Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hamzah Sahal: Demokrasi di NU Memang Bising, tapi Itu Normal

Kompas.com, 4 Juni 2026, 08:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Direktur NU Online Hamzah Sahal menilai dinamika dan perbedaan pendapat yang kerap terjadi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar.

Menurutnya, perdebatan, kritik, hingga perbedaan pandangan yang muncul di tubuh NU justru menunjukkan bahwa demokrasi berjalan dan tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi organisasi.

Hamzah menegaskan, tradisi perbedaan pendapat telah lama menjadi bagian dari kultur organisasi yang didirikan para ulama tersebut.

Bahkan, tradisi itu sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan Presiden keempat RI sekaligus tokoh NU, Gus Dur.

“Gagasan-gagasan Gus Dur tentang solidaritas, tentang kebersamaan hidup di tengah perbedaan, tentang kritikisme itu sekarang banyak ditiru. Maka di lingkungan NU kritik-kritik itu biasa, dinamis sekali,” kata Hamzah di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu terkejut ketika melihat perdebatan yang terjadi di lingkungan NU.

Sebab, perbedaan pandangan merupakan konsekuensi dari organisasi yang memberi ruang bagi diskusi dan kritik.

“Ini mungkin bising, ya. Tapi demokrasi memang bising. Perbedaan-perbedaan itu biasa. Namanya perbedaan tidak dianggap masalah,” ujarnya.

Baca juga: Wasekjen PBNU: Jika Gus Dur Masih Hidup, Beliau Pasti Kritik NU Saat Ini

Hamzah kemudian mengibaratkan dinamika di tubuh NU seperti pertandingan sepak bola yang berlangsung penuh persaingan di lapangan, tetapi tetap menjunjung sportivitas setelah pertandingan berakhir.

“Main bola saja di lapangan saling berkejaran, berkompetisi, bahkan saling tendang. Tapi setelah peluit berakhir, setelah 90 menit habis itu salaman, rangkul-rangkulan. Kalau yang menang dikasih ucapan selamat. Jadi tidak boleh setelah selesai pertandingan masih ribut terus,” ungkapnya.

Menurut Hamzah, budaya seperti itulah yang selama ini hidup di lingkungan NU. Perbedaan pandangan boleh terjadi, tetapi tetap harus berada dalam koridor persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama warga organisasi.

Ia mencontohkan bagaimana tradisi tersebut terlihat pada masa kepemimpinan Gus Dur di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Saat itu, sejumlah gagasan Gus Dur kerap memicu perdebatan di kalangan ulama maupun warga NU.

“Ketika Gus Dur membuat ide pribumisasi Islam, ketika beliau sering mengisi acara di gereja, ada kiai-kiai yang keberatan. Tetapi karena ada penghargaan terhadap perbedaan, tidak agresif kepada Gus Dur. Maksimal itu minta tabayun, minta klarifikasi. Tidak sampai memecat Gus Dur,” jelasnya.

Baca juga: Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU

Hamzah mengatakan para ulama senior NU pada masa itu memilih menyikapi perbedaan dengan cara yang bijak. Mereka tetap menyampaikan pandangan masing-masing tanpa harus memecah organisasi.

Ia mencontohkan sikap Kiai As'ad Syamsul Arifin yang memilih menjaga jarak terhadap sejumlah gagasan Gus Dur yang tidak sejalan dengan pandangannya, tetapi tidak mengajak warga NU untuk berkonflik.

“Beliau sangat bijaksana. Jadi beliau mengatakan, saya tidak mau ikut-ikut. Saya pribadi tidak ikut, saya juga tidak akan mengajak santri saya. Silakan saja diatur. Itu menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan,” kata Hamzah.

Contoh lain, lanjut Hamzah, terlihat saat muncul polemik penerimaan dana SDSB yang pernah menjadi kontroversi besar di lingkungan NU pada masa lalu.

Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan bahwa para tokoh NU lebih mengedepankan introspeksi daripada konflik terbuka.

“Nah waktu itu Kiai Ali Yafie sampai memilih mengundurkan diri. Tetapi beliau tidak memecat Gus Dur. Tidak mengajak orang untuk berkonflik. Beliau memilih mundur. Menurut saya itu hasil dari introspeksi dan sikap yang arif,” ujarnya.

Hamzah menilai budaya otokritik atau kritik terhadap diri sendiri yang diwariskan Gus Dur juga menjadi salah satu alasan mengapa NU mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan hingga saat ini.

“Autokritik itu hal yang khas dari Gus Dur. Bukan hanya pemerintah yang dikritik, umat Islam dikritik, bahkan NU sendiri sering sekali dikritik oleh Gus Dur,” tegasnya.

Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global

Menurut Hamzah, semangat otokritik tersebut penting untuk menjaga organisasi tetap sehat dan terbuka terhadap perubahan.

“Kalau autokritik itu insya Allah tidak akan ada orang yang merasa paling benar. Akan ada introspeksi bersama-sama. Itu yang menurut saya penting,” ucapnya.

Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, Hamzah mengaku tetap optimistis terhadap masa depan NU. Ia melihat banyak perkembangan positif, terutama dalam regenerasi kepemimpinan dan keterlibatan generasi muda.

“Optimis, optimis di tengah ketidakoptimisan. Ada kekhawatiran, tentu ada. Tetapi di banyak lini juga ada optimisme. Anak mudanya bagus, keilmuannya masih jalan, ahlussunnah wal jamaah menyebar dengan baik,” katanya.

Ia juga menyoroti tingginya jumlah masyarakat yang masih mengidentifikasi diri sebagai warga NU sebagai salah satu modal besar organisasi ke depan.

“Ada orang yang masih mengaku NU sampai 53 sampai 55 persen, itu kan optimisme. Tinggal bagaimana meningkatkan kualitas ber-NU,” ungkapnya.

Menurut Hamzah, tantangan terbesar NU saat ini bukan lagi soal mempertahankan jumlah pengikut, melainkan memperkuat kualitas pemahaman keagamaan dan kebangsaan warganya.

“PR kita bukan hanya soal ritual. Ritual itu fondasi. Tetapi juga bagaimana hidup bersama di tengah kebhinekaan, di tengah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu yang harus terus diperkuat,” jelas Hamzah.

Karena itu, ia mengajak seluruh warga NU, khususnya generasi muda, untuk tidak melihat perbedaan pendapat sebagai ancaman.

Sebaliknya, perbedaan harus dipandang sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat selama tetap dibingkai oleh persaudaraan, dialog, dan penghormatan terhadap sesama.

“Demokrasi memang bising. Tetapi selama tujuannya untuk kebaikan bersama dan tetap menjaga persaudaraan, itu hal yang normal,” pungkasnya.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Mimpi sejak SD Terwujud, Siswi MAN 1 Lubuklinggau Ini Jadi Paskibraka Nasional
Mimpi sejak SD Terwujud, Siswi MAN 1 Lubuklinggau Ini Jadi Paskibraka Nasional
Aktual
Pilih Paskibraka daripada O2SN, Siswa MAN IC Siak Wakili Riau di Istana
Pilih Paskibraka daripada O2SN, Siswa MAN IC Siak Wakili Riau di Istana
Aktual
Gempa M 7,7 di NTT, Muhammadiyah Buka Posko dan Kerahkan Tim Medis
Gempa M 7,7 di NTT, Muhammadiyah Buka Posko dan Kerahkan Tim Medis
Aktual
MUI: Toleransi Jangan Berubah Menjadi Permisivisme
MUI: Toleransi Jangan Berubah Menjadi Permisivisme
Aktual
Gus Rozin Bawa Gagasan 'Poros Tengah' di Bursa Ketum PBNU
Gus Rozin Bawa Gagasan "Poros Tengah" di Bursa Ketum PBNU
Aktual
Wakaf Saham Istiqlal Jadi Sorotan, DPR Minta Hati-hati dan Kemenag Beri Klarifikasi
Wakaf Saham Istiqlal Jadi Sorotan, DPR Minta Hati-hati dan Kemenag Beri Klarifikasi
Aktual
Muktamar Ke-35 NU Siapkan 3 Posko Kesehatan, Layanan Medis Siaga 24 Jam
Muktamar Ke-35 NU Siapkan 3 Posko Kesehatan, Layanan Medis Siaga 24 Jam
Aktual
Pekalongan Darurat Sampah, 317 Siswa Muhammadiyah Pilih Karnaval Daur Ulang
Pekalongan Darurat Sampah, 317 Siswa Muhammadiyah Pilih Karnaval Daur Ulang
Aktual
Idgham Bighunnah: Pengertian, Huruf, Cara Baca, dan 25 Contohnya
Idgham Bighunnah: Pengertian, Huruf, Cara Baca, dan 25 Contohnya
Doa Harian
Doa Saat Gempa Bumi untuk Memohon Perlindungan, Arab dan Latin
Doa Saat Gempa Bumi untuk Memohon Perlindungan, Arab dan Latin
Aktual
Putra, Mahasiswa Muhammadiyah Juara Dunia Panjat Tebing Tampil di EISCC 2026
Putra, Mahasiswa Muhammadiyah Juara Dunia Panjat Tebing Tampil di EISCC 2026
Aktual
Prabowo Targetkan Renovasi Sekolah dan Pesantren, 2.120 Madrasah Diusulkan Direvitalisasi
Prabowo Targetkan Renovasi Sekolah dan Pesantren, 2.120 Madrasah Diusulkan Direvitalisasi
Aktual
Maknai HUT ke-81 RI, Pegawai Lintas Agama Kemenag Bersihkan Masjid
Maknai HUT ke-81 RI, Pegawai Lintas Agama Kemenag Bersihkan Masjid
Aktual
Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam
Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam
Aktual
Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar