BANYUWANGI, KOMPAS.com - Shalat bukan sekadar ibadah rutin yang menggugurkan kewajiban.
Ia adalah ibadah yang akan pertama kali diperiksa pada hari kiamat.
Dari kualitas shalat seorang hamba, akan tampak bagaimana kualitas amal-amal lainnya.
Pesan agung tersebut disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ؟ ثُمَّ سَائِرُ أَعْمَالِهِ عَلَى ذَلِكَ
Artinya:
“Sesungguhnya amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka sungguh ia beruntung dan sukses. Jika shalatnya rusak, maka sungguh ia rugi dan celaka. Jika ada kekurangan pada shalat fardhunya, maka Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunah sehingga dengan itu kekurangan dari shalat fardhunya bisa disempurnakan?' Kemudian seluruh amalannya dihisab seperti itu juga.” (HR. Abu Dawud no 864, Tirmidzi no. 413, an-Nasa'i no. 465 Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi).
Baca juga: Rutin Dibaca Rasulullah, Ini 10 Surat Pendek untuk Shalat
Hadis ini menunjukkan betapa agung kedudukan shalat dalam Islam.
Shalat menjadi amalan pertama yang diperiksa sebelum amalan-amalan lainnya.
Bila shalat seorang hamba baik, dikerjakan dengan khusyuk serta memenuhi rukun, syarat, kewajiban, dan sunahnya, maka itu menjadi pertanda baik bagi amal-amal yang lain.
Sebaliknya, jika shalat diabaikan atau dilakukan tanpa kesungguhan, maka seorang muslim patut khawatir terhadap keadaan amalnya secara keseluruhan.
Shalat ibarat lokomotif yang menarik rangkaian gerbong amal.
Sebanyak apa pun gerbong yang dimiliki, jika lokomotifnya rusak, perjalanan tidak akan sampai ke tujuan.
Di balik ancaman tersebut, hadis ini juga memancarkan kasih sayang Allah ﷻ. Kekurangan dalam shalat wajib tidak serta-merta membuat seorang hamba binasa.
Allah membuka jalan penyempurnaan melalui amalan-amalan sunah, seperti shalat rawatib, shalat duha, qiyamul lail, dan ibadah sunah lainnya.
Hal tersebut menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk tidak meremehkan amalan sunah, karena bisa jadi amalan itulah yang kelak menyempurnakan kekurangan ibadah wajibnya.
Ketua Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustaz Ahsanul Falihin, mengatakan bahwa hadis tersebut menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ukuran keberhasilan seorang muslim di akhirat bukan semata banyaknya aktivitas atau prestasi duniawi, tetapi bagaimana ia menjaga shalatnya.
"Karena shalat adalah amal pertama yang akan dihisab. Jika shalatnya baik, itu menjadi pertanda kebaikan amal-amal yang lain," ujarnya.
Sehingga kemudian, ia berpesan agar umat tidak meremehkan shalat.
"Jangan pernah meremehkan shalat sunah. Bisa jadi shalat duha, rawatib, atau qiyamul lail yang selama ini kita jaga menjadi penyempurna atas kekurangan shalat wajib kita di hadapan Allah kelak," tambahnya.
Baca juga: Sedekah Subuh Setelah Shalat atau Sebelum Azan, Mana Lebih Utama?
Di tengah kesibukan dan berbagai tuntutan kehidupan, seorang muslim perlu kembali bertanya kepada dirinya, sudahkah shalat menjadi prioritas utama?
Sebab pada hari ketika seluruh amal diperlihatkan, shalatlah yang pertama kali ditanyakan.
Dari sanalah akan ditentukan apakah seseorang termasuk golongan yang beruntung atau justru merugi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang