Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Marak Konvoi Penjemputan Haji, Kemenhaj Sumenep Minta Warga Tidak Berlebihan

Kompas.com, 5 Juni 2026, 14:05 WIB
Nur Khalis,
Khairina

Tim Redaksi

SUMENEP, KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan penyambutan berlebihan terhadap jemaah haji yang akan kembali dari Tanah Suci dalam beberapa pekan ke depan, Jumat (5/6/2026).

Imbauan itu disampaikan, menyusul tradisi konvoi kendaraan roda dua maupun roda empat yang hampir selalu terjadi setiap musim pemulangan jemaah haji di Sumenep.

Kepala Kemenhaj Sumenep, Ahmad Halimy, mengatakan konvoi kendaraan untuk menjemput jemaah haji telah menjadi tradisi yang berlangsung dari tahun ke tahun. Namun, dia berharap kegiatan tersebut tidak dilakukan secara berlebihan, karena berpotensi mengganggu ketertiban lalu lintas.

"Konvoi memang sudah menjadi tradisi masyarakat saat menyambut jemaah haji. Tetapi kami berharap tidak dilakukan secara berlebihan," ucap Halimy kepada Kompas.com di Sumenep.

Baca juga: Tidak Hanya Air Zamzam, Boneka Unta Juga Jadi Oleh-oleh Favorit Jemaah Haji

Menurut dia, apabila tradisi tersebut sulit dihentikan, setidaknya jumlah kendaraan yang ikut konvoi dapat dibatasi, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi pengguna jalan lainnya.

Halimy menilai, penyambutan jemaah haji merupakan bentuk rasa syukur dan kebahagiaan keluarga maupun masyarakat. Namun, euforia tersebut tetap harus memperhatikan keselamatan dan kepentingan publik.

"Kami berharap kalau memang tetap dilakukan, minimal bisa dikurangi dan tidak melibatkan terlalu banyak kendaraan," tambahnya.

Halimy juga mengingatkan masyarakat agar tetap mematuhi aturan lalu lintas, selama melakukan penjemputan jemaah haji.

"Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama dibandingkan kemeriahan penyambutan," ungkapnya.

Baca juga: Indonesia Absen dari Penghargaan Haji Arab Saudi 2026, Ini Alasannya

Pihaknya meminta peserta konvoi tidak menggunakan jalan secara sembarangan, tidak melanggar rambu lalu lintas, serta tidak melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, Kemenhaj berharap aparat kepolisian melakukan langkah-langkah preventif, untuk mengantisipasi potensi gangguan lalu lintas selama masa pemulangan jemaah haji berlangsung.

Pengaturan lalu lintas dinilai penting, mengingat jumlah kendaraan yang terlibat dalam penjemputan sering kali cukup besar, terutama untuk jemaah yang berasal dari wilayah pedesaan.

"Kami berharap, ada pengawasan dan langkah pencegahan dari kepolisian, agar kegiatan penjemputan tetap tertib dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya," jelasnya.

Halimy menegaskan, tradisi penyambutan seharusnya menjadi momen kebahagiaan, bukan justru menimbulkan masalah baru di jalan raya.

Oleh karena itu, dia berharap masyarakat dapat menyambut kepulangan jemaah haji secara sederhana dan tertib.

"Kami tentu tidak ingin sampai terjadi kemacetan panjang yang merugikan pengguna jalan lain. Apalagi sampai menimbulkan kecelakaan dan memakan korban jiwa," ujar Halimy.

Diketahui, jemaah haji asal Sumenep dijadwalkan mulai tiba di Indonesia pada 21 Juni 2026. Sejumlah kloter asal Sumenep akan mendarat di Bandara Juanda Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah asal masing-masing.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar