KOMPAS.com – Umat Islam di Indonesia akan kembali menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah atau yang dikenal sebagai Lebaran Haji pada akhir Mei 2026.
Selain menjadi momentum ibadah yang sarat makna, Idul Adha juga menarik perhatian karena berpotensi menghadirkan libur panjang yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Pertanyaan yang banyak muncul, kapan tepatnya Idul Adha 2026 dan bagaimana susunan hari liburnya?
Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang hari libur nasional dan cuti bersama, pemerintah telah menetapkan bahwa Idul Adha 1447 Hijriah jatuh pada:
Penetapan ini menjadi acuan resmi bagi masyarakat dalam merencanakan aktivitas, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun perjalanan.
Sebagai salah satu hari besar umat Islam, Idul Adha memiliki posisi penting karena berkaitan langsung dengan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci serta tradisi penyembelihan hewan kurban.
Baca juga: Mei 2026 Banyak Libur! Ini Jadwal Cuti Selain Idul Adha dan Peluang Long Weekend
Yang menarik, susunan kalender pada akhir Mei hingga awal Juni 2026 memberikan peluang libur panjang hingga enam hari berturut-turut.
Jika masyarakat mengambil cuti pada Jumat, 29 Mei 2026, maka rangkaian liburnya menjadi:
Dengan susunan tersebut, masyarakat bisa menikmati waktu istirahat yang cukup panjang. Momentum ini biasanya dimanfaatkan untuk pulang kampung, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar beristirahat dari rutinitas harian.
Meski identik dengan libur panjang, Idul Adha sejatinya merupakan hari raya yang sarat nilai spiritual.
Ibadah kurban yang menjadi bagian utama perayaan ini mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa kurban merupakan bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah sekaligus sarana berbagi kepada sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat menjadi simbol nyata solidaritas sosial dalam Islam.
Tradisi ini masih sangat kuat dijalankan di Indonesia dan menjadi bagian dari budaya keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Baca juga: Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?
Penetapan Idul Adha tidak lepas dari sistem kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan. Oleh karena itu, tanggalnya selalu berubah setiap tahun dalam kalender Masehi.
Menurut buku Ilmu Falak karya Susiknan Azhari, awal bulan Zulhijah yang menjadi penentu Idul Adha, ditetapkan melalui metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Meskipun jadwal dalam SKB telah diumumkan, pemerintah biasanya tetap menggelar sidang isbat untuk memastikan penetapan resmi berdasarkan hasil pemantauan hilal.
Idul Adha menjadi momen yang tidak hanya penting secara religius, tetapi juga sosial. Selain melaksanakan salat Id dan kurban, masyarakat memanfaatkan waktu ini untuk mempererat hubungan keluarga dan lingkungan sekitar.
Libur panjang yang menyertainya menjadi kesempatan langka untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan kembali pada nilai-nilai kebersamaan.
Namun demikian, para ahli mengingatkan agar momen libur tidak menggeser esensi utama Idul Adha.
Seperti disebutkan dalam berbagai literatur keislaman, inti dari perayaan ini adalah ketakwaan dan keikhlasan dalam beribadah.
Baca juga: Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Dengan jadwal yang sudah jelas dan potensi libur panjang yang cukup ideal, masyarakat dapat mulai merencanakan kegiatan sejak dini. Baik untuk perjalanan, ibadah kurban, maupun aktivitas keluarga.
Perencanaan yang matang tidak hanya membuat libur lebih nyaman, tetapi juga memastikan bahwa momen Idul Adha tetap bermakna.
Idul Adha 2026 bukan sekadar hari raya, tetapi juga momentum spiritual yang berpadu dengan kesempatan libur panjang.
Dari tanggal 27 Mei hingga 1 Juni 2026, masyarakat berpotensi menikmati enam hari libur yang jarang terjadi.
Di balik panjangnya waktu istirahat, ada pesan yang tetap relevan, tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.
Dan mungkin, di situlah makna sejati Lebaran Haji, bukan hanya dirayakan, tetapi juga direnungkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang