Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenhaj Sumbar Gagas Gerakan Haji Muda, Pelajar Diajak Menabung Mulai Rp 2.000 per Hari

Kompas.com, 1 Juli 2026, 17:42 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumatera Barat menggagas Program Gerakan Haji Muda sebagai upaya membangun budaya menabung haji sejak usia dini.

Program ini menyasar pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas agar lebih siap menunaikan ibadah haji pada usia produktif.

Melalui kebiasaan menyisihkan sebagian kecil uang jajan setiap hari, peserta didik diharapkan mulai merencanakan perjalanan hajinya sejak dini.

Baca juga: BPKH Pangkas Anggaran Operasional Rp100 Miliar pada 2026, Fokus Jaga Dana Haji

Kemenhaj juga menggandeng perbankan syariah agar pembukaan rekening tabungan haji dapat dilakukan tanpa biaya.

Gerakan Haji Muda Ajak Pelajar Menabung Haji Sejak Dini

Kepala Kantor Wilayah Kemenhaj Sumatera Barat M. Rifki mengatakan Gerakan Haji Muda merupakan salah satu implementasi penguatan ekosistem haji di Indonesia.

Baca juga: Arab Saudi Resmi Tutup Operasional Haji 2026, Kloter Terakhir Jamaah Tinggalkan Tanah Suci

"Melalui program gerakan haji muda Kemenhaj berupaya menumbuhkan budaya menabung haji sejak dini," kata Rifki di Padang, Rabu.

Menurut Rifki, program tersebut juga menjadi ikhtiar untuk mempersiapkan generasi yang mampu menunaikan rukun Islam kelima pada usia yang lebih produktif.

Program ini akan menyasar peserta didik mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Para pelajar diajak membuka rekening tabungan haji secara sukarela sekaligus membiasakan diri menyisihkan sebagian kecil uang jajan secara rutin.

Rekening Tabungan Haji Dibuka Tanpa Biaya

Rifki menjelaskan, Gerakan Haji Muda akan dijalankan melalui kolaborasi dengan bank penerima setoran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) dan perbankan syariah.

Melalui kerja sama tersebut, pelajar dapat membuka rekening tabungan haji tanpa dikenakan biaya pembukaan rekening.

Ia mengingatkan bahwa masa tunggu haji saat ini masih cukup panjang sehingga persiapan perlu dilakukan sejak dini.

"Kalau hari ini seseorang baru mendaftar haji, masa tunggunya sekitar 26 tahun. Oleh karena itu, persiapan harus dimulai sejak dini di mana anak-anak harus dibiasakan merencanakan perjalanan hajinya," kata dia.

Pelajar Cukup Sisihkan Rp 2.000 per Hari

Rifki menegaskan Gerakan Haji Muda bukanlah program yang membebani siswa, melainkan membangun kebiasaan menabung dengan nominal yang ringan.

Menurutnya, apabila seorang pelajar mampu menyisihkan Rp 2.000 setiap hari, dalam satu bulan tabungannya dapat mencapai sekitar Rp 50.000 hingga Rp 60.000.

Dalam setahun, jumlah tersebut dapat terkumpul sekitar Rp 600.000 sebagai langkah awal membangun kesiapan berhaji sejak usia muda.

"Nilainya mungkin terlihat kecil, tetapi kalau dilakukan secara disiplin dan berkelanjutan akan menjadi bekal besar bagi anak-anak kita untuk mewujudkan cita-cita berangkat ke tanah suci," katanya.

Gubernur Sumbar Dukung Gerakan Haji Muda

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyambut baik gagasan Gerakan Haji Muda yang diinisiasi Kanwil Kemenhaj Sumbar.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya memperkuat ekosistem haji, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Sumatera Barat.

"Program ini berpeluang memberikan keuntungan positif bagi Sumatera Barat," ujarnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar