Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Sedekah di Bulan Muharram Istimewa? Ini 4 Keutamaannya

Kompas.com, 17 Juni 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ketika tahun baru Hijriah tiba, banyak umat Islam mulai menyusun berbagai target ibadah untuk satu tahun ke depan.

Namun tidak sedikit yang lupa bahwa bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian kalender Islam, melainkan salah satu bulan paling mulia yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus termasuk dalam empat bulan haram (Asyhurul Hurum) yang disebutkan secara khusus dalam Al-Qur'an.

Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu." (QS At-Taubah: 36).

Keistimewaan Muharram juga terlihat dari penyebutan Rasulullah SAW terhadap bulan ini sebagai Syahrullah atau "bulan Allah".

Gelar tersebut tidak diberikan kepada bulan lain selain Muharram, menunjukkan kemuliaan yang sangat tinggi.

Dalam kitab Latha'if al-Ma'arif, ulama besar abad ke-8 Hijriah, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, menjelaskan bahwa penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan kehormatan dan keutamaannya dibanding bulan-bulan lainnya.

Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam memanfaatkan Muharram sebagai momentum memperbanyak amal kebajikan, termasuk sedekah dan berbagai bentuk kepedulian sosial.

Lalu, apa saja keutamaan bersedekah dan berbuat baik di bulan Muharram?

1. Sedekah di Hari Asyura Menjadi Momentum Meraih Pahala Berlipat

Salah satu hari paling istimewa di bulan Muharram adalah tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura.

Hari ini memiliki banyak keutamaan dalam tradisi Islam. Selain dianjurkan berpuasa, sebagian ulama juga menyebut adanya keutamaan memperbanyak sedekah dan berbagi kepada sesama.

Terdapat riwayat dari Abdullah bin Amr bin al-Ash yang menyebut:

"Barang siapa berpuasa pada hari Asyura maka seakan-akan ia berpuasa setahun, dan barang siapa bersedekah pada hari itu maka seakan-akan ia bersedekah selama setahun."

Meski para ahli hadis berbeda pendapat mengenai tingkat kekuatan sanad riwayat tersebut, semangat memperbanyak amal saleh pada hari Asyura tetap mendapatkan dukungan dari banyak ulama.

Dalam buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram karya Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dijelaskan bahwa Muharram merupakan waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak amal kebajikan karena berada dalam salah satu musim ketaatan yang dimuliakan Allah.

Sedekah pada hari Asyura juga menjadi sarana membersihkan harta sekaligus menumbuhkan rasa empati terhadap mereka yang membutuhkan.

Bagi masyarakat modern yang hidup di tengah berbagai tantangan ekonomi, sedekah tidak harus selalu berupa uang dalam jumlah besar.

Memberikan makanan kepada tetangga, membantu biaya pendidikan anak yatim, atau berbagi kebutuhan pokok kepada kaum dhuafa juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai besar di sisi Allah SWT.

Baca juga: Puasa Muharram Harus Berurutan atau Tidak? Simak Penjelasan Ulama

2. Melapangkan Nafkah Keluarga, Membuka Pintu Kelapangan Rezeki

Bentuk kebaikan yang sering terlupakan saat Muharram adalah membahagiakan keluarga sendiri.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa siapa yang melapangkan nafkah keluarganya pada hari Asyura, maka Allah SWT akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh sejumlah ulama, di antaranya Imam At-Thabarani dan Imam Al-Baihaqi.

Dalam kitab I'anatut Thalibin, Sayyid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi menjelaskan bahwa yang dimaksud melapangkan keluarga bukan sekadar memberikan uang lebih banyak, melainkan berusaha mencukupi kebutuhan keluarga dengan lebih baik dibanding hari-hari biasa.

Bentuknya bisa sangat sederhana.

Ada yang membelikan makanan favorit anak-anaknya. Ada yang mengajak keluarga makan bersama. Ada pula yang memberikan hadiah kecil sebagai bentuk kasih sayang.

Nilai utama dari amalan ini bukan terletak pada besarnya pengeluaran, tetapi pada niat menghadirkan kebahagiaan dan rasa syukur di tengah keluarga.

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain bahkan menyebut bahwa hadis mengenai puasa Asyura dan melapangkan nafkah keluarga merupakan riwayat yang paling kuat dibanding sejumlah amalan lain yang sering dikaitkan dengan hari Asyura.

Dalam kehidupan modern yang serba sibuk, anjuran ini menjadi pengingat bahwa keluarga juga berhak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan kebahagiaan dari orang-orang terdekatnya.

3. Menyantuni Anak Yatim, Jalan Menuju Kedekatan dengan Rasulullah

Muharram juga identik dengan tradisi menyantuni anak yatim.

Di berbagai daerah di Indonesia, bulan ini sering diisi dengan kegiatan sosial berupa santunan, pemberian bantuan pendidikan, hingga penyelenggaraan acara khusus bagi anak-anak yatim.

Tradisi tersebut memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

"Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga seperti ini."

Beliau kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah yang saling berdekatan. (HR Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang peduli terhadap anak yatim.

Dalam kitab Latha'if al-Ma'arif, Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa memperhatikan kelompok lemah dan membutuhkan merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Menyantuni anak yatim tidak hanya berarti memberikan bantuan materi. Mengajarkan ilmu, mendampingi pendidikan mereka, membantu memenuhi kebutuhan psikologis, hingga memberikan perhatian dan kasih sayang juga termasuk bentuk kepedulian yang sangat bernilai.

Di era saat ini, ketika masih banyak anak kehilangan orang tua akibat berbagai faktor sosial dan ekonomi, semangat menyantuni anak yatim menjadi semakin relevan.

Muharram menjadi momen yang tepat untuk menghidupkan kembali budaya kepedulian sosial tersebut.

Baca juga: Puasa Muharram 2026 Kapan? Ini Jadwal Lengkap Versi Pemerintah, NU dan Muhammadiyah

4. Menjemput Keberkahan Hidup Melalui Berbagai Amal Kebaikan

Keutamaan Muharram sesungguhnya tidak terbatas pada satu atau dua jenis ibadah saja.

Para ulama menjelaskan bahwa seluruh amal saleh yang dilakukan pada bulan mulia ini memiliki nilai yang lebih besar dibanding waktu-waktu biasa.

Dalam kitab Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa larangan menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan haram menunjukkan bahwa dosa menjadi lebih berat, sementara amal saleh juga memiliki kedudukan yang lebih agung.

Karena itu, Muharram menjadi kesempatan emas untuk memulai tahun baru Hijriah dengan berbagai kebiasaan baik.

Di antaranya:

  • Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.
  • Membantu kerabat yang sedang kesulitan.
  • Menjaga silaturahmi.
  • Memperbanyak dzikir dan istighfar.
  • Menghadiri majelis ilmu.
  • Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari.
  • Memulai program wakaf atau infak rutin.
  • Menebarkan kebahagiaan kepada sesama.

Dalam buku The Spirit of Islamic Giving karya Shariq Nisar dijelaskan bahwa sedekah tidak hanya berdampak pada penerima, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas spiritual, empati sosial, dan kebahagiaan pemberinya. Inilah mengapa Islam sangat menekankan pentingnya berbagi.

Keberkahan tidak selalu hadir dalam bentuk bertambahnya harta. Kadang ia hadir melalui kesehatan yang terjaga, keluarga yang harmonis, hati yang tenang, pekerjaan yang lancar, serta kemudahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Baca juga: 6 Bulan Istimewa untuk Menikah Menurut Islam, Ada Muharram dan Syawal

Muharram, Awal Tahun yang Tepat untuk Menanam Kebaikan

Muharram bukan hanya awal kalender Islam, tetapi juga momentum untuk memulai lembaran baru dengan amal-amal terbaik.

Jika banyak orang membuat resolusi di awal tahun, Islam mengajarkan cara yang lebih mendalam: memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Melalui sedekah, menyantuni anak yatim, melapangkan nafkah keluarga, menjaga silaturahmi, dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim sedang menanam benih keberkahan yang akan dipanen sepanjang tahun.

Sebagaimana dinukil Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dari Hasan al-Bashri:

"Allah membuka awal tahun dengan bulan haram, yaitu Muharram, dan menutupnya dengan bulan haram, yaitu Dzulhijjah. Tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadhan yang lebih utama daripada Muharram."

Karena itu, jangan biarkan Muharram berlalu begitu saja. Bisa jadi satu sedekah yang diberikan dengan ikhlas, satu anak yatim yang dibahagiakan, atau satu kebaikan kecil yang dilakukan pada bulan mulia ini menjadi sebab datangnya keberkahan yang Allah bentangkan sepanjang tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ratusan Jemaah Haji Pulang Lebih Awal Lewat Program Tanazul karena Sakit, Ini Prosedurnya
Ratusan Jemaah Haji Pulang Lebih Awal Lewat Program Tanazul karena Sakit, Ini Prosedurnya
Aktual
Mengapa Sedekah di Bulan Muharram Istimewa? Ini 4 Keutamaannya
Mengapa Sedekah di Bulan Muharram Istimewa? Ini 4 Keutamaannya
Aktual
Mencicipi Bakso Pak Omar di Jabal Uhud, Juga Digemari oleh Warga Saudi
Mencicipi Bakso Pak Omar di Jabal Uhud, Juga Digemari oleh Warga Saudi
Aktual
Hati-hati, Niat Tak Membayar Utang Bisa Membuat Rezeki Seret
Hati-hati, Niat Tak Membayar Utang Bisa Membuat Rezeki Seret
Aktual
Niat Shalat Qashar Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Niat Shalat Qashar Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Doa dan Niat
Niat Shalat Jamak Taqdim dan Jamak Takhir Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Niat Shalat Jamak Taqdim dan Jamak Takhir Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Doa dan Niat
Madinah Bertransformasi Pesat, Dikunjungi 21 Juta Wisatawan dalam Setahun
Madinah Bertransformasi Pesat, Dikunjungi 21 Juta Wisatawan dalam Setahun
Aktual
Gus Ipul Sebut Nasaruddin Umar Layak Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Gus Ipul Sebut Nasaruddin Umar Layak Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Aktual
Ada Kalimat Syahadat, FIFA Perlakukan Bendera Arab Saudi Secara Khusus
Ada Kalimat Syahadat, FIFA Perlakukan Bendera Arab Saudi Secara Khusus
Aktual
HUT Jakarta Ke-499, Haul Akbar Ulama Betawi Siap Digelar di Monas
HUT Jakarta Ke-499, Haul Akbar Ulama Betawi Siap Digelar di Monas
Aktual
142 Jemaah Haji Sakit Dipulangkan Lewat Tanazul, Ini Prosesnya
142 Jemaah Haji Sakit Dipulangkan Lewat Tanazul, Ini Prosesnya
Aktual
Bolehkah Melagukan Bacaan Al-Quran? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Melagukan Bacaan Al-Quran? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Arkeolog Temukan Kota Jalur Sutra Tenggelam, Ada Jejak Peradaban Islam
Arkeolog Temukan Kota Jalur Sutra Tenggelam, Ada Jejak Peradaban Islam
Aktual
Menapaki Jejak Rasulullah Saat Perang Badar dan Lokasi Jabal Malaikat
Menapaki Jejak Rasulullah Saat Perang Badar dan Lokasi Jabal Malaikat
Aktual
7 Cara Allah SWT Menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Saat Isra Miraj
7 Cara Allah SWT Menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Saat Isra Miraj
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com