KOMPAS.com – Di balik kemegahan Masjid Nabawi, terdapat sebuah ruang sederhana yang menyimpan sejarah besar umat Islam.
Ruangan itu bukan sekadar bagian dari masjid, melainkan tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad bersama dua sahabat terdekatnya.
Tak banyak yang menyadari, lokasi ini dulunya adalah kamar pribadi Rasulullah SAW bersama istrinya, Aisyah.
Dari ruang sederhana inilah, jejak cinta, persahabatan, dan pengabdian abadi terukir hingga hari ini.
Dua sahabat yang dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah SAW adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Kedekatan mereka bukan hanya saat hidup, tetapi berlanjut hingga wafat. Ketiganya dimakamkan dalam satu ruangan yang kini berada di area Raudhah, bagian dari Masjid Nabawi yang dikenal sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa.
Dalam banyak literatur sejarah Islam, posisi ini bukan kebetulan. Ia merupakan simbol kedekatan spiritual dan peran besar keduanya dalam mendampingi Rasulullah SAW sejak awal dakwah hingga Islam berkembang luas.
Baca juga: Cara Resmi Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Wajib Tahu
Saat Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 Hijriah, para sahabat sempat berbeda pendapat tentang lokasi pemakamannya. Ada yang mengusulkan di masjid, di mimbar, bahkan di tempat beliau biasa memimpin shalat.
Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang membawa penjelasan yang menenangkan. Ia menyampaikan hadis yang pernah didengarnya:
“Tidaklah seorang nabi wafat kecuali dimakamkan di tempat ia wafat.” (HR Tirmidzi)
Riwayat ini menjadi titik temu perbedaan pendapat. Rasulullah SAW akhirnya dimakamkan di kamar Aisyah, tempat beliau menghembuskan napas terakhir.
Dalam buku Mengais Berkah di Bumi Sang Rasul karya Ahmad Hawassy dijelaskan bahwa keputusan ini tidak hanya mengikuti hadis, tetapi juga menjaga kesakralan dan penghormatan terhadap jasad Nabi.
Dua tahun setelah wafatnya Rasulullah, umat Islam kembali berduka. Khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq, wafat dalam usia 63 tahun.
Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai sahabat paling setia. Ia mendampingi Rasulullah dalam berbagai momen penting, termasuk hijrah dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa yang menjadi tonggak sejarah Islam.
Dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya J. Suyuthi disebutkan bahwa Abu Bakar adalah figur yang selalu membenarkan setiap perkataan Rasulullah, sehingga mendapat gelar Ash-Shiddiq.
Sebelum wafat, ia memiliki satu harapan sederhana, dimakamkan di sisi Rasulullah. Permintaan itu dikabulkan dan kini makamnya berada tepat di belakang Rasulullah SAW.
Baca juga: Mengapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Maknanya
Sekitar sepuluh tahun kemudian, sejarah Islam kembali diuji. Umar bin Khattab, khalifah kedua yang dikenal tegas dan adil, wafat setelah mengalami penikaman saat hendak memimpin salat Subuh.
Peristiwa tragis itu terjadi pada tahun 23 Hijriah, ketika seorang budak bernama Abu Lulu’ah menikamnya.
Meski dalam kondisi kritis, Umar masih memikirkan satu hal, tempat peristirahatan terakhirnya.
Ia meminta izin kepada Aisyah untuk dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar.
Awalnya, tempat itu telah disiapkan Aisyah untuk dirinya sendiri. Namun dengan penuh keikhlasan, ia memberikan tempat tersebut kepada Umar.
Momen ini menggambarkan betapa dalamnya rasa cinta dan penghormatan para sahabat kepada Rasulullah SAW.
Posisi makam ketiga tokoh besar ini memiliki susunan yang khas dan penuh makna.
Dalam buku Utsman bin Affan RA karya Abdul Syukur Al-Azizi dijelaskan bahwa:
Susunan ini mencerminkan kesinambungan kepemimpinan dan kedekatan mereka, baik secara fisik maupun spiritual.
Baca juga: Panduan Menyimpan Sandal di Masjid Nabawi agar Tidak Hilang dan Tertukar
Kebersamaan Rasulullah SAW dengan Abu Bakar dan Umar bukan hanya kisah sejarah, tetapi juga pelajaran tentang persahabatan, loyalitas, dan pengabdian.
Dalam buku Ar-Raheeq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah) karya Safiur Rahman Al-Mubarakpuri, dijelaskan bahwa keberhasilan dakwah Islam tidak lepas dari peran sahabat-sahabat utama yang selalu berada di sisi Rasulullah.
Kedekatan mereka hingga ke liang lahat menjadi simbol bahwa hubungan yang dibangun atas dasar iman dan perjuangan akan tetap abadi.
Kini, area makam Rasulullah SAW berada dalam ruang tertutup yang dijaga dengan sangat ketat. Jemaah hanya dapat berziarah dari luar sambil mengirimkan salam.
Meski tak bisa melihat langsung, jutaan umat Islam dari seluruh dunia tetap datang dengan rasa haru dan rindu.
Di tempat itulah, sejarah besar Islam bersemayam—bukan dalam kemegahan, tetapi dalam kesederhanaan yang penuh makna.
Kisah tentang siapa yang dimakamkan di samping Rasulullah SAW bukan sekadar informasi sejarah.
Ia adalah cerminan nilai-nilai utama dalam Islam, kesetiaan, pengorbanan, dan cinta kepada kebenaran.
Abu Bakar dan Umar tidak hanya dekat secara fisik dengan Rasulullah, tetapi juga dekat dalam iman dan perjuangan.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya bahwa kedekatan sejati bukan hanya tentang jarak, tetapi tentang kesamaan tujuan dalam mengabdi kepada Allah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang