Editor
KOMPAS.com - Bulan Muharram menjadi salah satu bulan istimewa dalam Islam karena di dalamnya terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan, yakni puasa Tasua dan puasa Asyura.
Kedua puasa tersebut dilaksanakan pada 9 dan 10 Muharram serta memiliki keutamaan besar bagi umat Muslim yang mengerjakannya.
Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan atau kemampuan untuk menjalankan kedua puasa tersebut secara berurutan.
Baca juga: 3 Perbedaan Puasa Tasua dan Asyura, dari Waktu Pelaksanaan hingga Sejarahnya
Lantas, bagaimana hukumnya jika seseorang hanya melaksanakan puasa Asyura pada 10 Muharram tanpa didahului puasa Tasua pada 9 Muharram?
Dilansir dari Antara, menurut penjelasan para ulama, puasa Asyura pada 10 Muharram merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.
Baca juga: Puasa Tasua dan Asyura 2026 Tinggal Hitungan Hari, Catat Jadwal dan Niatnya
Sementara itu, anjuran menjalankan puasa Tasua pada 9 Muharram maupun puasa pada 11 Muharram bertujuan menyempurnakan amalan dan membedakan ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi.
Walau begitu, kedua puasa tersebut bukan menjadi syarat sah puasa Asyura.
Dalam kitab-kitab fiqih rujukan, seperti Fathul Mu'in karya Syekh Zainuddin Al-Malibari, dijelaskan bahwa puasa Asyura tanpa didahului puasa Tasua tetap diperbolehkan.
Bahkan, dalam mazhab Syafi'i tidak terdapat larangan maupun kemakruhan bagi seseorang yang hanya berpuasa pada 10 Muharram.
Dengan demikian, umat Islam yang hanya mampu berpuasa pada hari Asyura tetap sah menjalankan ibadahnya dan tetap mendapatkan keutamaan serta pahala sebagaimana dijanjikan dalam hadits.
"Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA, 'sungguh Rasulullah SAW bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab, "Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat"." (HR Muslim).
Meski demikian, bagi umat Muslim yang ingin menyempurnakan amalan puasa Asyura tetapi tidak sempat menjalankan puasa Tasua pada 9 Muharram, masih dapat berpuasa pada hari setelah Asyura, yakni 11 Muharram.
Seperti diketahui, salah satu keistimewaan bulan Muharram adalah adanya Hari Asyura yang bertepatan dengan 10 Muharram.
Dalam sejarah Islam, Hari Asyura dikaitkan dengan berbagai peristiwa besar, salah satunya ketika Nabi Musa AS diselamatkan Allah SWT dari kejaran tentara Fir'aun.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, Nabi Musa AS kemudian berpuasa pada hari tersebut.
Amalan itu juga diketahui dilakukan oleh kaum Yahudi pada masa Jahiliyah.
Sementara itu, Nabi Muhammad SAW melaksanakan puasa Asyura bukan karena mengikuti ajaran umat lain, melainkan sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah SWT kepada beliau sebagai penerima wahyu.
Untuk membedakan amalan umat Islam dengan kaum Yahudi, Rasulullah SAW kemudian memerintahkan para sahabat dan umat Muslim untuk berpuasa pada 9 Muharram atau Tasua, sehari sebelum puasa Asyura, atau berpuasa pada 11 Muharram setelah Hari Asyura.
Karena itu, puasa Asyura tetap dapat dijalankan meski tanpa didahului puasa Tasua. Namun, mengiringinya dengan puasa pada 9 atau 11 Muharram menjadi bentuk penyempurnaan amalan yang dianjurkan dalam tradisi ibadah umat Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang