KOMPAS.com - Fase Armuzna, singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina—menjadi salah satu rangkaian paling penting sekaligus paling melelahkan dalam ibadah haji.
Pada fase inilah jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak hampir bersamaan menuju lokasi-lokasi utama puncak haji.
Mobilitas tinggi, cuaca panas, kepadatan manusia, hingga keterbatasan ruang membuat persiapan barang bawaan menjadi hal yang tidak bisa dianggap sepele.
Tidak sedikit jemaah yang mengalami kelelahan berlebih karena membawa terlalu banyak barang saat Armuzna.
Padahal, semakin ringan bawaan, semakin mudah pula jemaah bergerak dan menjaga kondisi fisik selama menjalankan rangkaian ibadah.
Karena itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama dan petugas haji terus mengingatkan agar jemaah hanya membawa perlengkapan penting secukupnya.
Barang bawaan sebaiknya benar-benar dipilih berdasarkan kebutuhan utama selama berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Baca juga: Asuransi Haji Tanggung Heat Stroke Saat Armuzna, Berlaku 8-13 Dzulhijjah
Fase Armuzna biasanya berlangsung selama beberapa hari dan menjadi puncak seluruh proses ibadah haji.
Jemaah akan bergerak dari Makkah menuju Arafah untuk wukuf, kemudian bermalam di Muzdalifah, lalu melanjutkan perjalanan ke Mina untuk mabit dan melontar jumrah.
Perjalanan tersebut dilakukan dalam kondisi cuaca Arab Saudi yang sangat panas. Pada musim haji, suhu di kawasan Makkah dan sekitarnya bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius pada siang hari. Di sisi lain, kepadatan jutaan jemaah membuat ruang gerak menjadi terbatas.
Dalam buku Manasik Haji dan Umrah karya KH Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa fase Armuzna bukan hanya menguji kesiapan ibadah, tetapi juga daya tahan fisik dan mental jemaah.
Oleh karena itu, pengaturan energi dan perlengkapan menjadi bagian penting agar ibadah dapat berjalan lancar.
Hal senada juga dijelaskan dalam buku Fiqih Haji karya Syaikh Yusuf Al-Qaradawi yang menyebutkan bahwa kemudahan dan tidak memberatkan diri sendiri merupakan prinsip penting dalam pelaksanaan ibadah haji, terutama di tengah kondisi jutaan manusia yang berkumpul di satu tempat.
Baca juga: Jadwal Pembagian dan Menu Makanan Jemaah Jelang Puncak Haji di Armuzna
Setiap jemaah haji Indonesia biasanya telah dibekali tas Armuzna berupa ransel khusus. Tas ini dirancang untuk memuat perlengkapan pokok selama fase puncak haji tanpa harus membawa koper tambahan.
Petugas haji mengimbau agar jemaah tidak membawa terlalu banyak barang, apalagi memasukkan oleh-oleh ke dalam tas Armuzna.
Selain membuat beban semakin berat, hal itu juga berpotensi menyulitkan mobilitas jemaah selama berpindah lokasi.
Tas Armuzna idealnya hanya diisi barang yang benar-benar diperlukan selama ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Selain ransel Armuzna, jemaah juga disarankan membawa tas selempang kecil untuk menyimpan barang-barang penting yang harus mudah dijangkau setiap saat.
Beberapa barang yang sebaiknya disimpan di tas selempang dilansir dari akun Instagram Kanwil Kemenhaj Provinsi Bengkulu antara lain:
Ponsel menjadi alat komunikasi penting selama fase Armuzna. Jemaah dapat menghubungi ketua rombongan, keluarga, atau sesama anggota kloter jika terpisah.
Kartu identitas haji wajib selalu dibawa untuk memudahkan proses identifikasi jika jemaah tersesat atau membutuhkan bantuan petugas.
Jemaah cukup membawa uang seperlunya agar lebih aman dan tidak merepotkan saat perjalanan.
Debu serta kepadatan manusia membuat masker menjadi perlengkapan penting untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan.
Jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu disarankan membawa obat pribadi dalam jumlah secukupnya dan mudah dijangkau.
Semprotan air dapat membantu menyegarkan wajah dan tubuh ketika suhu terasa sangat panas.
Baca juga: Unik, Makanan di Armuzna Juga Bisa Jadi Oleh-oleh Jamaah Haji Indonesia
Sementara itu, tas ransel Armuzna dapat diisi perlengkapan utama untuk kebutuhan beberapa hari selama puncak haji.
Jemaah tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian. Pilih pakaian yang ringan, mudah menyerap keringat, dan nyaman digunakan.
Bagi jemaah laki-laki, kain ihram cadangan penting untuk mengantisipasi kondisi darurat seperti basah atau kotor.
Sabun, sikat gigi, pasta gigi, dan perlengkapan kebersihan lainnya sebaiknya dibawa dalam ukuran kecil agar lebih praktis.
Sajadah ringan memudahkan jemaah beribadah di berbagai lokasi tanpa menambah banyak beban.
Perangkat ini sangat penting untuk menjaga komunikasi tetap berjalan selama fase Armuzna.
Kurma, biskuit, roti, atau makanan ringan lainnya bisa membantu menjaga energi saat perjalanan panjang.
Sandal khusus yang nyaman dan ringan penting digunakan saat menuju toilet atau berpindah lokasi.
Paparan matahari yang terik membuat pelindung kepala menjadi perlengkapan wajib bagi banyak jemaah.
Barang ini sering digunakan jemaah untuk membantu menurunkan suhu tubuh ketika cuaca panas.
Banyak jemaah kerap tergoda membawa barang berlebihan karena khawatir kekurangan kebutuhan selama Armuzna. Padahal, hal tersebut justru membuat tubuh lebih cepat lelah.
Beberapa barang yang sebaiknya tidak dibawa antara lain:
Selain memperberat bawaan, barang yang terlalu banyak juga meningkatkan risiko tercecer atau hilang saat kepadatan jemaah terjadi.
Baca juga: Kemenhaj Ingatkan Risiko Tanazul Mandiri saat Puncak Haji 2026
Persiapan barang hanyalah satu bagian dari kesiapan Armuzna. Hal yang tidak kalah penting ialah menjaga kondisi fisik sebelum memasuki puncak haji.
Jemaah disarankan mengatur waktu istirahat dengan baik, memperbanyak minum air putih, serta tidak memaksakan aktivitas yang terlalu menguras tenaga sebelum Armuzna dimulai.
Dalam buku Tuntunan Super Lengkap Haji dan Umrah karya Ustadz Rusdianto disebutkan bahwa banyak jemaah mengalami kelelahan berat karena kurang menjaga stamina sejak awal keberangkatan. Padahal, puncak ibadah haji justru terjadi saat Armuzna.
Oleh karena itu, disiplin menjaga kesehatan menjadi bagian penting dari ikhtiar ibadah.
Lebih dari sekadar perpindahan tempat, Armuzna sesungguhnya merupakan perjalanan spiritual yang sangat mendalam.
Di Arafah, jutaan manusia berkumpul dengan pakaian ihram yang sama tanpa membedakan jabatan, kekayaan, maupun asal negara.
Di Muzdalifah, jemaah belajar tentang kesederhanaan dan kesabaran. Sementara di Mina, umat Islam diajarkan makna pengorbanan dan perjuangan melawan hawa nafsu melalui lontar jumrah.
Oleh karena itu, membawa barang secukupnya bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga bagian dari latihan kesederhanaan dalam ibadah haji.
Pada akhirnya, kesiapan menjalani Armuzna tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi juga ketenangan hati, kesabaran, dan kemampuan menjaga fokus ibadah di tengah jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang