KOMPAS.com – Di balik kelancaran ibadah haji, ada satu aspek krusial yang kerap luput dari perhatian, kualitas konsumsi jemaah.
Menjelang kedatangan jemaah Indonesia di Madinah, pengawasan makanan menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan dan stamina selama menjalankan rangkaian ibadah.
Pemerintah Indonesia melalui tim pengawas dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung menerapkan sistem pengawasan berlapis yang ketat.
Setiap proses, mulai dari bahan mentah hingga makanan tersaji di tangan jemaah, diperiksa secara menyeluruh tanpa kompromi.
Baca juga: Jelang Haji 2026, Arab Saudi Tangkap 14 Ribu Pelanggar dalam Sepekan
Pengawasan konsumsi jemaah dilakukan dalam tiga tahap utama: pra produksi, proses produksi, dan distribusi.
Setiap tahap memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang harus dipenuhi oleh penyedia katering di Arab Saudi.
Pada tahap pra produksi, tim memastikan bahan makanan dalam kondisi segar dan layak konsumsi. Bahan kering maupun segar diperiksa secara berkala untuk menghindari risiko kerusakan.
Memasuki tahap produksi, pengawasan dilakukan langsung saat proses memasak berlangsung. Bahkan, untuk memastikan kualitas makan pagi, tim sudah mulai bekerja sejak dini hari.
“Pengecekan dilakukan tiga kali sehari mengikuti jadwal makan jemaah,” ujar Nova MH, Perwakilan tim pengawas Poltekpar NHI Bandung di Madinah dilansir dari laman resmi Kemenhaj RI, Senin (20/4/2026).
Sementara pada tahap distribusi, makanan dipastikan tetap dalam kondisi higienis hingga tiba di hotel tempat jemaah menginap.
Tak banyak yang tahu, proses penyediaan makanan jemaah haji dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Untuk makan pagi, pengawasan dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 04.00 waktu setempat.
Aktivitas ini menunjukkan betapa seriusnya upaya menjaga kualitas konsumsi jemaah. Setiap detail diperhatikan, mulai dari kebersihan dapur, proses pengolahan, hingga penyajian akhir.
Langkah ini menjadi bagian dari sistem besar yang dirancang oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dalam memastikan pelayanan terbaik bagi jemaah.
Baca juga: PPIH Pastikan Layanan Haji 2026 Siap, Jemaah Kloter Pertama Tiba 22 April di Madinah
Kondisi cuaca di Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri. Suhu tinggi berpotensi mempercepat penurunan kualitas makanan jika tidak ditangani dengan tepat.
Karena itu, suhu makanan saat distribusi menjadi perhatian penting. Makanan harus berada pada kisaran 60–70 derajat Celsius agar tetap aman dikonsumsi dan tidak mudah basi.
Jemaah pun diimbau untuk segera mengonsumsi makanan setelah diterima. Penundaan makan, meskipun dalam kondisi tertutup, dapat memengaruhi kualitas dan keamanan pangan.
Selain higienitas, kandungan gizi menjadi fokus utama. Menu disusun secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan energi jemaah selama menjalani ibadah yang padat.
Sumber protein disediakan dari daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe, menu khas Indonesia yang tetap dihadirkan untuk menjaga selera makan.
Karbohidrat berasal dari nasi dengan porsi terukur, sementara vitamin dan serat dipenuhi dari sayur dan buah seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang.
Tak hanya itu, variasi menu seperti puding juga ditambahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan serat harian.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip gizi seimbang yang dijelaskan dalam buku Ilmu Gizi dalam Daur Kehidupan karya Hardinsyah, yang menekankan pentingnya kombinasi nutrisi untuk menjaga daya tahan tubuh dalam aktivitas fisik intens.
Baca juga: Kebijakan Baru Arab Saudi, Sales Digaji Minimal Rp 23 Juta Per Bulan
Pengawasan konsumsi jemaah bukan hanya soal logistik, tetapi bagian penting dari keberhasilan ibadah haji secara keseluruhan.
Asupan yang sehat dan aman berkontribusi langsung pada kondisi fisik jemaah, sehingga mereka dapat menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan optimal.
Dalam konteks ibadah di Makkah dan Madinah, stamina menjadi faktor kunci. Aktivitas seperti tawaf, sa’i, hingga wukuf membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Dengan sistem pengawasan berlapis ini, pemerintah berharap jemaah haji Indonesia dapat menjalani ibadah dengan lebih nyaman dan tenang.
Standar ketat yang diterapkan menjadi bukti komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik di Tanah Suci.
Di balik setiap hidangan yang tersaji, ada kerja panjang yang dimulai sejak tengah malam, sebuah upaya sunyi demi memastikan jutaan langkah ibadah tetap kuat dan terjaga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang