KOMPAS.com-Pemulasaraan jenazah menjadi bagian penting dalam pelayanan keagamaan bagi umat Islam.
Tugas ini tidak hanya berkaitan dengan teknis perawatan jenazah, tetapi juga termasuk pelaksanaan fardhu kifayah atau kewajiban kolektif umat Islam.
Pemandi jenazah memiliki peran mulia dalam menjaga kehormatan seorang Muslim pada akhir hayatnya.
Selain itu, proses pemulasaraan yang dilakukan dengan baik dapat membantu menenangkan keluarga yang ditinggalkan.
Baca juga: Seorang Jemaah Haji Asal Bengkulu Wafat, Jenazah akan Dimakamkan di Makkah
Penanganan pertama setelah wafat
Dilansir dari laman Kemenag, sebelum jenazah dimandikan, keluarga atau petugas perlu melakukan sejumlah langkah awal sebagai bentuk penghormatan.
Kelopak mata orang yang baru wafat dapat dipejamkan secara perlahan sambil didoakan.
Rahang atau dagu jenazah diikat ke bagian atas kepala menggunakan kain bersih agar mulut tidak terbuka akibat pelemasan otot.
Pakaian yang melekat pada tubuh jenazah dilepaskan secara hati-hati, lalu diganti dengan kain panjang dari dada hingga mata kaki agar aurat tetap terjaga.
Perhiasan, jam tangan, atau gigi palsu dapat dilepaskan jika memungkinkan.
Persendian jenazah juga diluruskan, dengan posisi tangan bersedekap di dada dan kaki diluruskan.
Baca juga: Ini Tuntunan Shalat Jenazah dan Shalat Ghaib, dari Niat hingga Salam
Tata cara memandikan jenazah
Proses memandikan jenazah atau ghusl dilakukan oleh petugas yang berjenis kelamin sama dengan jenazah.
Jenazah laki-laki dimandikan oleh laki-laki, sedangkan jenazah perempuan dimandikan oleh perempuan.
Pengecualian dapat berlaku apabila pemandian dilakukan oleh suami, istri, atau mahram dekat.
- Tempat memandikan jenazah harus tertutup dari pandangan umum untuk menjaga kehormatan jenazah dan menghindari fitnah.
- Tempat tersebut juga disarankan memiliki saluran pembuangan air yang memadai untuk menjaga kebersihan dan mencegah potensi penularan penyakit, bakteri, atau virus.
- Tubuh jenazah diletakkan di tempat pemandian dengan posisi kepala agak ditinggikan.
- Bagian perut ditekan secara lembut untuk mengeluarkan sisa kotoran, kemudian dibersihkan atau di-istinja-kan menggunakan sarung tangan.
- Pemandian dilakukan menggunakan air bersih yang dicampur sabun atau daun bidara untuk membersihkan kotoran.
- Penyiraman dimulai dari anggota wudhu dan bagian tubuh sebelah kanan.
- Bilasan terakhir menggunakan air yang dicampur kapur barus sebagai wewangian alami sekaligus untuk menjaga kebersihan.
- Pada akhir proses, petugas mewudhukan jenazah secara tertib sebagaimana orang yang hendak shalat.
Baca juga: Niat Shalat Jenazah Laki-laki dan Perempuan: Lengkap Arab, Latin, Artinya
Tata cara mengafani jenazah
- Setelah dimandikan, jenazah dikafani menggunakan kain putih bersih.
- Jenazah laki-laki membutuhkan tiga lapis kain kafan.
- Jenazah perempuan membutuhkan lima lapis kain kafan, meliputi kain basahan bawah, baju kurung, kerudung, dan dua lembar kain penutup luar.
- Tali pengikat biasanya disiapkan dalam jumlah ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh utas.
- Tali tersebut diletakkan di bawah kain kafan sebelum tubuh jenazah dibaringkan di atasnya.
- Posisi tali berada di atas kepala, bahu, dada atau perut, lutut, dan bawah telapak kaki.
- Kain kafan dan anggota tubuh untuk sujud, seperti dahi, hidung, telapak tangan, lutut, dan kaki, dapat diberi wewangian non-alkohol.
- Kapas bersih diletakkan pada bagian tubuh yang berlubang, seperti telinga dan hidung.
- Kain kafan kemudian dibalutkan selapis demi selapis secara rapi.
- Ikatan dibuat dengan simpul hidup di sisi kiri tubuh agar mudah dilepaskan ketika jenazah berada di dalam kubur.
Tata cara menshalati jenazah
- Shalat jenazah dilakukan tanpa rukuk dan sujud.
- Ibadah ini dilakukan dalam posisi berdiri dengan empat kali takbir.
- Jika jenazah laki-laki, imam berdiri sejajar dengan kepala jenazah.
- Jika jenazah perempuan, imam berdiri sejajar dengan perut atau pinggang jenazah.
- Posisi kepala jenazah selalu diletakkan di sebelah kanan imam.
- Pada takbir pertama, jamaah membaca Surat Al-Fatihah.
- Pada takbir kedua, jamaah membaca shalawat Nabi.
- Pada takbir ketiga, jamaah membaca doa untuk memohon ampunan dan rahmat bagi jenazah.
- Pada takbir keempat, jamaah membaca doa untuk kedamaian keluarga yang ditinggalkan serta jenazah, lalu diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri.
Tata cara menguburkan jenazah
- Penguburan atau al-dafn menjadi tahap akhir dalam pemulasaraan jenazah.
- Prosesi ini dilakukan untuk mengembalikan jasad ke tanah secara cepat, tertib, dan sederhana.
- Liang lahat dianjurkan memiliki kedalaman sekitar setinggi dada orang dewasa atau kurang lebih 1,5 meter.
- Pada liang tersebut dibuat ceruk khusus, baik berupa liang lahat samping maupun cempuri, agar jasad terlindungi dari bau dan gangguan binatang.
- Jenazah dimasukkan ke liang lahat secara perlahan, dimulai dari bagian kepala.
- Jasad kemudian diletakkan dalam posisi miring ke kanan, sehingga bagian dada dan wajah menghadap kiblat.
- Sebelum liang ditutup dengan papan kayu, seluruh tali pengikat kafan dilepaskan.
- Kain kafan di bagian pipi juga dibuka sedikit agar wajah jenazah dapat menempel langsung ke tanah.
- Bagian belakang kepala dapat disangga dengan gumpalan tanah agar posisi jenazah tidak berubah.
- Liang kemudian ditimbun kembali dengan tanah, dirapikan, dan diberi tanda berupa batu nisan atau gundukan kecil sekitar satu jengkal.
- Prosesi penguburan ditutup dengan doa bersama di atas kubur agar almarhum atau almarhumah diberikan keteguhan di alam kubur.
Tantangan pengurusan jenazah di masyarakat
Seperti ditulis Direktorat Urusan Agama Islam & Bina Syariah, Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam, dalam praktiknya, pengurusan jenazah di masyarakat masih menghadapi sejumlah kendala.
Tantangan pertama adalah kepanikan pihak keluarga pada jam-jam pertama setelah kematian.
Kondisi itu kerap terjadi karena keluarga belum memahami dasar-dasar fikih pengurusan jenazah sehingga merasa bingung dan pasrah sepenuhnya kepada petugas.
Tantangan kedua adalah masih kuatnya mitos dan tradisi lokal tertentu yang mempersulit proses pemulasaraan.
Beberapa tradisi bahkan dapat bertentangan dengan kemudahan syariat Islam, seperti menunda pemakaman demi ritual adat tertentu.
Tantangan lain berkaitan dengan fasilitas pemulasaraan jenazah di lingkungan masyarakat.
Masih banyak tingkat RT/RW yang belum memiliki alat pemandian jenazah yang layak maupun kesiapan kain kafan sesuai standar penanganan cepat.
Oleh karena itu, edukasi tentang tata cara pemulasaraan jenazah dan kesiapan fasilitas di lingkungan warga menjadi penting agar kewajiban fardhu kifayah dapat dilaksanakan dengan baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang