Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mohamad Sohibul Iman
Ketua Majelis Syura | Anggota DPR RI

Mohamad Sohibul Iman adalah Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2025–2030. Sebelumnya menjabat sebagai Presiden PKS ke-7 (2015–2020), Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) periode 2013–2014, dan Rektor Universitas Paramadina periode 2005–2007. Ia dikenal sebagai akademisi dan politisi yang menaruh perhatian pada isu-isu etika kepemimpinan, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai.

Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai

Kompas.com, 16 Juni 2026, 15:10 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

TAHUN Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah bukan sekadar penanda pergantian kalender. Hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam merupakan peristiwa monumental yang mengubah arah sejarah dan peradaban manusia.

Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah tidak hanya bermakna perpindahan fisik, tetapi juga transformasi nilai, cara berpikir, tata sosial, dan kepemimpinan yang melahirkan masyarakat baru yang lebih berkeadilan, beradab, dan berkemajuan.

Karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, umat Islam diajak untuk tidak sekadar memperingati peristiwa sejarah, melainkan merenungkan kembali pesan-pesan besar yang terkandung di dalamnya.

Hijrah adalah tentang keberanian untuk berubah, kesediaan untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak lagi relevan, serta komitmen untuk terus bergerak menuju kondisi yang lebih baik.

Moralitas sebagai Pondasi Kemajuan

Pelajaran pertama yang dapat kita petik dari hijrah adalah pentingnya moralitas sebagai fondasi perubahan.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab hidup dalam situasi yang sering digambarkan sebagai masa jahiliyah, ketika kekuatan, kesukuan, dan kepentingan pribadi kerap mengalahkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Kehadiran Rasulullah SAW membawa perubahan mendasar. Beliau tidak hanya mengajarkan akidah dan ibadah, tetapi juga melakukan revolusi moral yang mengubah karakter manusia dan masyarakat.

Dalam sebuah hadis yang masyhur, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Pesan ini menegaskan bahwa inti dari perubahan yang dibawa Islam adalah perbaikan akhlak dan karakter manusia. Sebab tanpa moralitas, kemajuan apa pun akan kehilangan arah dan makna.

Pandangan ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai kajian akademik modern. Ilmuwan politik Francis Fukuyama dalam bukunya Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan sosial yang dibangun di atas norma-norma moral, integritas, dan tanggung jawab bersama.

Ketika kepercayaan tumbuh, kolaborasi menjadi lebih mudah, institusi menjadi lebih kuat, dan masyarakat memiliki kemampuan lebih besar untuk berkembang.

Karena itu, momentum Hijriah harus menjadi momentum memperkuat moralitas dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa. Sebab pada akhirnya, kualitas suatu peradaban sangat ditentukan oleh kualitas akhlak manusianya.

Hijrah sebagai Transformasi, Bukan Sekadar Seremoni

Pelajaran kedua adalah bahwa hijrah merupakan simbol perubahan yang nyata. Hijrah bukan perayaan, melainkan transformasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terjebak dalam pola yang sama, kebiasaan yang sama, dan cara berpikir yang sama dari tahun ke tahun.

Kita berharap hasil berbeda, tetapi menggunakan pendekatan yang tidak berubah. Akibatnya, banyak persoalan yang terus berulang tanpa penyelesaian yang berarti.

Al-Qur'an memberikan prinsip yang sangat jelas: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran untuk melakukan perbaikan. Tidak ada transformasi tanpa keberanian untuk meninggalkan zona nyaman.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan pada era disrupsi saat ini. Internet telah mengubah cara manusia memperoleh dan mendistribusikan informasi.

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sedang mengubah cara bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan cara mengambil keputusan. Dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam konteks seperti ini, kita tidak bisa mengelola masa depan dengan cara-cara yang sepenuhnya sama seperti masa lalu. Kita memerlukan kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan terus belajar.

Sebagaimana hijrah menjadi titik balik dalam sejarah Islam, Tahun Baru Hijriah harus menjadi titik balik dalam cara kita memandang perubahan.

Hijrah harus menjadi energi transformasi yang mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru, inovasi baru, dan ikhtiar baru untuk menjawab tantangan zaman.

Sistem yang Baik dan Manusia yang Baik

Pelajaran ketiga adalah bahwa perubahan tidak mungkin hanya bertumpu pada satu sisi saja. Kemajuan membutuhkan sistem yang baik sekaligus manusia yang baik.

Dalam berbagai diskusi pembangunan, sering muncul perdebatan apakah keberhasilan lebih ditentukan oleh kualitas sistem atau kualitas manusianya. Sesungguhnya keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Sistem yang baik diperlukan untuk menciptakan keteraturan, keadilan, dan kepastian. Namun, sistem yang baik tidak akan menghasilkan manfaat apabila dijalankan oleh manusia yang kehilangan integritas.

Sebaliknya, manusia yang baik akan menghadapi kesulitan apabila harus bekerja dalam sistem yang buruk.

Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat penting dalam hal ini. Di Madinah, beliau tidak hanya membangun individu-individu yang beriman dan berakhlak, tetapi juga membangun tatanan sosial yang kuat melalui berbagai kesepakatan, aturan, dan institusi yang menjamin kehidupan bersama.

Dari sini kita belajar bahwa perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh. Kita membutuhkan sistem yang lebih baik, tata kelola lebih baik, dan kepemimpinan yang lebih baik.

Namun pada saat yang sama, kita juga membutuhkan manusia-manusia yang memiliki kejujuran, amanah, kompetensi, dan semangat melayani.

Menjaga Nilai-Nilai Luhur di Tengah Perubahan

Pelajaran keempat yang tidak kalah penting adalah bahwa perubahan harus tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.

Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, kemajuan teknologi saja tidak cukup untuk menjamin kemajuan peradaban.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika nilai-nilai moral melemah, kemajuan material justru dapat menjadi sumber berbagai persoalan baru.

Karena itu, tantangan terbesar kita hari ini bukan hanya bagaimana beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga bagaimana menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Nilai kejujuran, amanah, keadilan, kepedulian sosial, kerja keras, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat manusia harus tetap menjadi kompas yang menuntun perjalanan bangsa.

Ketika nilai-nilai baik menghilang dari ruang publik, maka ruang tersebut akan diisi oleh nilai-nilai yang tidak selalu membawa kebaikan.

Sebaliknya, ketika nilai-nilai luhur terus dihidupkan dalam percakapan, pendidikan, kebijakan, dan keteladanan, maka nilai-nilai tersebut akan menjadi energi yang mendorong lahirnya masyarakat yang lebih kuat dan lebih bermartabat.

Karena itu, tugas kita bukan hanya membangun kemajuan, tetapi juga memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap berada dalam koridor nilai dan etika yang benar.

Menjadikan Hijriah sebagai Titik Balik

Momentum 1 Muharram 1448 Hijriah hendaknya menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keberanian untuk berhijrah menuju keadaan yang lebih baik.

Hijrah dari kepentingan sempit menuju kemaslahatan yang lebih luas, dari sekadar rutinitas menuju transformasi, serta dari pragmatisme menuju tegaknya nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan sosial, hingga krisis moral yang mengemuka di berbagai ruang kehidupan, kita memerlukan keteguhan untuk menjaga nilai, sekaligus keberanian untuk beradaptasi dan berinovasi.

Sebab kemajuan yang sejati bukan hanya ditandai oleh kemajuan sistem dan teknologi, tetapi juga oleh kokohnya akhlak, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Semoga Tahun Baru Hijriah 1448 menjadi momentum bagi kita semua untuk memperkuat ikhtiar menghadirkan kebaikan, memperluas manfaat, dan meneguhkan komitmen dalam membangun peradaban yang berkeadilan, bermartabat, dan diridhai Allah SWT.

Sepanjang tahun ini, semoga kita semua senantiasa berada dalam kebaikan, keberkahan, dan perlindungan-Nya.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. "Fastabiqul khairat." Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Saat Terjadi Gempa dan Memohon Kesabaran ketika Tertimpa Musibah, Arab, Latin & Arti
Doa Saat Terjadi Gempa dan Memohon Kesabaran ketika Tertimpa Musibah, Arab, Latin & Arti
Aktual
Mengintip Persiapan Tradisi Penggantian Kiswah Baru Ka'bah Jelang Tahun Baru Islam 1448 H
Mengintip Persiapan Tradisi Penggantian Kiswah Baru Ka'bah Jelang Tahun Baru Islam 1448 H
Aktual
PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Alasannya
PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Alasannya
Aktual
Sahabat Tuli Kini Punya Kosa Isyarat Keislaman, Kemenag Luncurkan KOSMIN
Sahabat Tuli Kini Punya Kosa Isyarat Keislaman, Kemenag Luncurkan KOSMIN
Aktual
Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai
Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai
Aktual
Jadwal Puasa Muharram 2026 Lengkap: Tasua, Asyura, Ayyamul Bidh, dan Senin-Kamis
Jadwal Puasa Muharram 2026 Lengkap: Tasua, Asyura, Ayyamul Bidh, dan Senin-Kamis
Aktual
Haji Pulang Diimbau Tak Langsung Keluyuran, Isolasi Mandiri 14 Hari
Haji Pulang Diimbau Tak Langsung Keluyuran, Isolasi Mandiri 14 Hari
Aktual
Arab Saudi Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 16 Juni 2026
Arab Saudi Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 16 Juni 2026
Aktual
Hilal Tak Terlihat, PBNU Tetapkan 1 Muharram Rabu 17 Juni 2026
Hilal Tak Terlihat, PBNU Tetapkan 1 Muharram Rabu 17 Juni 2026
Aktual
Presiden Jerman Terharu Lihat Istiqlal-Katedral, Menag: Sulit Ditemukan di Belahan Dunia Lain
Presiden Jerman Terharu Lihat Istiqlal-Katedral, Menag: Sulit Ditemukan di Belahan Dunia Lain
Aktual
Tahun Baru Islam 1448 H Dimulai, Kiswah Kabah Resmi Diganti 1 Muharram
Tahun Baru Islam 1448 H Dimulai, Kiswah Kabah Resmi Diganti 1 Muharram
Aktual
Tahun Baru Islam: Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Tahun Baru Islam: Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Muharam 1448 H Tiba, Ini Keutamaan dan Amalan Sunnahnya
Muharam 1448 H Tiba, Ini Keutamaan dan Amalan Sunnahnya
Aktual
Pentingnya Shalat dalam Islam: Kunci Kesuksesan Abadi di Akhirat
Pentingnya Shalat dalam Islam: Kunci Kesuksesan Abadi di Akhirat
Aktual
Pemulangan Haji Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Diterbangkan
Pemulangan Haji Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Diterbangkan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com