Editor
KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI akan mengevaluasi program city tour atau tur kota dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Evaluasi dilakukan setelah ditemukan indikasi sebagian jemaah mengalami kelelahan akibat padatnya aktivitas sebelum maupun setelah puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kesehatan jemaah, terutama setelah menjalani rangkaian ibadah yang menguras tenaga.
Baca juga: Kemenhaj Seragamkan Pelatihan Petugas Haji Pusat dan Daerah untuk Tingkatkan Layanan di 2027
Karena itu, aspek kesehatan dan keselamatan jemaah akan menjadi perhatian utama dalam penyusunan kebijakan penyelenggaraan ibadah haji pada musim berikutnya.
Dilansir dari Antara, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf mengatakan pihaknya mencermati adanya kegiatan city tour yang diikuti jemaah setelah menyelesaikan rangkaian Armuzna.
Baca juga: Kemenhaj: Sebanyak 120 Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi
“Kami amati lagi memang pasca-Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) banyak yang langsung diajak city tour, diajak ke mana-mana, yang membuat mereka lelah, sehingga kami akan mengevaluasi lagi kebijakan kita tentang city tour,” ujar Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Selasa (23/6/2026).
Menurut Menhaj Irfan, sejumlah peserta haji diketahui langsung mengikuti kunjungan ke berbagai lokasi sebelum maupun setelah menyelesaikan rangkaian Armuzna.
Kegiatan tersebut mencakup perjalanan ke sejumlah destinasi di luar Makkah, seperti Thaif dan Jeddah.
Menhaj Irfan menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena berpotensi berdampak pada kesehatan jemaah, terutama mengingat tingginya tingkat kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah haji yang padat.
“Ini dapat sangat mempengaruhi kesehatan jamaah kita,” ucap Menhaj Irfan.
Ia menegaskan bahwa aspek kesehatan dan keselamatan jemaah akan menjadi pertimbangan utama dalam menyusun kebijakan penyelenggaraan ibadah haji pada musim berikutnya.
Mayoritas Jemaah Wafat karena Pneumonia dan Kelelahan
Menurut Menhaj Irfan, hingga saat ini tercatat sebanyak 350 jemaah haji Indonesia meninggal dunia di Arab Saudi.
Mayoritas jemaah yang wafat disebabkan oleh pneumonia dan faktor kelelahan akibat aktivitas berat yang tidak dibarengi kondisi fisik yang prima.
“Sebagian, sebagian karena pernapasan, Pneumonia. Tapi juga sebagian besar karena kelelahan. Karena itu kita pantau sebagian besar yang meninggal itu, yang meningkat itu setelah pasca-Armuzna,” ujar Menhaj Irfan.
Selain mengevaluasi program city tour, Kemenhaj juga akan memperkuat penerapan istitha'ah kesehatan untuk menekan angka perawatan dan kematian jemaah haji yang masih tergolong tinggi.
Menurut Menhaj Irfan, selama ini Indonesia sudah memiliki standar istitha'ah kesehatan. Namun, pelaksanaannya di berbagai daerah masih belum merata.
“Selama ini kita sudah punya standar kesehatan istitha'ah, hanya saja memang kita akui ada perbedaan pelaksanaannya di beberapa daerah. Ada daerah yang bagus menjalankannya, ada yang kurang bagus, sehingga ini juga menjadi salah satu tugas kami untuk bisa menyamaratakan standar istitha'ah kesehatan kita,” kata Menhaj Irfan.
Evaluasi program city tour dan penguatan standar istitha'ah kesehatan menjadi bagian dari upaya Kemenhaj untuk meningkatkan perlindungan jemaah pada musim haji mendatang.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat menekan risiko kelelahan dan masalah kesehatan sehingga penyelenggaraan ibadah haji dapat berlangsung lebih aman dan nyaman bagi seluruh jemaah Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang