Editor
KOMPAS.com - Wahyu merupakan petunjuk yang Allah SWT turunkan kepada para rasul untuk disampaikan kepada umat manusia.
Dilansir dari laman MUI, dalam bahasa Arab, kata "wahyu" berasal dari akar kata wahy yang berarti memberitahukan dengan cepat dan rahasia.
Secara istilah, wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada para nabi dan rasul-Nya melalui berbagai cara yang telah Allah SWT tentukan.
Baca juga: Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam
Melalui wahyu, Nabi Muhammad SAW menerima ajaran, perintah, larangan, serta pedoman hidup yang kemudian menjadi dasar syariat Islam.
Proses turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW tidak hanya terjadi dalam satu bentuk, melainkan melalui beberapa cara yang berbeda sesuai kehendak Allah SWT.
Baca juga: Sejarah Singkat Nuzulul Quran: Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama kepada Nabi Muhammad SAW
Cara turunnya wahyu kepada para nabi memiliki keragaman yang menakjubkan. Mulai dari yang paling sederhana berupa mimpi, hingga yang paling mulia yaitu komunikasi langsung dengan Allah tanpa perantara.
Penjelasan mengenai cara-cara penyampaian wahyu tersebut dijelaskan oleh Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Sirah Nabawiyah dengan mengutip pendapat Ibnu Qayyim.
Cara pertama Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW adalah melalui mimpi yang hakiki atau mimpi yang benar.
Mimpi tersebut menjadi salah satu bentuk awal penyampaian wahyu sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu secara langsung dalam bentuk lainnya.
Dalam riwayat sejarah, mimpi yang dilihat Nabi Muhammad SAW selalu menjadi kenyataan sebagaimana yang beliau lihat.
Cara kedua adalah melalui bisikan yang ditanamkan ke dalam jiwa dan hati Nabi tanpa melihat sosok penyampainya.
Terkait hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ رُوحَ القُدُسِ نفثَ في رُوعِي ، أنَّ نفسًا لَن تموتَ حتَّى تستكمِلَ أجلَها ، وتستوعِبَ رزقَها ، فاتَّقوا اللهَ ، وأجمِلُوا في الطَّلَبِ ، ولا يَحمِلَنَّ أحدَكم استبطاءُ الرِّزقِ أن يطلُبَه بمَعصيةِ اللهِ ، فإنَّ اللهَ تعالى لا يُنالُ ما عندَه إلَّا بِطاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruhul-Qudus menghembuskan ke dalam diriku, bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurkan Rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah, baguskan dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rezeki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menaati-Nya.’’
Pada cara ketiga, malaikat hadir di hadapan Nabi Muhammad SAW dengan menyerupai seorang laki-laki.
Malaikat tersebut berbicara langsung kepada Rasulullah SAW sehingga beliau dapat memahami dan menerima wahyu yang disampaikan.
Dalam beberapa peristiwa, para sahabat juga dapat melihat penampakan malaikat yang datang dalam wujud manusia tersebut.
Bentuk penyampaian wahyu berikutnya adalah suara yang menyerupai gemerincing lonceng.
Menurut para ulama, bentuk wahyu ini merupakan yang paling berat diterima oleh Nabi Muhammad SAW.
Saat menerima wahyu tersebut, Rasulullah SAW tidak dapat melihat malaikat yang menyampaikannya.
Beliau sering kali berkeringat meskipun cuaca sedang dingin dan terlihat menanggung beban yang sangat berat.
Bahkan, jika sedang menunggang hewan, hewan tersebut dapat menderum ke tanah karena beratnya wahyu yang turun.
Peristiwa serupa juga pernah terjadi ketika paha Rasulullah SAW berada di atas paha Zaid bin Tsabit hingga Zaid merasakan beban yang sangat berat dan hampir tidak mampu menahannya.
Cara kelima adalah ketika malaikat menampakkan diri dalam rupa aslinya.
Peristiwa ini terjadi dua kali kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam keadaan tersebut, malaikat datang untuk menyampaikan wahyu sesuai kehendak Allah SWT.
Peristiwa ini disebutkan Allah SWT dalam Surat An-Najm ayat 13-18:
وَلَقَدۡ رَاٰهُ نَزۡلَةً اُخۡرٰىۙ ١٣ عِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰى ١٤ عِنۡدَهَا جَنَّةُ الۡمَاۡوٰىؕ ١٥ اِذۡ يَغۡشَى السِّدۡرَةَ مَا يَغۡشٰىۙ ١٦ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَمَا طَغٰى ١٧ لَقَدۡ رَاٰى مِنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِ الۡكُبۡرٰى ١٨
"Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (QS An-Najm: 13-18)
Cara keenam terjadi ketika Allah SWT menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW di lapisan-lapisan langit pada malam Isra Mi'raj.
Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW menerima sejumlah ketetapan penting bagi umat Islam.
Salah satu wahyu yang diterima adalah perintah kewajiban melaksanakan shalat.
Cara terakhir adalah ketika Allah SWT berfirman langsung kepada nabi tanpa perantara malaikat.
Bentuk wahyu seperti ini dikenal dalam kisah Nabi Musa AS yang berbicara langsung dengan Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surah An-Nisa ayat 164.
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS An-Nisa: 164).
Sementara bagi Nabi Muhammad SAW, bentuk komunikasi langsung tersebut disebutkan dalam riwayat yang berkaitan dengan peristiwa Isra Mi'raj.
Ketujuh cara tersebut menunjukkan bahwa wahyu merupakan bentuk komunikasi khusus yang Allah SWT berikan kepada para nabi dan rasul.
Melalui berbagai cara penyampaian itu, Nabi Muhammad SAW menerima petunjuk yang kemudian menjadi dasar ajaran Islam dan pedoman hidup bagi umat Muslim hingga akhir zaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang