Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Shalat Idul Adha 2026 Mulai Jam Berapa? Cek Jadwal Lengkap dan Penjelasan MUI

Kompas.com, 25 Mei 2026, 18:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Suasana pagi Hari Raya Idul Adha selalu menghadirkan nuansa yang berbeda bagi umat Islam.

Sejak subuh, masyarakat mulai bersiap menuju masjid, lapangan, atau tanah terbuka untuk melaksanakan shalat Id berjamaah.

Tak sedikit jamaah yang memilih datang lebih awal demi mendapatkan saf depan sekaligus menghindari keterlambatan. Sebab, shalat Idul Adha biasanya dimulai lebih pagi dibandingkan aktivitas ibadah harian lainnya.

Tahun ini, Hari Raya Idul Adha 1447 H diperingati pada Rabu, 27 Mei 2026. Lalu, sebenarnya shalat Idul Adha dimulai jam berapa?

Pertanyaan ini kerap muncul setiap menjelang hari raya kurban, terutama bagi masyarakat yang hendak mengikuti shalat berjamaah di masjid besar maupun lapangan terbuka.

Berikut penjelasan lengkap mengenai waktu pelaksanaan shalat Idul Adha menurut ulama, ketentuan fikih, hingga anjuran datang lebih awal agar tidak ketinggalan.

Kapan Waktu Salat Idul Adha Dimulai?

Secara umum, waktu shalat Idul Adha dimulai setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu dzuhur.

Namun dalam praktiknya, mayoritas masjid di Indonesia melaksanakan shalat Idul Adha sekitar pukul 06.00 hingga 07.30 waktu setempat.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Anwar Abbas menjelaskan bahwa shalat Idul Adha tidak boleh dilakukan sebelum matahari terbit maupun tepat ketika matahari baru terbit.

Menurutnya, para ulama fikih telah sepakat bahwa shalat Id baru boleh dilaksanakan setelah masuk waktu diperbolehkannya salat sunnah.

“Waktu shalat Idul Adha itu adalah setelah masuk waktu dibolehkannya melaksanakan salat sunah,” jelas Anwar Abbas dilansir dari Kompas.com, Senin (25/5/2026).

Ia menerangkan, waktu pelaksanaan shalat Idul Adha umumnya sudah bisa dimulai sekitar pukul 06.30 pagi hingga sebelum masuk waktu dzuhur.

Pendapat serupa juga disampaikan Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Cholil Nafis.

Menurut Cholil Nafis, waktu terbaik shalat Id dimulai ketika matahari sudah naik setinggi tombak atau saat memasuki waktu dhuha.

“Baiknya bisa mulai dilaksanakan 06.30 atau jam 7-an. Di samping menunggu terang matahari, juga menunggu jamaah,” ujarnya.

Baca juga: Khutbah Idul Adha 2026 Menyentuh Hati tentang Mengorbankan Ego demi Rida Allah SWT

Mengapa Salat Idul Adha Dilaksanakan Pagi Hari?

Dalam tradisi Islam, shalat Idul Adha memang dianjurkan dilakukan lebih awal dibandingkan shalat Idul Fitri.

Tujuannya agar umat Islam memiliki waktu lebih panjang untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban setelah shalat selesai.

Dalam kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW menyegerakan shalat Idul Adha dan sedikit mengakhirkan salat Idul Fitri.

Hal tersebut berkaitan dengan ibadah kurban yang dilaksanakan setelah shalat Id.

Keterangan serupa juga terdapat dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi yang menjelaskan bahwa menyegerakan shalat Idul Adha termasuk sunnah yang dianjurkan.

Apa Maksud Matahari Setinggi Tombak?

Istilah “matahari setinggi tombak” sering muncul dalam pembahasan waktu shalat Id. Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar membingungkan.

Dalam ilmu fikih, matahari setinggi tombak merujuk pada kondisi ketika matahari telah naik beberapa derajat dari ufuk timur setelah terbit.

Para ulama memperkirakan waktunya sekitar 15 hingga 20 menit setelah matahari terbit.

Oleh karena itu, di Indonesia yang mataharinya rata-rata terbit sekitar pukul 05.45 hingga 06.00 pagi, maka salat Id biasanya mulai dilaksanakan sekitar pukul 06.15 hingga 06.45 pagi.

Baca juga: 50 Ucapan Idul Adha 2026 Menyentuh dan Penuh Doa untuk Status WhatsApp

Bolehkah Datang Terlambat Saat Shalat Id?

Meski shalat Idul Adha memiliki rentang waktu cukup panjang hingga sebelum dzuhur, jamaah tetap dianjurkan datang lebih awal.

Selain agar tidak tertinggal rakaat, datang lebih cepat juga memberi kesempatan mendapatkan saf depan dan mendengarkan takbir sebelum shalat dimulai.

Dalam hadis riwayat Shahih Muslim disebutkan bahwa saf paling depan bagi laki-laki memiliki keutamaan besar.

Datang lebih awal juga membuat jamaah lebih tenang dan tidak tergesa-gesa, terutama saat lokasi shalat dipadati ribuan orang.

Di sejumlah daerah, panitia bahkan mengimbau jamaah datang sejak pukul 06.00 pagi untuk menghindari kemacetan dan antrean parkir kendaraan.

Tata Cara Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha dikerjakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah.

Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir setelah takbiratul ihram, sedangkan rakaat kedua terdapat lima kali takbir sebelum membaca surat Al-Fatihah.

Setelah shalat selesai, khatib akan menyampaikan khutbah Idul Adha yang berisi pesan ketakwaan, pengorbanan Nabi Ibrahim AS, hingga makna ibadah kurban.

Dalam buku Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani disebutkan bahwa mendengarkan khutbah setelah salat Id termasuk sunnah yang dianjurkan.

Baca juga: Batas Waktu Potong Kuku dan Rambut Bukan Sesudah Shalat Idul Adha 2026, Lalu Kapan?

Tradisi Shalat Idul Adha di Indonesia

Di Indonesia, salat Idul Adha biasanya digelar di lapangan terbuka, halaman masjid besar, stadion, hingga kompleks perumahan.

Sejak pagi buta, masyarakat sudah mulai berdatangan mengenakan pakaian terbaik sambil membawa sajadah masing-masing.

Suasana semakin khidmat ketika gema takbir berkumandang menjelang imam memulai shalat.

Di beberapa daerah, tradisi makan bersama dan penyembelihan hewan kurban langsung dilakukan setelah khutbah selesai.

Momen ini tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga mempererat kebersamaan masyarakat.

Hikmah Datang Lebih Awal ke Lokasi Shalat Id

Datang lebih awal bukan hanya soal menghindari keterlambatan. Ada nilai spiritual yang besar di balik kebiasaan tersebut.

Jamaah yang datang lebih cepat memiliki waktu untuk memperbanyak zikir, takbir, dan mempersiapkan hati sebelum shalat dimulai.

Selain itu, suasana pagi Idul Adha yang penuh gema takbir sering menghadirkan rasa haru dan syukur tersendiri bagi umat Islam.

Oleh karena itu, banyak ulama menganjurkan umat Islam berangkat lebih awal ke tempat salat Id sambil memperbanyak takbir di perjalanan.

Jam Berapa Sebaiknya Berangkat Shalat Idul Adha?

Jika shalat Id di daerah Anda dimulai sekitar pukul 06.30 atau 07.00 pagi, maka sebaiknya jamaah sudah tiba di lokasi sekitar 30 menit sebelumnya.

Selain menghindari kepadatan, datang lebih awal juga membantu jamaah mendapatkan tempat yang nyaman untuk beribadah.

Terlebih pada masjid atau lapangan besar yang biasanya dipadati ribuan orang saat Hari Raya Kurban.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengecek jadwal resmi shalat Id di lingkungan masing-masing agar tidak terlambat mengikuti salat berjamaah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kiai Cholil Nafis Ajak Jemaah Haji Doakan Indonesia saat Wukuf di Arafah
Kiai Cholil Nafis Ajak Jemaah Haji Doakan Indonesia saat Wukuf di Arafah
Aktual
Alur Lempar Jamarat Saat Puncak Haji 2026, Jemaah Wajib Tahu
Alur Lempar Jamarat Saat Puncak Haji 2026, Jemaah Wajib Tahu
Aktual
Cak Imin Minta Jemaah Jaga Kesehatan Jelang Puncak Haji di Armuzna
Cak Imin Minta Jemaah Jaga Kesehatan Jelang Puncak Haji di Armuzna
Aktual
PPIH Arab Saudi Siagakan Pos Kesehatan di Arafah dan Mina Saat Puncak Haji
PPIH Arab Saudi Siagakan Pos Kesehatan di Arafah dan Mina Saat Puncak Haji
Aktual
PPIH Arab Saudi Gelar Safari Wukuf untuk Jamaah Haji Lansia dan Sakit
PPIH Arab Saudi Gelar Safari Wukuf untuk Jamaah Haji Lansia dan Sakit
Aktual
Jamaah Asal Sidrap Tempati Tenda Maktab 60 Mina Jelang Puncak Ibadah Haji
Jamaah Asal Sidrap Tempati Tenda Maktab 60 Mina Jelang Puncak Ibadah Haji
Aktual
Tips Membuang Panas Tubuh Saat Armuzna ketika Puncak Haji
Tips Membuang Panas Tubuh Saat Armuzna ketika Puncak Haji
Aktual
Bacaan Bilal Sholat Idul Adha 2026 Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Bacaan Bilal Sholat Idul Adha 2026 Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Aktual
Matahari Tepat di Atas Ka'bah pada Hari Arafah 2026, Fenomena Langka 33 Tahunan
Matahari Tepat di Atas Ka'bah pada Hari Arafah 2026, Fenomena Langka 33 Tahunan
Aktual
Tujuh Calon Haji Asal Riau Wafat di Tanah Suci, Kemenhaj Pastikan Hak Jamaah Dipenuhi
Tujuh Calon Haji Asal Riau Wafat di Tanah Suci, Kemenhaj Pastikan Hak Jamaah Dipenuhi
Aktual
Shalat Idul Adha 2026 Mulai Jam Berapa? Cek Jadwal Lengkap dan Penjelasan MUI
Shalat Idul Adha 2026 Mulai Jam Berapa? Cek Jadwal Lengkap dan Penjelasan MUI
Aktual
Timwas Haji DPR Minta Petugas Waspadai Situasi Tak Terduga di Armuzna
Timwas Haji DPR Minta Petugas Waspadai Situasi Tak Terduga di Armuzna
Aktual
Musyrif Diny Haji Ajak Jemaah Perbanyak Doa dan Zikir Jelang Wukuf di Arafah
Musyrif Diny Haji Ajak Jemaah Perbanyak Doa dan Zikir Jelang Wukuf di Arafah
Aktual
PPIH Arab Saudi Bagikan Paket Vitamin untuk Jaga Stamina Jamaah Haji Lansia
PPIH Arab Saudi Bagikan Paket Vitamin untuk Jaga Stamina Jamaah Haji Lansia
Aktual
Takbir Idul Adha 2026 Mulai Kapan? Ini Jadwal dan Bacaan Lengkap Arab, Latin, & Arti
Takbir Idul Adha 2026 Mulai Kapan? Ini Jadwal dan Bacaan Lengkap Arab, Latin, & Arti
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com