Editor
KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan mengingatkan pentingnya kesiapan mental bagi jamaah haji 2026 selain persiapan fisik.
Menata ekspektasi dan menggunakan pendekatan holistik dinilai dapat menjadi kunci agar jamaah mampu menghadapi dinamika ibadah dengan lebih tenang.
Kondisi cuaca ekstrem, kepadatan jutaan jamaah, hingga aturan baru di Arab Saudi disebut dapat memicu tekanan psikologis. Karena itu, jamaah diminta mempersiapkan kesehatan jiwa sejak sebelum keberangkatan.
Baca juga: Kanwil Kemenhaj Jelaskan Alasan Calhaj yang Hamil 16-24 Minggu Tak Diberangkatkan ke Tanah Suci
Dilansir dari Antara, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan haji 2026 menjadi salah satu perhelatan spiritual terbesar dengan lebih dari 1,8 juta jamaah dari seluruh dunia, termasuk 221.000 jamaah asal Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 11.000 orang merupakan jamaah lanjut usia yang menghadapi tantangan lebih berat, baik secara fisik maupun mental.
Baca juga: Tata Cara Wudhu, Tayamum, dan Shalat di Pesawat untuk Panduan Jemaah Haji
"Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa. Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jamaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental," ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Laporan Kemenkes menunjukkan sekitar 10 hingga 15 persen jamaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa.
Sementara itu, gangguan tidur dialami oleh 30 hingga 40 persen jamaah akibat perubahan ritme sirkadian dan aktivitas ibadah yang padat.
Adapun menurut data dari Balai Pengobatan Haji Indonesia juga menegaskan bahwa lansia menjadi kelompok paling rentan, dengan 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat menunjukkan gejala demensia.
Imran menyoroti cuaca di Makkah saat ini mencapai rata-rata 35 hingga 38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah.
Kondisi tersebut dapat memicu dehidrasi, kelelahan, serta gangguan tidur pada jamaah.
Selain itu, aturan baru dari pemerintah Saudi yang lebih ketat terkait visa, akses ke Makkah, serta penggunaan aplikasi digital Nusuk menambah lapisan tekanan psikologis.
Kondisi ini terutama dirasakan jamaah yang kurang terbiasa dengan teknologi atau khawatir terkena sanksi bila melanggar aturan.
Pelaksanaan tawaf dan sa’i yang intens disebut dapat menimbulkan kelelahan emosional.
Sementara masa kepulangan juga menuntut adaptasi ulang setelah jamaah menjalani pengalaman spiritual yang intens.
Faktor lain seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, dan interaksi dalam kerumunan besar dapat menimbulkan rasa frustrasi hingga isolasi.
"Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jamaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani oleh harapan yang terlalu tinggi," katanya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kemenkes menilai pendekatan holistik sangat diperlukan.
Konseling pra-keberangkatan yang menyertakan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah dengan waktu istirahat cukup, serta perhatian terhadap hidrasi dan nutrisi menjadi strategi utama.
Praktik relaksasi, doa, dan zikir juga dinilai membantu menenangkan pikiran.
Selain itu, dukungan sosial dari sesama jamaah dapat menciptakan rasa kebersamaan yang meredakan kecemasan.
"Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," ujarnya.
Dengan kesiapan mental yang matang, ekspektasi realistis, disiplin mengikuti aturan, serta dukungan keluarga dan komunitas, ibadah haji 2026 diharapkan dapat dijalani dengan lebih tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang