KOMPAS.com – Menjelang musim haji, satu kebiasaan yang hampir selalu ditemui di tengah masyarakat Muslim Indonesia adalah “titip doa” kepada calon jemaah. Harapan yang diselipkan pun beragam, mulai dari urusan kesehatan, rezeki, hingga jodoh.
Bagi sebagian orang, praktik ini mungkin dianggap sekadar tradisi turun-temurun. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, titip doa ternyata memiliki akar historis dan teologis yang kuat dalam ajaran Islam, bahkan telah dikenal sejak masa Rasulullah SAW.
Lantas, bagaimana sebenarnya kedudukan tradisi ini? Apakah benar sudah ada sejak zaman Nabi? Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: 10 Waktu Mustajab untuk Berdoa dan Adab Agar Doa Dikabulkan Allah
Praktik menitipkan doa bukanlah hal baru dalam Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jami at-Tirmidzi, diceritakan bahwa Umar bin Khattab pernah meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan umrah.
Menariknya, Nabi justru berpesan:
“Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doamu dan jangan lupakan kami.”
Hadis ini menjadi dasar penting bahwa meminta doa kepada orang yang sedang melakukan perjalanan ibadah bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri yang mencontohkannya.
Dalam buku 200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa karya As-Samarqandi dijelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan adanya pengakuan terhadap keutamaan doa orang yang sedang berada dalam perjalanan ibadah, termasuk haji dan umrah.
Salah satu alasan kuat munculnya tradisi titip doa adalah keyakinan akan keutamaan tempat-tempat tertentu, khususnya di sekitar Ka’bah.
Di antara lokasi yang sering disebut adalah Multazam, area antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa doa yang dipanjatkan di tempat ini memiliki peluang besar untuk dikabulkan.
Meski para ulama berbeda pendapat mengenai derajat hadis terkait Multazam, banyak di antaranya tetap mengakui keutamaan berdoa di Tanah Suci secara umum. Hal ini juga diperkuat dalam literatur klasik seperti karya-karya ulama hadis dan fikih.
Menurut Imam An-Nawawi dalam berbagai penjelasannya, tempat dan waktu tertentu memang memiliki keistimewaan yang membuat doa lebih mustajab, selama tetap diiringi dengan keikhlasan dan adab yang benar.
Baca juga: Hukum Titip Doa ke Orang yang Berangkat Haji, Bolehkah dalam Islam? Ini Penjelasan Ulama
Jejak lain dari praktik ini dapat ditemukan dalam tradisi para sahabat yang mengantar orang-orang yang hendak bepergian, termasuk berhaji.
Dalam kitab Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi dijelaskan tentang sebuah tempat bernama Tsaniyatul Wada'.
Tempat ini dikenal sebagai lokasi perpisahan, di mana para sahabat melepas kepergian orang-orang yang akan melakukan perjalanan jauh.
Sementara itu, dalam kitab Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathal disebutkan bahwa di tempat tersebut, para sahabat tidak hanya mengantar, tetapi juga menitipkan doa kepada mereka yang berangkat haji atau berjihad.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa titip doa bukan sekadar budaya, melainkan bagian dari interaksi spiritual yang telah hidup sejak generasi awal Islam.
Secara umum, para ulama membolehkan bahkan menganjurkan praktik titip doa, selama tidak disertai keyakinan yang berlebihan atau menyimpang.
Dalam buku Fiqh Doa dan Dzikir karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa meminta didoakan oleh orang lain merupakan bentuk tawadhu (rendah hati) dan pengakuan atas keterbatasan diri.
Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa doa tetap ditujukan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada perantara.
Dengan kata lain, orang yang dititipi doa bukanlah “penentu” terkabulnya doa, melainkan hanya penyambung harapan.
Baca juga: MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya
Di Indonesia, tradisi titip doa berkembang menjadi bagian dari budaya religi yang khas. Namun, penting untuk menjaga esensinya agar tidak bergeser menjadi formalitas semata.
Titip doa seharusnya tidak hanya menjadi “daftar permintaan”, tetapi juga momentum untuk memperbaiki hubungan spiritual dengan Allah.
Sebab, pada akhirnya, setiap orang tetap memiliki akses langsung untuk berdoa tanpa perantara.
Tradisi titip doa kepada jemaah haji ternyata memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam. Dari hadis Nabi hingga praktik para sahabat, semuanya menunjukkan bahwa saling mendoakan adalah bagian dari ajaran yang dianjurkan.
Namun, yang paling penting bukanlah siapa yang menyampaikan doa itu, melainkan ketulusan hati dalam memanjatkannya.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan haji, mungkin ada satu hal sederhana yang sering terlupakan: bahwa doa terbaik tidak selalu harus dititipkan, kadang, ia cukup dipanjatkan dengan penuh keyakinan, di mana pun kita berada.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang