KOMPAS.com – Nama Raden Ajeng Kartini kerap hadir setiap April, identik dengan kebaya dan seremoni.
Namun di balik itu, Kartini adalah simbol kegelisahan intelektual seorang perempuan yang ingin keluar dari keterbatasan menuju pencerahan.
Melalui gagasan besarnya, terutama yang terangkum dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan perempuan.
Pemikiran ini tidak hanya relevan secara sosial, tetapi juga memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam.
Baca juga: Jarang Dibahas, Saat Muslimah Pimpin Ilmu Dunia di Era Keemasan Islam
Kartini percaya bahwa perempuan harus berilmu agar mampu membentuk generasi yang berkualitas. Gagasan ini selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan ilmu sebagai jalan kemuliaan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Yarfa‘illāhul-lażīna āmanū minkum wallażīna ūtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr.
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menjadi fondasi bahwa keimanan dan ilmu adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Kartini, dengan segala keterbatasannya, telah lebih dahulu menangkap pesan besar ini dalam konteks sosial masyarakatnya.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan melalui hadis riwayat Ibnu Majah bahwa:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (termasuk Muslimah).”
Konsep emansipasi yang diperjuangkan Kartini sering disalahpahami sebagai kebebasan tanpa batas.
Padahal dalam perspektif Islam, kebebasan sejati adalah ketika manusia terbebas dari ketergantungan kepada selain Allah.
Dalam hal ini, Islam datang untuk memuliakan manusia, termasuk perempuan, dengan memberikan hak-hak yang adil tanpa keluar dari nilai tauhid.
Dengan demikian, perjuangan Kartini bukanlah bentuk perlawanan terhadap agama, melainkan sejalan dengan semangat Islam yang ingin membebaskan manusia dari kebodohan dan ketertinggalan.
Baca juga: 6 Pahlawan Muslimah Indonesia dan Perannya dalam Sejarah Kemerdekaan
Apa yang diperjuangkan Kartini memiliki akar kuat dalam sejarah Islam. Perempuan sejak awal telah memainkan peran penting dalam peradaban.
Khadijah binti Khuwailid adalah sosok pebisnis sukses yang mendukung dakwah Nabi. Sementara Aisyah binti Abu Bakar dikenal sebagai ulama besar yang menjadi rujukan ilmu bagi para sahabat.
Allah SWT juga menegaskan kesetaraan dalam amal dalam Surah An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Man ‘amila ṣāliḥan min żakarin au unṡā wa huwa mu’minun falanuḥyiyannahu ḥayātan ṭayyibah, wa lanajziyannahum ajrahum bi aḥsani mā kānū ya‘malūn.
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam bukan gender, melainkan iman dan amal.
Jika Kartini hidup di era keterbatasan akses, Muslimah hari ini justru hidup dalam kelimpahan informasi.
Namun, kelimpahan ini menghadirkan tantangan baru, banjir informasi, krisis identitas, hingga degradasi moral.
Dalam buku Perempuan, Quraish Shihab menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga nilai moral, terutama melalui keluarga.
Semangat Kartini di era ini tidak lagi sekadar membuka akses pendidikan, tetapi juga membangun literasi digital, kemampuan menyaring informasi dan menggunakan teknologi untuk kebaikan.
Baca juga: 9 Tokoh Perempuan Muslim Indonesia yang Menginspirasi hingga Dunia
Kartini memahami bahwa kemajuan bangsa dimulai dari perempuan yang berilmu. Dalam konteks modern, Muslimah memiliki peran yang semakin luas, di bidang pendidikan, ekonomi, hingga sosial.
Namun, peran tersebut tetap berpijak pada nilai dasar, yaitu menjadi manusia yang bermanfaat.
Dalam Dakwah Bil Qolam, dijelaskan bahwa perubahan sosial berawal dari kesadaran individu yang kemudian meluas menjadi gerakan kolektif. Kartini adalah contoh nyata dari proses tersebut.
Meneladani Kartini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghidupkan semangatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengajarkan bahwa perempuan harus berilmu, berani berpikir, dan memiliki integritas. Dalam Islam, ketiga hal ini menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban.
Pada akhirnya, perjuangan Kartini dan ajaran Islam bertemu dalam satu titik, yaitu membangun manusia yang utuh, cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan bermanfaat bagi sesama.
Dari sanalah, “terang” itu tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi jalan hidup bagi Muslimah masa kini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang