Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Perbuatan yang Diam-Diam Menghapus Pahala Muslim, Ghibah hingga Riya

Kompas.com, 5 Juni 2026, 13:50 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap Muslim tentu berharap amal ibadah yang dilakukan menjadi tabungan pahala di hadapan Allah SWT.

Shalat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur'an, hingga berbagai kebaikan sosial dilakukan dengan harapan memperoleh ridha-Nya.

Namun, tidak sedikit orang yang luput menyadari bahwa ada sejumlah perbuatan yang justru dapat menghapus atau mengurangi pahala yang telah dikumpulkan dengan susah payah.

Yang membuat perkara ini semakin berbahaya adalah sebagian di antaranya sering dianggap sepele dan dilakukan berulang kali dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa menjaga amal tidak kalah penting dibanding memperbanyak amal itu sendiri.

Allah SWT menegaskan bahwa setiap kebaikan sekecil apa pun akan mendapat balasan. Dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7-8 disebutkan bahwa siapa saja yang melakukan kebaikan seberat zarrah akan melihat balasannya, begitu pula orang yang melakukan keburukan.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya dituntut rajin beribadah, tetapi juga menjaga agar pahala tersebut tidak rusak akibat perbuatan tertentu yang dilarang agama.

Lantas, apa saja perbuatan yang dapat menghapus pahala seorang Muslim?

Pentingnya Menjaga Amal Setelah Berbuat Baik

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang fokus pada bagaimana memperbanyak ibadah. Namun para ulama mengingatkan bahwa menjaga amal setelah dilakukan merupakan tugas yang tidak kalah berat.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal adalah munculnya sikap rendah hati dan keinginan untuk terus memperbaiki diri.

Sebaliknya, amal bisa terancam rusak apabila seseorang terjerumus dalam dosa yang merusak keikhlasan atau melanggar hak sesama manusia.

Hal serupa juga dijelaskan dalam buku Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.

Menurutnya, banyak orang beramal tetapi gagal menjaga buah dari amal tersebut karena terjerumus pada penyakit hati dan dosa lisan.

Berikut beberapa perbuatan yang perlu diwaspadai.

Baca juga: Cara Bertaubat Dari Dosa Ghibah Menurut Para Ulama

1. Mengungkit Sedekah dan Kebaikan yang Pernah Diberikan

Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Namun pahala sedekah dapat hilang apabila pemberinya terus-menerus mengungkit bantuan yang pernah diberikan.

Fenomena ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang membantu saudaranya, tetapi kemudian menceritakan bantuan tersebut kepada banyak orang atau mengingatkan penerima bantuan secara berulang.

Padahal, Allah SWT secara tegas memperingatkan hal ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 264. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa pahala sedekah dapat gugur apabila disertai sikap menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti hati penerima.

Dikutip dari buku 100 Kesalahan dalam Sedekah karya Reza Pahlevi Dalimuthe, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan seseorang setelah bersedekah adalah merasa berjasa kepada penerima bantuan.

Padahal hakikat sedekah adalah memberi karena Allah, bukan untuk memperoleh pujian atau pengakuan manusia.

Semakin tersembunyi sedekah dilakukan, semakin besar peluang seseorang menjaga keikhlasannya.

2. Ghibah atau Membicarakan Keburukan Orang Lain

Banyak orang mampu menjaga salat dan puasanya, tetapi tidak mampu menjaga lisannya.

Padahal, ghibah termasuk dosa yang sangat serius dalam Islam.

Allah SWT menggambarkan ghibah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 dengan perumpamaan yang sangat keras, yakni seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.

Perumpamaan ini menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut.

Dalam kitab Nashaihul 'Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani dijelaskan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang dapat menghilangkan amal saleh seseorang.

Beliau mengutip hadis yang menyebutkan bahwa ghibah dapat merusak pahala sebagaimana api membakar kayu bakar hingga habis.

Yang membuat ghibah berbahaya adalah karena sering dilakukan dalam suasana santai, pertemanan, grup percakapan, hingga media sosial.

Banyak orang tidak merasa sedang berbuat dosa ketika membahas aib atau kekurangan orang lain, padahal hal tersebut dapat menjadi penyebab berkurangnya pahala yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.

3. Bermaksiat Ketika Tidak Ada yang Melihat

Ada sebagian orang yang tampak saleh di hadapan manusia, tetapi berbeda ketika berada sendirian.

Mereka rajin beribadah di depan umum, namun diam-diam berani melanggar larangan Allah SWT ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui.

Rasulullah SAW memperingatkan bahaya perilaku ini dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah.

Beliau menjelaskan bahwa pada hari kiamat akan ada orang yang datang membawa pahala sebesar gunung.

Namun seluruh amal tersebut berubah menjadi debu karena mereka biasa melanggar larangan Allah ketika sedang sendirian.

Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Sa'id Hawwa dijelaskan bahwa salah satu ukuran keimanan seseorang adalah konsistensinya dalam menaati Allah baik di hadapan manusia maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Keikhlasan sejati justru tampak saat seseorang tetap menjaga diri dari maksiat meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya.

Karena itu, dosa-dosa tersembunyi tidak boleh dianggap ringan.

Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Sifat Riya Menurut Imam Al-Ghazali agar Ibadah Tetap Ikhlas

4. Hasad atau Dengki terhadap Nikmat Orang Lain

Penyakit hati sering kali lebih berbahaya dibanding kesalahan yang tampak secara fisik.

Salah satu penyakit hati yang paling merusak adalah hasad atau dengki.

Hasad muncul ketika seseorang merasa tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat, kesuksesan, kebahagiaan, atau kelebihan tertentu.

Dalam buku Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak karya Masan AF dijelaskan bahwa orang yang hasad selalu merasa terganggu dengan keberhasilan orang lain dan berharap nikmat tersebut hilang dari saudaranya.

Rasulullah SAW mengingatkan:

"Jauhilah sifat dengki, karena dengki memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan bahwa hasad bukan sekadar persoalan hati, melainkan ancaman nyata bagi pahala seseorang.

Di era media sosial, godaan hasad semakin besar. Melihat pencapaian orang lain, kehidupan yang tampak lebih baik, atau keberhasilan rekan kerja dapat memicu rasa iri apabila tidak disikapi dengan iman dan rasa syukur.

5. Berbuat Zalim kepada Sesama

Perbuatan zalim termasuk dosa yang paling berat karena berkaitan dengan hak manusia.

Seseorang mungkin rajin salat, puasa, dan bersedekah, tetapi apabila ia menyakiti, memfitnah, mengambil hak orang lain, atau merugikan sesama, maka amalnya bisa berpindah kepada orang yang dizalimi.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan tentang orang yang bangkrut pada hari kiamat.

Orang tersebut datang dengan pahala salat, puasa, dan zakat yang banyak. Namun karena pernah mencaci, memfitnah, memukul, atau mengambil hak orang lain, maka pahalanya diberikan kepada korban-korbannya.

Ketika pahala habis sementara hak manusia belum terbayar, dosa-dosa mereka justru dipindahkan kepadanya.

Hadis ini menunjukkan bahwa kebangkrutan sejati bukanlah kehilangan harta di dunia, melainkan kehilangan pahala di akhirat.

6. Riya' atau Beramal karena Ingin Dipuji Manusia

Tidak semua amal yang tampak baik bernilai pahala di sisi Allah SWT. Ada kalanya seseorang rajin beribadah, bersedekah, atau melakukan kebaikan, tetapi tujuan utamanya bukan karena Allah, melainkan agar dipuji, dihormati, atau mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Perilaku inilah yang dalam Islam disebut riya'. Secara bahasa, riya' berarti memperlihatkan amal kepada manusia agar memperoleh pujian atau kedudukan di mata mereka.

Padahal, inti dari seluruh ibadah dalam Islam adalah keikhlasan. Amal yang besar sekalipun dapat kehilangan nilainya apabila tidak dilandasi niat yang benar.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 4-6:

"Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya'."

Ayat tersebut menunjukkan bahwa riya' bukan hanya dapat mengurangi pahala, tetapi juga menjadi sifat yang sangat dicela oleh Allah SWT.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya'."

Dikutip dari buku Penyakit Hati dan Pengobatannya karya Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, riya' termasuk penyakit hati yang sangat halus. Sering kali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mencari pujian manusia ketika beribadah.

Di era media sosial, godaan riya' menjadi semakin besar. Aktivitas sedekah, ibadah, hingga amal sosial dapat dengan mudah dipublikasikan kepada banyak orang.

Tentu tidak semua publikasi amal termasuk riya', terutama jika bertujuan mengajak orang lain berbuat baik.

Namun, seorang Muslim tetap perlu memeriksa niatnya agar tidak bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari apresiasi manusia.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, orang yang beramal demi pujian manusia akan kehilangan ganjaran amalnya di sisi Allah.

Sebab, balasan yang ia cari telah diperolehnya di dunia berupa sanjungan dan pengakuan manusia.

Karena itu, para ulama menganjurkan agar seorang Muslim memperbanyak amal-amal tersembunyi yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT.

Semakin tersembunyi suatu amal, semakin besar peluang seseorang menjaga keikhlasannya dan terhindar dari penyakit riya' yang dapat menghapus pahala.

Baca juga: Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Tiga Penyakit Hati yang Merusak Amal Ibadah

Jangan Hanya Mengumpulkan Pahala, Jagalah Pahala Itu

Banyak orang berusaha memperbanyak amal saleh, tetapi lupa menjaga amal tersebut dari hal-hal yang dapat merusaknya.

Padahal dalam Islam, kualitas amal tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan menjaga keikhlasan, lisan, hati, dan hubungan dengan sesama manusia.

Mengungkit sedekah, ghibah, maksiat tersembunyi, hasad, dan kezaliman merupakan perbuatan yang tampak berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: semuanya dapat menjadi penyebab hilangnya pahala.

Karena itu, selain memperbanyak ibadah, setiap Muslim juga perlu melakukan muhasabah atau introspeksi diri secara rutin. Jangan sampai amal yang dikumpulkan selama bertahun-tahun justru habis karena dosa yang dianggap kecil.

Sebab pada akhirnya, yang paling dibutuhkan manusia bukan hanya banyaknya amal, melainkan amal yang tetap terjaga hingga mengantarkannya kepada ridha Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Aktual
3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
Aktual
Marak Konvoi Penjemputan Haji, Kemenhaj Sumenep Minta Warga Tidak Berlebihan
Marak Konvoi Penjemputan Haji, Kemenhaj Sumenep Minta Warga Tidak Berlebihan
Aktual
6 Perbuatan yang Diam-Diam Menghapus Pahala Muslim, Ghibah hingga Riya
6 Perbuatan yang Diam-Diam Menghapus Pahala Muslim, Ghibah hingga Riya
Aktual
Keutamaan Sedekah dalam Islam, Kisah Sayyidina Ali yang Mendapat Balasan Berlipat
Keutamaan Sedekah dalam Islam, Kisah Sayyidina Ali yang Mendapat Balasan Berlipat
Aktual
Tidak Hanya Air Zamzam, Boneka Unta Juga Jadi Oleh-oleh Favorit Jemaah Haji
Tidak Hanya Air Zamzam, Boneka Unta Juga Jadi Oleh-oleh Favorit Jemaah Haji
Aktual
Cara Sedekah Subuh di Rumah Tanpa Harus ke Masjid, Tetap Berpahala
Cara Sedekah Subuh di Rumah Tanpa Harus ke Masjid, Tetap Berpahala
Aktual
Setelah Sedekah Subuh, Bacalah Doa Ini agar Amal Lebih Sempurna
Setelah Sedekah Subuh, Bacalah Doa Ini agar Amal Lebih Sempurna
Doa dan Niat
Labbaytum Award 2026 Umumkan Pemenang, Indonesia Tak Masuk Daftar
Labbaytum Award 2026 Umumkan Pemenang, Indonesia Tak Masuk Daftar
Aktual
Panduan Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Menguburkan
Panduan Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Menguburkan
Aktual
Marmer Thassos, Rahasia Sistem Pendingin Alami Masjid Nabawi yang Bikin Nyaman Jemaah
Marmer Thassos, Rahasia Sistem Pendingin Alami Masjid Nabawi yang Bikin Nyaman Jemaah
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026 tentang Pancasila, Ini Nilai Islam dalam Lima Sila
Khutbah Jumat 5 Juni 2026 tentang Pancasila, Ini Nilai Islam dalam Lima Sila
Aktual
Transformasi Kultural Pelayanan Haji Indonesia
Transformasi Kultural Pelayanan Haji Indonesia
Aktual
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com