Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengintip Menu Jemaah Haji di Dapur Katering Madinah, Tempe Jadi Andalan

Kompas.com, 21 April 2026, 17:32 WIB
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com — Layanan makanan untuk jemaah haji Indonesia di Daerah Kerja (Daker) Madinah 2026 akan menghadirkan suasana layaknya di rumah sendiri.

Jemaah akan mendapatkan total 27 kali makan selama sembilan hari masa tinggal di Madinah dengan penekanan khusus pada cita rasa otentik Nusantara.

Kepala Seksi Pelayanan Konsumsi Daker Madinah, Benny Darmawan menjelaskan, telah bekerja sama dengan 23 dapur yang telah melalui seleksi ketat oleh Kementerian Haji dan Umrah.

"Insya Allah, jemaah akan mendapatkan makan tiga kali sehari. Tahun ini kami menekankan pada cita rasa otentik Indonesia," kata Benny, Selasa (21/4/2026).

Baca juga: Promosi Haji Palsu Merebak, Arab Saudi Ingatkan Bahaya Biro Ilegal

Bumbu pasta dari Tanah Air

Untuk menjamin rasa yang konsisten di seluruh dapur penyedia, digunakan bumbu pasta asli yang didatangkan langsung dari Tanah Air.

Hal ini dilakukan agar rasa makanan yang disajikan tetap terjaga meski dimasak di dapur yang berbeda-beda.

"Bumbunya sudah tiba di dapur-dapur, tinggal pakai. Ada 23 jenis bumbu pasta yang kami siapkan. Jadi, meski dimasak di dapur berbeda, rasanya akan tetap sama," tambah Benny.

Selain faktor bumbu, sumber daya manusia di dapur juga menjadi perhatian utama.

Setiap dapur wajib memiliki minimal dua koki utama dan empat asisten masak dari Indonesia untuk memastikan teknik memasak sesuai dengan selera jemaah.

Tempe dan menu lintas wilayah

Salah satu primadona dalam daftar menu tahun ini adalah tempe.

Makanan yang menjadi favorit jemaah ini dijadwalkan hadir hingga lima kali dalam sepekan.

Kehadiran tempe bukan sekadar lauk, melainkan pengobat rindu akan kampung halaman.

Salah satu penyedia katering, Meez Marry, yang tahun ini melayani sekitar 10.000 jemaah, bahkan memproduksi tempe sendiri untuk menjaga kualitasnya.

Selain tempe, jemaah juga akan disuguhi ragam kuliner khas dari berbagai daerah, mulai dari rendang daging, ayam woku, hingga olahan khas Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Sunda.

Layanan khusus lansia

Banyaknya jemaah lanjut usia (lansia) membuat layanan konsumsi menyediakan opsi menu khusus berdasarkan permintaan.

Tekstur makanan bisa disesuaikan, seperti mengubah nasi menjadi bubur atau membuat lauk pauk menjadi lebih lunak agar mudah dicerna.

"Untuk lansia, sesuai kontrak jemaah bisa request menu khusus. Menunya sebenarnya sama, tapi nasinya dibuat bubur atau dibuat lebih lunak lagi," kata Benny.

Pemerintah menerapkan sistem pengawasan ganda yang sangat ketat untuk memastikan keamanan makanan.

Baca juga: 9–11 Jam di Pesawat saat Haji, Ini yang Boleh dan Dilarang Jemaah

Setiap sampel makanan akan diuji di tiga titik lokasi sebelum sampai ke tangan jemaah, yakni di dapur produksi untuk pengecekan kualitas bahan, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) untuk uji medis, serta di sektor pemondokan oleh petugas konsumsi lokal.

Benny menegaskan bahwa seluruh bahan baku dan juru masak sudah siap di gudang masing-masing dapur setidaknya 10 hari sebelum operasi puncak haji dimulai.

"Kami pastikan semua siap melayani jemaah dengan standar terbaik," pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Muhammadiyah Bedakan Mana Ajaran Islam yang Tetap dan Terbuka untuk Berubah
Muhammadiyah Bedakan Mana Ajaran Islam yang Tetap dan Terbuka untuk Berubah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar