Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sosok KH Sholeh Darat, Ulama yang jadi Guru Spiritual RA Kartini

Kompas.com, 21 April 2026, 14:52 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Hari Kartini diperingati setiap 21 April sebagai momentum mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan.

Namun, di balik kiprahnya sebagai pahlawan nasional, terdapat kisah penting tentang pencarian ilmu agama yang jarang disorot.

Salah satu tokoh yang memberi kesan mendalam dalam hidup Kartini adalah ulama besar asal Semarang, KH Sholeh Darat.

Baca juga: Jejak Spiritual RA Kartini dan Kegelisahannya Saat Jadi Santriwati KH Sholeh Darat

Pertemuan keduanya disebut menjadi awal lahirnya tafsir Al Quran berbahasa Jawa yang bersejarah.

RA Kartini lahir pada 21 April 1879 dan wafat pada 17 September 1904. Dalam pergaulannya dengan berbagai kalangan, termasuk pejabat kolonial Belanda, Kartini dikenal sebagai sosok kritis dan haus ilmu.

Baca juga: Kartini Bukan Sekadar Simbol, Ini Peran Nyatanya bagi Muslimah Kini

Sikap itu juga terlihat ketika ia mendalami ajaran Islam. Dari sinilah hubungan intelektualnya dengan bermula.

Berikut sosok dan kisah KH Sholeh Darat, yang dirangkum dari laman Kompas.tv dan Kemenag.

Sosok KH Sholeh Darat dari Semarang

KH Sholeh Darat memiliki nama lengkap Muhammad Saleh atau Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani.

Ia lahir di Dukuh Kedung Jumbleng, Desa Ngroto Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.

Nama Darat sendiri diambil dari nama tempat tinggal Kyai Sholeh di pantai utara Semarang yang menjadi tempat berlabuh orang-orang luar Jawa yang berlabuh (mendarat).

Nama Darat ini kemudian diabadikan menjadi nama Kampung Darat yang terletak di Semarang Utara.

Kyai Sholeh Darat meninggal pada 18 Desember 1903 dalam usia 83 tahun dan dimakamkan di pemakanan umum Bergota, Semarang.

Dikutip dari Ensiklopedia Islam, Sholeh Darat merupakan putra KH Umar, seorang ulama yang pernah bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro.

Sejak kecil, ia belajar ilmu agama dari ayahnya dan para ulama di sekitarnya.

Saat remaja, ia berguru kepada KH Syahid, ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah.

Setelah itu, ayahnya membawa Saleh belajar kepada sejumlah kiai lain, seperti KH Asnawi Saleh Kudus, KH Ishaq Damaran, dan KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni yang merupakan mufti Semarang.

KH Sholeh Darat Menuntut Ilmu hingga ke Makkah

Usai menamatkan pendidikan di Semarang, Sholeh Darat diajak ayahnya ke Singapura lalu ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama.

Selama di Makkah, ia belajar bersama KH Muhammad Nawawi Banten atau Syekh Nawawi al Bantani dan KH Cholil Bangkalan. Pengalaman belajar di Tanah Suci memperkuat kapasitas keilmuannya sebagai ulama Nusantara.

Sekembalinya ke Semarang, ia mendirikan pesantren di kawasan Darat yang berada di pesisir Kota Semarang.

Dari pesantren itu, ia mengembangkan dakwah, menulis berbagai kitab, dan membina banyak murid.

Guru Para Tokoh Besar Islam Indonesia

KH Sholeh Darat dikenal memiliki banyak murid yang kemudian menjadi tokoh besar Islam di Indonesia.

Selain RA Kartini, murid-muridnya berasal dari kalangan ulama dan bangsawan.

Beberapa nama yang disebut pernah belajar kepadanya antara lain KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, KH Mahfuz pendiri Pondok Pesantren Termas Pacitan, serta KH Idris pendiri Pesantren Jamsaren Solo.

Kisah Kartini dan Kitab Terjemahan Al Quran Berbahasa Jawa

Salah satu kisah paling dikenal dari hubungan Kartini dan KH Sholeh Darat adalah dorongan Kartini agar Al Quran diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa.

Pada masa itu, hampir tidak ada kiai yang berani membuat terjemahan Al Quran karena masih dianggap tabu.

“Saya merasa perlu menyampaikan rasa terimakasih kepada romo kyai dan bersyukur yang sebesa-besarnya kepada Allah yang menerjemahkan surat al-fatihah ke dalam Bahasa Jawa sehingga mudah dipahami,” kata Kartini ketika mengikuti pengajian Sholeh Darat di Pendopo Kesultanan Demak.

Kartini mengaku sebelumnya tidak memahami makna Surat Al Fatihah yang sering dibaca.

"Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya. Tapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena Romo Kyai menjelaskannya dalam Bahasa Jawa yang saya pahami," katanya.

Hadiah Pernikahan KH Sholeh Darat untuk Kartini

Ketika Kartini menikah dengan R.M Joyodiningrat, Bupati Rembang, KH Sholeh Darat disebut memberikan hadiah pernikahan berupa kitab tafsir Faid-Rahman.

Faid ar-Rahman merupakan karya terjemahan dengan muatan tafsir yang ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon.

Nama Faid ar-Rahman sendiri, secara sederhana bermakna limpahan kasih sayang Tuhan yang di dalamnya tidak hanya menjelaskan makna Al-Qur’an secara eksplisit (zahir) namun juga implisit (batin).

Tafsir ini ditulis sesuai dengan urutan mushaf (tartib mushaf). Kitab tersebut dikenal sebagai tafsir Al Quran berbahasa Jawa pertama di Nusantara yang ditulis menggunakan huruf pegon.

Karya itu menjadi tonggak penting dalam penyebaran pemahaman Islam kepada masyarakat Jawa yang belum menguasai bahasa Arab.

Karya-Karya KH Sholeh Darat

Selain Faid-Rahman, KH Sholeh Darat juga menghasilkan sejumlah karya lain yang banyak dijadikan rujukan keilmuan.

Di antaranya Majmu’ah asy-Syariah al Kafiyah li al-Awwam, kitab tentang syariat bagi masyarakat awam.

Ia juga menulis Kitab al-Hikam, terjemahan dari karya Ibnu Athaillah As Sakandari, serta Kitab Asrar-as Salah yang membahas rahasia salat.

Warisan intelektualnya terus dikenang sebagai bagian penting sejarah Islam di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Ingatkan Jemaah Haji Tak Bawa Zamzam di Koper
Kemenhaj Ingatkan Jemaah Haji Tak Bawa Zamzam di Koper
Aktual
Doa untuk Orang Sakit agar Cepat Sembuh, Lengkap Arab dan Artinya
Doa untuk Orang Sakit agar Cepat Sembuh, Lengkap Arab dan Artinya
Doa dan Niat
Wamenhaj Minta Layanan Kesehatan Haji di Madinah Siaga Hadapi Jemaah Gelombang Kedua
Wamenhaj Minta Layanan Kesehatan Haji di Madinah Siaga Hadapi Jemaah Gelombang Kedua
Aktual
Jamaah Banyuwangi Wafat di Pemondokan Usai Jalani Ibadah di Armuzna
Jamaah Banyuwangi Wafat di Pemondokan Usai Jalani Ibadah di Armuzna
Aktual
Potensi Ziswaf Indonesia Tembus Rp343 Triliun, Sedekah Jadi Terbesar
Potensi Ziswaf Indonesia Tembus Rp343 Triliun, Sedekah Jadi Terbesar
Aktual
Reaksi Gus Irfan Lihat Jemaah Sulsel Berbaju Bling-bling di Bandara Jeddah: Ini Ciri Khas
Reaksi Gus Irfan Lihat Jemaah Sulsel Berbaju Bling-bling di Bandara Jeddah: Ini Ciri Khas
Aktual
5 Dzikir Pendek Berpahala Besar, Ringan di Lisan Berat di Timbangan
5 Dzikir Pendek Berpahala Besar, Ringan di Lisan Berat di Timbangan
Aktual
Mengapa Daging Dam Jemaah Haji Indonesia Tidak Dikirim ke Tanah Air? Ini Penjelasannya
Mengapa Daging Dam Jemaah Haji Indonesia Tidak Dikirim ke Tanah Air? Ini Penjelasannya
Aktual
Kenapa Makkah Disebut Tanah Haram? Ini Sejarah, Makna, dan Alasannya
Kenapa Makkah Disebut Tanah Haram? Ini Sejarah, Makna, dan Alasannya
Aktual
8 Dzikir dan Doa Ibu Hamil agar Anak Menjadi Saleh dan Berkah
8 Dzikir dan Doa Ibu Hamil agar Anak Menjadi Saleh dan Berkah
Aktual
3 Doa Menyambut Jamaah Haji Pulang dari Tanah Suci, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
3 Doa Menyambut Jamaah Haji Pulang dari Tanah Suci, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Aktual
Arab Saudi Hapus Paket D untuk Haji 2027, Ini Dampaknya bagi Jemaah
Arab Saudi Hapus Paket D untuk Haji 2027, Ini Dampaknya bagi Jemaah
Aktual
Kemenag Catat Sejarah Baru, 15 Perempuan Dilantik Jadi Kepala KUA
Kemenag Catat Sejarah Baru, 15 Perempuan Dilantik Jadi Kepala KUA
Aktual
Pedoman Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Pemakaman
Pedoman Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Pemakaman
Aktual
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com