MAKKAH, KOMPAS.com - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) memfasilitasi kepulangan lebih awal bagi jemaah haji yang sakit melalui program tanazul.
Lewat program ini, jemaah dengan indikasi medis tertentu dapat langsung diterbangkan kembali ke Tanah Air tanpa harus menunggu jadwal resmi kepulangan kloternya.
Penanggung Jawab (Pj) Evakuasi Tanazul KKHI Makkah, dr. Syougie SpKP, memaparkan bahwa program ini dirancang khusus bagi mereka yang kondisinya sudah dinyatakan layak terbang setelah melewati evaluasi ketat.
Baca juga: 142 Jemaah Haji Sakit Dipulangkan Lewat Tanazul, Ini Prosesnya
“Jadi program tanazul ini merupakan program di mana jemaah haji atas indikasi medis itu dipulangkan lebih awal dari kloternya atau jika jemaah hajinya dirawat di rumah sakit dan kloternya telah pulang ke Indonesia itu kita pulangkan,” terang dr Syougie di Makkah, Selasa (16/6/2026).
Meski menawarkan kepulangan lebih awal, proses evakuasi ini tidak sembarangan. Keselamatan penerbangan adalah tolok ukur utama sebelum jemaah diberangkatkan.
Dokter yang juga bertugas di RS UI tersebut menegaskan bahwa setiap jemaah, baik yang memiliki komorbid maupun yang baru saja keluar dari perawatan rumah sakit, wajib melewati serangkaian asesmen medis.
Baca juga: Mengenal Dua Skema Tanazul Saat Kepulangan Jemaah Haji Indonesia
Tim kesehatan akan mengevaluasi stabilitas kondisi pasien dan melibatkan dokter penanggung jawab (DPJP) yang secara spesifik menangani keluhan penyakit jemaah tersebut.
“Contoh misalnya dia ada masalah jantung kita konsulkan ke penyakit jantung, dia pasca-stroke kita konsulkan ke dokter saraf. Setelah itu baru nanti hasilnya kita nilai apakah layak untuk terbang atau tidak, baru nanti kita programkan untuk mutasi kloternya ke Yanpul,” rincinya.
Fasilitas tanazul ini mendapat atensi yang cukup tinggi. Tercatat, ratusan permohonan telah masuk ke meja KKHI, meskipun pada praktiknya tidak semua pengajuan berujung pada evakuasi.
“Sampai Minggu malam 142. Kalau untuk permohonan itu 334, belum termasuk yang hari ini ada 33 permohonan,” ungkapnya.
Banyaknya permohonan yang pada akhirnya tidak tereksekusi lewat jalur tanazul, seringkali terjadi karena kondisi sang jemaah sudah pulih dan memungkinkan untuk pulang bersama rombongan aslinya.
“Ada hampir 400 permohonan yang masuk tetapi itu baru permohonan saja karena kadang mereka telah memohonkan tetapi jemaahnya telah pulang, itu bisa kembali dengan kloternya. Jadi permohonannya bukan ditolak tetapi dia tidak jadi kita tanazulkan,” jelas dokter berbadan tegap ini.
Meski penuh dinamika, pengawasan medis dipastikan terus berjalan optimal hingga detik-detik keberangkatan.
Jemaah yang ditanazulkan akan terus didampingi dan dipantau secara berkala oleh petugas kesehatan dari ruang tunggu hingga masuk ke kabin pesawat menuju Indonesia.
“Kalau dia memang sudah ada jadwalnya itu tidak terlalu lama dari jadwal penerbangan karena yang amannya itu enam jam sebelum penerbangan jemaah sudah ada di bandara. Tapi untuk jemaah sakit kita akan nilai ulang sebelum penerbangan,” tutupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang