Editor
KOMPAS.com - Di tengah padatnya arus kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Madinah, Arab Saudi, tersimpan kisah haru dari para petugas haji yang melayani tanpa pamrih.
Salah satu cerita datang dari Dita Prihastika, petugas Tugas dan Fungsi (Tusi) Lansia dan Disabilitas yang membantu jemaah lanjut usia saat tiba di Tanah Suci.
Ia kerap menangani jemaah dalam kondisi lemas setelah perjalanan panjang, bahkan membantu mengganti popok mereka.
Baca juga: PPIH Jelaskan Cara Membaca Kode Sektor Penginapan dan Nomor Hotel Jemaah Haji di Makkah
Pelayanan itu dilakukan demi memastikan jemaah lansia tetap nyaman sebelum melanjutkan perjalanan ke hotel.
Tanpa menunjukkan rasa lelah, Dita menjalankan tugas yang tidak ringan di area Terminal Haji Madinah.
Ia mengatakan banyak jemaah lansia tiba dalam kondisi kelelahan setelah penerbangan panjang.
Baca juga: Dedikasi PPIH Arab Saudi, Cek Makanan Tiga Kali Sehari demi Jaga Kesehatan Jemaah Haji
Menurut Dita, sebagian jemaah lanjut usia datang dengan kondisi popok penuh dan baru bisa dibersihkan setelah pesawat mendarat.
“Alhamdulillah, kita melayani dengan sepenuh hati, seperti melayani orang tua atau mbah kita sendiri,” ujarnya saat ditemui Tribun-Timur.com di Terminal Haji Madinah.
Dalam situasi tersebut, Dita bersama tim segera membawa jemaah ke toilet untuk dibersihkan dan dipersiapkan sebelum menuju hotel.
Dita mengaku tidak jarang harus menenangkan jemaah lansia yang merasa malu saat dibantu.
“Kadang mereka isin (malu), saya bilang, ‘Nggak apa-apa Mbah, ini anaknya Mbah’. Kita bantu ganti supaya bersih dan nyaman saat lanjut perjalanan ke hotel,” tuturnya.
Pendekatan tersebut dilakukan agar jemaah merasa tenang dan tetap nyaman menerima bantuan dari petugas.
Bagi Dita, momen paling berkesan justru datang setelah pelayanan selesai. Ia mengaku doa tulus dari jemaah lansia menjadi kekuatan tersendiri saat menjalankan tugas.
“Setiap membantu, selalu ada doa yang bikin hati tersentuh. Itu nikmat yang tidak bisa digambarkan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Menariknya, Dita bukan berasal dari latar belakang kesehatan. Ia merupakan lulusan Analisis Kimia dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Meski demikian, ia membekali diri dengan belajar mandiri, termasuk mengikuti kursus daring tentang penanganan lansia.
“Ilmu saya mungkin jauh dari pekerjaan ini, tapi bagi saya yang penting niatnya untuk melayani,” tegas perempuan asal Ambon tersebut.
Dita memastikan seluruh bantuan kepada jemaah diberikan tanpa pungutan biaya. Menurut dia, tugas sebagai petugas haji merupakan bentuk pengabdian kepada sesama.
“Kita tidak pernah mengambil satu sen pun. Saya hanya ingin bisa bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Petugas Haji Ikhlas Ganti Popok Lansia di Bandara Madinah, Kisah Haru di Balik Layanan Tanpa Pamrih".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang