Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hati-hati, Niat Tak Membayar Utang Bisa Membuat Rezeki Seret

Kompas.com, 17 Juni 2026, 17:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Banyak orang menganggap utang hanya sebagai persoalan keuangan. Ketika kebutuhan mendesak datang, meminjam uang sering dianggap sebagai jalan keluar tercepat.

Namun dalam pandangan Islam, utang bukan sekadar urusan materi, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat.

Karena itu, Islam memberikan perhatian sangat besar terhadap persoalan utang piutang. Bahkan sejumlah hadis menunjukkan bahwa perkara ini termasuk salah satu hak sesama manusia yang tidak boleh disepelekan.

Lalu benarkah utang dapat menjadi penyebab sempitnya rezeki? Mengapa sebagian orang merasa hidupnya semakin berat setelah memiliki utang, meski penghasilannya tidak berkurang?

Baca juga: 5 Doa Pelunas Utang dan Pembuka Pintu Rezeki Halal

Pertanyaan inilah yang dijawab oleh Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Cirebon, Yahya Zainul Ma'arif atau yang lebih dikenal sebagai Buya Yahya.

Dilansir dari salah satu kajiannya yang tayang di kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya mengingatkan bahwa utang dapat menjadi sebab tertutupnya pintu keberkahan dan menyempitnya rezeki apabila tidak disikapi dengan benar.

Utang dalam Islam Adalah Amanah, Bukan Sekadar Pinjaman

Islam tidak melarang seseorang berutang. Dalam kondisi tertentu, utang bahkan menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan hidup, membantu usaha, atau mengatasi kesulitan ekonomi.

Namun Islam mewajibkan setiap orang yang berutang untuk memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam melunasinya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa mengambil harta manusia dengan niat ingin membayarnya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasi. Dan barang siapa mengambilnya dengan niat ingin merusaknya (tidak mengembalikan), maka Allah akan membinasakannya." (HR Bukhari).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa niat menjadi faktor yang sangat penting dalam urusan utang piutang.

Seseorang mungkin belum mampu membayar karena kesulitan ekonomi. Namun selama ia memiliki kesungguhan dan iktikad baik untuk melunasi, Allah SWT menjanjikan pertolongan kepadanya.

Sebaliknya, ketika seseorang sejak awal sudah memiliki niat untuk menghindari kewajiban atau mencari alasan agar tidak membayar, maka ia sedang membuka pintu kesulitan bagi dirinya sendiri.

Baca juga: Doa Agar Cepat Terbebas dari Hutang dalam Islam Lengkap dengan Artinya

Niat Buruk Bisa Menutup Pintu Rezeki

Dalam ceramahnya, Buya Yahya menjelaskan bahwa masalah utama bukan semata-mata jumlah utang yang dimiliki seseorang.

Yang lebih berbahaya adalah ketika dalam hati muncul keinginan untuk tidak melunasi utang tersebut.

"Kalau iya pinjam uang, hati-hati jika terbetik di hati anda ketidakmauan untuk membayar," ujar Buya Yahya.

Menurutnya, pada saat seseorang mulai meremehkan hak orang lain dan tidak memiliki niat mengembalikan pinjaman, saat itulah ia sedang melakukan bentuk kezaliman.

Kezaliman tersebut bukan hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi keberkahan hidupnya.

Buya Yahya mengingatkan bahwa Allah SWT dapat menyempitkan rezeki seseorang karena sikap buruk tersebut.

Hal ini bukan berarti setiap orang yang memiliki utang pasti miskin atau mengalami kesulitan ekonomi.

Yang dimaksud adalah hilangnya keberkahan, ketenangan, kemudahan, dan berbagai pintu kebaikan yang sebelumnya terbuka.

Rezeki Tidak Selalu Berarti Uang

Sering kali orang memahami rezeki hanya sebagai uang atau harta benda. Padahal para ulama menjelaskan bahwa rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas.

Kesehatan, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang nyaman, waktu yang bermanfaat, ilmu yang berkah, hingga ketenangan hati merupakan bagian dari rezeki yang diberikan Allah SWT.

Dalam buku Fiqh Muamalah karya Prof. Dr. H. Abdul Rahman Ghazaly dijelaskan bahwa transaksi dalam Islam tidak hanya dinilai dari aspek hukum, tetapi juga dari aspek moral dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, ketika seseorang mengabaikan hak orang lain, dampaknya tidak selalu terlihat dalam bentuk berkurangnya pendapatan.

Terkadang yang hilang justru ketenangan hidup, kesehatan, atau kemudahan dalam berbagai urusan.

Banyak orang memiliki penghasilan besar tetapi selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada yang penghasilannya sederhana namun hidupnya penuh keberkahan.

Inilah yang dalam Islam disebut sebagai keberkahan rezeki.

Baca juga: 4 Doa Memohon Rezeki, Lengkap Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya

Mengapa Utang Sangat Diperhatikan dalam Islam?

Perhatian Islam terhadap utang begitu besar hingga Rasulullah SAW pernah menunda pelaksanaan salat jenazah bagi seseorang yang masih memiliki utang dan belum ada yang menjamin pelunasannya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa utang bukan perkara ringan.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

"Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya hingga utang tersebut dilunasi."

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan pentingnya menyelesaikan tanggungan kepada sesama manusia sebelum seseorang meninggal dunia.

Karena itulah, dalam hukum waris Islam, pelunasan utang harus didahulukan sebelum harta peninggalan dibagikan kepada ahli waris.

Dalam buku Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi dijelaskan bahwa menzalimi orang lain dalam urusan harta termasuk perbuatan yang sangat berat konsekuensinya karena berkaitan dengan hak manusia (huququl ibad).

Ketika Utang Berubah Menjadi Kezaliman

Masalah terbesar bukanlah berutang, melainkan ketika seseorang sengaja menunda pembayaran padahal sebenarnya mampu.

Rasulullah SAW bersabda:

"Menunda pembayaran utang bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa seseorang tidak boleh mempermainkan kepercayaan orang lain.

Apalagi jika pinjaman tersebut diberikan atas dasar pertolongan dan rasa percaya.

Dalam kajian Buya Yahya disebutkan bahwa sikap enggan membayar utang termasuk bentuk kekurangajaran terhadap orang yang telah membantu.

Orang yang memberikan pinjaman sesungguhnya telah meringankan beban saudaranya. Karena itu, mengkhianati kepercayaan tersebut merupakan perbuatan yang sangat tercela.

Baca juga: Jangan Tidur setelah Subuh, Ini Keutamaan Rezeki di Waktu Pagi

Cara Agar Utang Tidak Menjadi Penghalang Rezeki

Islam mengajarkan beberapa langkah agar utang tidak berubah menjadi beban yang menghambat keberkahan hidup.

Pertama, hanya berutang ketika benar-benar membutuhkan.

Kedua, mencatat utang dengan jelas sebagaimana diperintahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 282.

Ketiga, memiliki niat kuat untuk melunasi sejak awal.

Keempat, berusaha membayar tepat waktu dan tidak menghindari pemberi pinjaman.

Kelima, memperbanyak doa agar Allah SWT memberikan kemudahan dalam melunasi utang.

Rasulullah SAW sendiri mengajarkan doa:

"Allahumma inni a'udzu bika minal ma'tsami wal maghram."

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang."

Doa ini menunjukkan bahwa utang merupakan perkara yang perlu diwaspadai karena dapat membawa seseorang pada tekanan hidup yang berat apabila tidak dikelola dengan baik.

Rezeki yang Berkah Berawal dari Kejujuran

Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk takut berutang secara berlebihan. Yang ditekankan adalah kejujuran, tanggung jawab, dan kesungguhan dalam memenuhi hak orang lain.

Ketika seseorang menjaga amanah, berusaha melunasi kewajibannya, dan tidak berniat menzalimi sesama, Allah SWT menjanjikan pertolongan serta kemudahan.

Sebaliknya, jika utang disertai niat buruk, pengkhianatan, atau keengganan untuk membayar, maka bukan hanya hubungan dengan manusia yang rusak, tetapi juga keberkahan hidup yang bisa ikut berkurang.

Karena itu, sebelum meminjam uang, setiap Muslim perlu memastikan bahwa dirinya siap memegang amanah tersebut.

Sebab dalam pandangan Islam, utang bukan sekadar angka yang harus dibayar, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ratusan Jemaah Haji Pulang Lebih Awal Lewat Program Tanazul karena Sakit, Ini Prosedurnya
Ratusan Jemaah Haji Pulang Lebih Awal Lewat Program Tanazul karena Sakit, Ini Prosedurnya
Aktual
Mengapa Sedekah di Bulan Muharram Istimewa? Ini 4 Keutamaannya
Mengapa Sedekah di Bulan Muharram Istimewa? Ini 4 Keutamaannya
Aktual
Mencicipi Bakso Pak Omar di Jabal Uhud, Juga Digemari oleh Warga Saudi
Mencicipi Bakso Pak Omar di Jabal Uhud, Juga Digemari oleh Warga Saudi
Aktual
Hati-hati, Niat Tak Membayar Utang Bisa Membuat Rezeki Seret
Hati-hati, Niat Tak Membayar Utang Bisa Membuat Rezeki Seret
Aktual
Niat Shalat Qashar Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Niat Shalat Qashar Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Doa dan Niat
Niat Shalat Jamak Taqdim dan Jamak Takhir Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Niat Shalat Jamak Taqdim dan Jamak Takhir Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Doa dan Niat
Madinah Bertransformasi Pesat, Dikunjungi 21 Juta Wisatawan dalam Setahun
Madinah Bertransformasi Pesat, Dikunjungi 21 Juta Wisatawan dalam Setahun
Aktual
Gus Ipul Sebut Nasaruddin Umar Layak Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Gus Ipul Sebut Nasaruddin Umar Layak Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Aktual
Ada Kalimat Syahadat, FIFA Perlakukan Bendera Arab Saudi Secara Khusus
Ada Kalimat Syahadat, FIFA Perlakukan Bendera Arab Saudi Secara Khusus
Aktual
HUT Jakarta Ke-499, Haul Akbar Ulama Betawi Siap Digelar di Monas
HUT Jakarta Ke-499, Haul Akbar Ulama Betawi Siap Digelar di Monas
Aktual
142 Jemaah Haji Sakit Dipulangkan Lewat Tanazul, Ini Prosesnya
142 Jemaah Haji Sakit Dipulangkan Lewat Tanazul, Ini Prosesnya
Aktual
Bolehkah Melagukan Bacaan Al-Quran? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Melagukan Bacaan Al-Quran? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Arkeolog Temukan Kota Jalur Sutra Tenggelam, Ada Jejak Peradaban Islam
Arkeolog Temukan Kota Jalur Sutra Tenggelam, Ada Jejak Peradaban Islam
Aktual
Menapaki Jejak Rasulullah Saat Perang Badar dan Lokasi Jabal Malaikat
Menapaki Jejak Rasulullah Saat Perang Badar dan Lokasi Jabal Malaikat
Aktual
7 Cara Allah SWT Menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Saat Isra Miraj
7 Cara Allah SWT Menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Saat Isra Miraj
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com