Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag: Jangan Belajar Al-Qur'an Hanya untuk Ilmu, Tapi untuk Mendekat kepada Allah

Kompas.com, 11 Juli 2026, 14:19 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa tujuan utama mempelajari Al-Qur'an bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, ilmu yang dipelajari tanpa landasan spiritual berpotensi kehilangan arah.

Pesan itu disampaikan Menag saat menghadiri Wisuda Akbar Program I'dadi, Tahsin, dan Tahfidz Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sains Nurani Tahun Ajaran 2025–2026 di Ronatama Convention Hall, Depok, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2026).

"Dalam Islam itu ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu ayat pertama berbunyi Iqra' bismi rabbika, bukan sekadar iqra' saja," ujar Nasaruddin Umar.

Menag menjelaskan, frasa Iqra' bismi rabbika mengandung makna bahwa aktivitas membaca, meneliti, dan mencari ilmu harus selalu dilandasi kesadaran akan kehadiran Allah. Menurutnya, pendidikan yang hanya mengejar aspek intelektual tanpa nilai ketuhanan dapat kehilangan orientasi.

"Kalau pendidikan tanpa bismillahirrahmanirrahim, itu berbahaya. Di pesantren ada iqra' dan ada bismillahirrahmanirrahim. Artinya ilmu selalu dikaitkan dengan Allah," katanya.

Baca juga: Pertemuan dengan Dubes Arab Saudi, Menag Bahas Rencana Konferensi Imam Dunia 2026 di Jakarta

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengajak para santri memahami Al-Qur'an secara lebih mendalam. Ia menilai menghafal Al-Qur'an merupakan langkah awal yang sangat mulia, tetapi tidak boleh berhenti pada hafalan semata.

"Anda menghafal Al-Qur'an jangan berhenti pada hafalan. Teruslah belajar agar memahami makna, isyarat, hingga hikmah yang terkandung di dalamnya," ujarnya.

Menurut Menag, Al-Qur'an memiliki lapisan makna yang sangat luas. Karena itu, seorang muslim perlu terus belajar agar mampu menangkap pesan-pesan ilahiah yang lebih dalam, bukan hanya memahami makna tekstualnya.

Ia mengutip pandangan ulama yang menyebut Al-Qur'an memiliki tingkatan pemahaman, mulai dari makna lahiriah hingga hakikat yang lebih mendalam. Oleh sebab itu, proses belajar Al-Qur'an tidak boleh berhenti setelah seseorang mampu membaca atau menghafalnya.

Ayat Pertama Al-Qur'an Mengajarkan Budaya Membaca

Dalam sambutannya, Nasaruddin juga mengulas makna ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surat Al-'Alaq ayat 1-5. Ia menjelaskan bahwa perintah iqra' menunjukkan pentingnya tradisi membaca dalam Islam.

Namun, menurutnya, Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan membaca dalam arti akademik, tetapi membaca dengan kesadaran spiritual melalui kalimat bismi rabbika.

"Jangan dipahami hanya iqra' saja, tetapi Iqra' bismi rabbika. Membaca atas nama Tuhanmu. Itu yang membedakan pendidikan Islam dengan pendidikan yang hanya mengejar ilmu pengetahuan semata," jelasnya.

Al-Qur'an Tetap Menjadi Kitab yang Paling Banyak Dibaca

Pada bagian lain sambutannya, Menag menyebut Al-Qur'an sebagai kitab suci yang hingga kini menjadi salah satu buku dengan jumlah pembaca, pencetakan, dan penyebaran terbesar di dunia.

Ia mengatakan, ketertarikan terhadap Al-Qur'an tidak hanya datang dari kalangan muslim, tetapi juga dari banyak ilmuwan dan masyarakat nonmuslim yang ingin memahami kandungannya.

"Al-Qur'an adalah rahmat bagi seluruh alam. Peminat Al-Qur'an bukan hanya umat Islam, tetapi juga banyak dari kalangan nonmuslim yang mempelajarinya," ujar Menag.

Doakan Orang Tua dan Terus Belajar

Menutup sambutannya, Nasaruddin Umar meminta para santri yang diwisuda untuk terus melanjutkan perjalanan belajar Al-Qur'an. Ia juga mengajak mereka senantiasa mendoakan kedua orang tua yang telah berjuang membiayai pendidikan anak-anaknya.

"Jangan pernah berhenti belajar Al-Qur'an. Doakan juga orang tua agar diberikan kesehatan, kekuatan, dan rezeki sehingga bisa terus mendukung pendidikan kalian sampai setinggi-tingginya," pesannya.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Kunjungi KH Imam Jazuli Bahas soal Masa Depan NU

Wisuda Akbar Program I'dadi, Tahsin, dan Tahfidz Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sains Nurani tahun ajaran 2025–2026 tersebut diikuti para santri yang telah menyelesaikan jenjang pembelajaran Al-Qur'an, mulai dari tahap persiapan membaca, tahsin hingga tahfidz. Acara juga dihadiri Pemimpin Pondok Pesantren Tahfidz Nurani (PPQS Nurani) KH M Ilyas Marwal, Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said, para pengasuh pesantren, ulama, tokoh masyarakat, serta orangtua santri.

Meta Deskripsi (±150 karakter):
Menag Nasaruddin Umar menegaskan tujuan mempelajari Al-Qur'an bukan sekadar menambah ilmu, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Alternatif Meta Deskripsi:
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak santri tidak berhenti menghafal Al-Qur'an, tetapi terus memahami makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar