KOMPAS.com – Kehilangan orang terkasih selalu meninggalkan ruang hampa yang sulit dijelaskan.
Ia tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga pertanyaan-pertanyaan batin yang kerap tak terjawab.
Dalam situasi seperti ini, Islam tidak hanya mengajarkan kesabaran, tetapi juga menghadirkan jalan spiritual untuk menenangkan hati melalui doa.
Di tengah duka, doa bukan sekadar rangkaian kata. Ia menjadi jembatan antara rasa kehilangan dan harapan, antara luka dan keikhlasan.
Dalam ajaran Islam, kematian adalah ketetapan yang pasti. Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan semua akan kembali kepada Allah SWT.
Namun, menerima kenyataan tersebut tidak selalu mudah. Rasa sedih adalah hal manusiawi. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pun pernah menangis saat ditinggal orang yang dicintainya.
Ini menunjukkan bahwa berduka bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari fitrah manusia.
Yang menjadi pembeda adalah bagaimana seseorang mengelola kesedihan itu, apakah larut dalam keputusasaan atau menjadikannya jalan mendekat kepada Allah.
Baca juga: Mengapa Doa Bisa Membuat Hati Lebih Tenang? Ini 5 Doa Sabar dan Ikhlas yang Dianjurkan
Salah satu amalan yang dianjurkan ketika menghadapi musibah adalah berdoa. Doa menjadi sarana untuk memohon kekuatan, keteguhan hati, serta keikhlasan menerima takdir.
Dalam hadis riwayat Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud, terdapat doa yang sering dibaca dalam konteks kematian:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ
Allahummaghfir lihayyinaa wa mayyitinaa, wa syaahidinaa wa ghaa-ibinaa, wa shaghiirinaa wa kabiirinaa, wa dzakarinaa wa untsaanaa. Allahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaam, wa man tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaan.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah orang yang masih hidup di antara kami dan yang telah meninggal, yang hadir maupun yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, laki-laki maupun perempuan. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkanlah dalam keadaan Islam, dan siapa yang Engkau wafatkan, wafatkanlah dalam keadaan iman.”
Doa ini bukan hanya permohonan untuk yang telah wafat, tetapi juga pengingat bahwa kehidupan dan kematian berada dalam kuasa Allah sepenuhnya.
Selain doa untuk almarhum, Islam juga mengajarkan doa untuk diri sendiri—agar diberi ketenangan dan kemampuan menerima takdir.
Salah satu doa yang sering diamalkan adalah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْث
Yaa hayyu yaa qayyuumm. Bi rahmatika astaghiiths.
Artinya: “Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.”
Doa ini singkat, namun sarat makna. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi paling rapuh sekalipun, manusia masih memiliki tempat bergantung.
Ada pula doa yang lebih panjang, yang secara khusus memohon ketenangan jiwa:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang yakin akan perjumpaan dengan-Mu, yang ridha terhadap ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.”
Doa ini mencerminkan puncak spiritualitas dalam menghadapi kehilangan, menerima dengan ridha, bukan sekadar pasrah.
Baca juga: Ikhlas dalam Islam: Pengertian, Keutamaan, dan Hikmah Menerima Ketetapan Allah
Sering kali, keikhlasan dianggap sebagai sesuatu yang harus hadir seketika. Padahal dalam kenyataannya, ikhlas adalah proses panjang.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketenangan hati (طمأنينة النفس) tidak datang secara instan, melainkan melalui latihan spiritual yang berulang, salah satunya melalui doa dan dzikir.
Menurutnya, hati manusia akan menemukan ketenangan ketika ia mampu melihat setiap peristiwa sebagai bagian dari kehendak Allah, bukan semata-mata kehilangan yang menyakitkan.
Menariknya, praktik berdoa juga mendapat perhatian dalam kajian psikologi modern. Dalam buku The Power of Now, Eckhart Tolle menjelaskan bahwa penerimaan terhadap kenyataan adalah kunci utama untuk keluar dari penderitaan batin.
Dalam konteks Islam, doa menjadi bentuk konkret dari penerimaan tersebut. Ia membantu seseorang mengalihkan fokus dari “mengapa ini terjadi” menjadi “bagaimana saya menghadapinya.”
Doa juga memberi ruang untuk mengekspresikan emosi secara sehat, tanpa harus menekan atau melarikan diri dari rasa duka.
Baca juga: Doa dan Dzikir Sebelum Tidur: Amalan Sunnah agar Malam Lebih Tenang dan Dilindungi Allah
Bagi sebagian orang, doa mungkin terasa sederhana. Namun bagi mereka yang sedang berduka, doa bisa menjadi penopang yang menjaga agar hati tidak runtuh sepenuhnya.
Ia menjadi cara untuk tetap terhubung, bukan hanya dengan Allah, tetapi juga dengan harapan bahwa setiap perpisahan bukanlah akhir.
Pada akhirnya, kehilangan adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa dihindari. Namun, di balik rasa sakit itu, selalu ada ruang untuk tumbuh menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih dekat dengan Allah.
Doa tidak menghapus kesedihan secara instan, tetapi ia memberi arah, memberi makna, dan perlahan menenangkan hati.
Dan mungkin, di antara lantunan doa yang lirih itu, ada ketenangan yang mulai tumbuh pelan, namun pasti.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang