KOMPAS.com – Di tengah meningkatnya pengawasan dan pengelolaan jemaah haji secara digital, keberadaan kartu nusuk kini menjadi hal yang tidak bisa dianggap sepele.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengingatkan seluruh jemaah asal Indonesia untuk selalu membawa kartu tersebut setiap kali keluar dari hotel.
Imbauan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari sistem baru yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi untuk memastikan kelancaran, keamanan, dan keteraturan ibadah haji di tengah jutaan jemaah dari seluruh dunia.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaf, menegaskan bahwa kartu nusuk merupakan identitas resmi yang harus selalu melekat pada setiap jemaah.
“Selalu membawa kartu nusuk saat berpergian,” ujar Maria dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemenhaj, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, tanpa kartu tersebut, jemaah berpotensi mengalami kendala saat hendak memasuki kawasan tertentu, khususnya wilayah Makkah dan area Masjidil Haram yang menjadi pusat pelaksanaan ibadah.
Dalam praktiknya, petugas keamanan di berbagai titik akan melakukan pemeriksaan identitas secara berkala.
Jemaah yang tidak dapat menunjukkan kartu nusuk bisa ditolak masuk, bahkan diminta kembali ke penginapan.
Baca juga: 2 Pesawat Haji Tertunda Akibat Kendala Teknis, Ratusan Jemaah Terdampak
Kartu nusuk bukan hanya kartu identitas biasa. Di dalamnya terdapat kode batang (barcode) yang menyimpan berbagai data penting jemaah, mulai dari identitas pribadi hingga lokasi pemondokan.
Sistem ini memungkinkan petugas untuk melakukan pelacakan secara cepat jika terjadi masalah di lapangan, seperti jemaah tersesat, terpisah dari rombongan, atau membutuhkan bantuan medis.
“Jangan tinggalkan kartu nusuk dari diri Anda karena kartu nusuk sebagai nyawa kedua bagi jemaah,” tegas Maria.
Dalam konteks manajemen modern, sistem ini sejalan dengan konsep identifikasi digital yang dijelaskan dalam buku Digital Identity Management karya David Birch.
Ia menyebut bahwa integrasi data dalam satu sistem identitas mampu meningkatkan efisiensi layanan sekaligus memperkuat keamanan pengguna dalam mobilitas tinggi.
Selain mempermudah pelayanan, kartu nusuk juga memiliki fungsi penting sebagai alat verifikasi legalitas jemaah.
Dokumen ini menjadi pembeda antara jemaah resmi yang terdaftar melalui sistem pemerintah dengan pihak-pihak yang mencoba masuk secara ilegal.
Kartu tersebut diterbitkan oleh syarikah atau penyedia layanan haji yang bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi dan harus melalui proses aktivasi sebelum digunakan.
Dalam buku Hajj and Umrah Management karya Dr. Mansour Al-Harbi, dijelaskan bahwa pengendalian jemaah ilegal menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji modern.
Oleh karena itu, penggunaan sistem identitas seperti nusuk dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga ketertiban.
Baca juga: Musim Haji, Warga dari Negara-negara Ini Masih Boleh Umrah hingga 3 Mei
Tidak semua area di Tanah Suci dapat diakses secara bebas selama musim haji. Beberapa kawasan, terutama di sekitar Madinah dan Makkah, menerapkan sistem kontrol ketat berbasis identitas.
Kartu nusuk menjadi “kunci utama” untuk membuka akses ke layanan transportasi, akomodasi, hingga lokasi ibadah tertentu.
Tanpa kartu tersebut, jemaah berisiko kehilangan akses terhadap fasilitas penting, termasuk transportasi menuju lokasi ritual haji.
Hal ini menunjukkan bahwa kartu nusuk tidak hanya berfungsi administratif, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem ibadah yang terintegrasi.
Di balik aturan yang terkesan ketat, terdapat tujuan besar yang ingin dicapai, yakni menjaga keselamatan dan kenyamanan jemaah.
Dengan jumlah jemaah yang mencapai jutaan setiap tahun, pengelolaan berbasis teknologi menjadi kebutuhan mutlak.
Dalam perspektif transportasi dan manajemen massa, seperti dijelaskan dalam buku Managing Mega Events karya Guy Masterman, sistem identifikasi real-time sangat penting untuk mengurangi risiko kerumunan, kehilangan, hingga potensi insiden keamanan.
Dengan kata lain, kartu nusuk adalah bagian dari upaya preventif agar ibadah haji dapat berjalan lebih tertib dan aman.
Baca juga: Titip Doa ke Jemaah Haji, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Nabi
Meski bersifat teknis, imbauan untuk selalu membawa kartu nusuk juga mengandung pesan disiplin yang selaras dengan nilai-nilai ibadah haji itu sendiri.
Haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga latihan ketaatan terhadap aturan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai situasi.
Membawa kartu nusuk mungkin terlihat sederhana, namun di tengah jutaan manusia, hal kecil tersebut bisa menjadi penentu kelancaran perjalanan ibadah seseorang.
Peringatan dari PPIH Arab Saudi menjadi pengingat bahwa setiap detail dalam pelaksanaan haji memiliki peran penting.
Kartu nusuk bukan sekadar kartu identitas, melainkan bagian dari sistem yang menjaga keselamatan, keteraturan, dan kenyamanan seluruh jemaah.
Di tengah padatnya aktivitas di Tanah Suci, memastikan kartu tersebut selalu berada dalam genggaman bisa menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar.
Dan mungkin, dari kedisiplinan sederhana itulah, perjalanan ibadah menjadi lebih tenang, karena setiap langkah dijalani dengan kesiapan, baik secara fisik maupun mental.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang