hewan Kurban via Tol Laut Jelang Idul Adha 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com