Editor
KOMPAS.com - Shalat dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, shalat dhuha juga memiliki berbagai keutamaan yang dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW.
Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa amalan ini dapat mendatangkan pahala besar, menghapus dosa, hingga menjadi tanda kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.
Baca juga: Kapan Waktu Shalat Dhuha Dimulai dan Berakhir? Ini Penjelasan Lengkapnya
Karena itu, shalat dhuha tidak hanya dipandang sebagai ibadah sunnah biasa, tetapi juga sebagai amalan yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi kehidupan seorang Muslim.
Keutamaan shalat dhuha terbilang sangat banyak. Berbagai hadis Nabi SAW menjelaskan keistimewaan ibadah ini, mulai dari ganjaran di akhirat hingga manfaatnya dalam membentuk pribadi yang taat dan istiqamah dalam beribadah.
Baca juga: Sholat Dhuha: Pengertian, Hukum, dan Dalil Kesunnahannya dalam Islam
Dilansir dari laman MUI, berikut lima keutamaan shalat dhuha yang dirangkum dari berbagai literatur keislaman.
Rasulullah SAW menerangkan bahwa orang yang melaksanakan shalat dhuha sebanyak 12 rakaat akan memperoleh balasan berupa istana di surga.
Keutamaan tersebut dijelaskan dalam sabda Nabi SAW:
مَنْ صَلَّى الضُّحَى اِثْنَتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اَللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa shalat dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana di surga.” (HR Tirmidzi).
Shalat dhuha juga menjadi salah satu amalan yang dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa seorang Muslim apabila dikerjakan secara istiqamah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةٍ الضُّحَى غُفِرَلَهُ ذُنُوْبَهُ وَ اِنْ كَانَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَخْرِ
Artinya: “Barang siapa yang dapat mengamalkan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan besarnya rahmat Allah SWT bagi hamba yang menjaga amalan sholat dhuha secara konsisten.
Keutamaan lain dari shalat dhuha adalah nilainya yang setara dengan sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia.
Rasulullah SAW menjelaskan:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
Artinya: “Ada sedekah atas seluruh tulang (persendian) salah seorang dari kalian. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan dua rakaat sholat dhuha mencukupi semuanya itu.” (HR Muslim).
Dengan demikian, dua rakaat shalat dhuha sudah mencukupi kewajiban sedekah bagi seluruh persendian tubuh pada pagi hari.
Sholat dhuha juga dikenal sebagai sholatnya orang-orang awwabin, yaitu hamba yang senantiasa kembali kepada Allah SWT dengan taubat dan ketaatan.
Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi SAW:
لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى إِلَّا أَوَّابٌ. قَالَ: وَهِيَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ
Artinya: “Tidak ada yang menjaga shalat dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah (dengan tobat). Sholat dhuha adalah sholat orang-orang yang awwâbîn.” (HR Al-Hakim).
Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga sholat dhuha menjadi salah satu ciri orang yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keutamaan sholat dhuha bertambah sesuai jumlah rakaat yang dikerjakan.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ، فَقُلْتُ: يَا عَمُّ اقْبِسْنِى خَيْرًا. فَقَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ: إِنْ صَلَّيْتَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لَمْ تُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا أَرْبَعًا كُتِبْتَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا سِتًّا كُتِبْتَ مِنَ الْقَانِتِينَ، وَإِنْصَلَّيْتَهَا ثَمَانِيًا كُتِبْتَ مِنَ الْفَائِزِينَ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا عَشْرًا لَمْ يُكْتَبْ لَكَ ذَلِكَ الْيَوْمَ ذَنْبٌ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهِ لَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Aku bertemu Abu Dzar RA., lalu berkata: Wahai paman, berilah aku satu kebaikan. Ia menjawab: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana kamu bertanya kepadaku. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Jika kamu sholat dhuha dua rakaat, kamu tidak dicatat sebagai orang lalai, jika empat rakaat dicatat sebagai orang berbuat baik, jika enam rakaat dicatat sebagai orang taat, jika delapan rakaat dicatat sebagai orang beruntung, jika sepuluh rakaat maka pada hari itu tidak dicatat dosa bagimu, dan jika dua belas rakaat maka Allah membangunkan untukmu rumah di surga.”
Hadis tersebut menggambarkan bahwa semakin banyak rakaat shalat dhuha yang dikerjakan, semakin besar pula keutamaan yang dijanjikan.
Beragam hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat dhuha bukan sekadar amalan sunnah pelengkap, melainkan ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.
Dengan melaksanakannya secara rutin, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT serta membiasakan diri mengawali hari dengan ibadah dan kebaikan.
Ilustrasi keutamaan sholat dhuha yang dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW.