Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Umar bin Abdul Aziz, Teladan Pemimpin yang Bisa Memisahkan Fasilitas Negara dan Hak Pribadi

Kompas.com, 11 Juli 2026, 16:28 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Menjaga integritas merupakan salah satu tanggung jawab utama yang harus dipegang setiap pejabat.

Amanah jabatan menuntut pemimpin tidak menyalahgunakan kewenangan maupun fasilitas publik untuk kepentingan pribadi.

Keteladanan mengenai hal tersebut telah dicontohkan oleh banyak ulama dan pemimpin Islam terdahulu.

Baca juga: Hanya 2 Tahun, Umar bin Abdul Aziz Berhasil Tekan Kemiskinan

Profil Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam atau dikenal sebagai Umar II berasal dari keluarga besar Bani Umayyah yang silsilahnya bersambung hingga Qushay bin Kilab, leluhur kaum Quraisy.

Selain menjadi khalifah, ia juga dikenal sebagai ahli hadis, ulama besar, dan mujtahid yang memiliki kedalaman ilmu agama.

Baca juga: Umar bin Abdul Aziz dan Kepemimpinan Singkat yang Menghadirkan Kemakmuran Rakyat

Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah kedelapan dari total 14 khalifah yang memimpin Daulah Bani Umayyah.

Ia juga dikenal sebagai cicit dari sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, merupakan salah seorang gubernur dari Bani Umayyah.

Sejumlah sejarawan menyebut Umar bin Abdul Aziz lahir di Hulwan, sebuah wilayah di Mesir, pada 61 Hijriah atau sekitar 681 Masehi.

Dalam catatan sejarah Islam, masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz dinilai sebagai salah satu periode paling berhasil pada era Bani Umayyah.

Karena kepemimpinannya yang berlandaskan prinsip Khulafaur Rasyidin, ia bahkan dijuluki sebagai Khalifah Rasyid kelima.

Di bawah pemerintahannya, kesejahteraan masyarakat meningkat melalui kebijakan pajak yang lebih ringan serta pembangunan berbagai infrastruktur yang mendukung aktivitas perekonomian.

Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang Dikenal Berintegritas

Dilansir dari laman Kemenag, beberapa kisah Umar bin Abdul Aziz, ini diangkat dari buku Nyala Obor Integritas: Kisah Ulama Melawan Korupsi yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Meski memegang kekuasaan tertinggi sebagai pemimpin negara, Umar bin Abdul Aziz menjalani kehidupan yang sederhana dan dikenal sebagai pribadi yang zuhud.

Menurut Al-Dzahabi (2006), ia juga merupakan sosok yang sangat menjaga ketaatan dalam beribadah.

Dalam sejarah Islam, Umar bin Abdul Aziz dikenang sebagai pemimpin yang memiliki integritas tinggi.

Ia dikenal dengan sifat wara', yakni sikap menjauhkan diri dari perkara haram maupun syubhat atau sesuatu yang masih meragukan hukumnya.

Prinsip tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak memanfaatkan sedikit pun harta ataupun fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Kisah Umar bin Abdul Aziz dan Istrinya 

Salah satu kisah yang menggambarkan integritas Umar bin Abdul Aziz diceritakan oleh Ali al-Shalabi (2017).

Suatu hari Umar ingin menikmati madu. Namun, di rumahnya tidak tersedia persediaan madu. Tak lama kemudian, istrinya datang membawa semangkuk madu yang telah dibeli.

Setelah menikmatinya, Umar bertanya kepada istrinya mengenai asal madu tersebut.

"Dari mana kalian mendapatkan madu ini?"

"Aku tadi menyuruh pelayan untuk membelinya seharga dua dinar, dengan menggunakan keledai yang biasanya digunakan untuk mengirim surat-surat negara," jawab sang istri.

Mendengar penjelasan itu, Umar bin Abdul Aziz langsung merasa bersalah.

"Wahai istriku, mengapa engkau memberikan madu ini kepadaku?" ujarnya kepada sang istri.

Menurut Umar, meskipun madu tersebut dibeli menggunakan uang pribadi, proses pembeliannya memanfaatkan keledai yang merupakan fasilitas negara. Karena itu, ia merasa tidak berhak menikmatinya.

Umar kemudian menjual madu tersebut dengan harga lebih dari dua dinar. Uang senilai dua dinar dikembalikan kepada istrinya, sedangkan keuntungan hasil penjualan diserahkan kepada baitul mal atau kas negara.

Kisah ini menunjukkan betapa telitinya Umar bin Abdul Aziz dalam menjaga amanah publik, bahkan terhadap penggunaan tenaga seekor keledai milik negara.

Kisah Umar bin Abdul Aziz Menolak Hadiah 

Keteladanan Umar bin Abdul Aziz juga terlihat dari sikapnya terhadap hadiah yang diberikan kepada pejabat.

Amr bin Muhajir meriwayatkan bahwa suatu ketika Umar menginginkan buah apel.

"Seandainya kita punya sebuah apel. Apel harum dan enak rasanya."

Mendengar keinginan tersebut, salah seorang anggota keluarganya mengirimkan sebuah apel sebagai hadiah.

Ketika apel itu sampai, Umar justru menolaknya dengan lembut.

"Sungguh harum dan lezatnya apel ini. Bawa kembali apel itu wahai pelayan, dan ucapkanlah salam kepada orang yang mengirimkannya, lalu katakanlah kepadanya, sesungguhnya hadiahmu telah menempati tempat yang kamu sukai di sisi kami," ujarnya.

Hal ini membuat Amr bin Muhajir heran dan kemudian bertanya.

"Wahai Amirul Mukminin, orang yang mengirimkan apel ini adalah putra pamanmu dan salah seorang anggota keluargamu. Engkau pun tahu bahwa Rasulullah SAW suka memakan hadiah dan tidak memakan sedekah."

Umar kemudian menjelaskan bahwa apel yang diterimanya adalah bagian dari suap.

"Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya hadiah yang diberikan untuk Nabi SAW adalah benar-benar hadiah, tetapi hadiah yang diberikan kepada kita adalah suap," jelasnya.

Bagi Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin harus menjaga jarak dari segala bentuk pemberian yang berpotensi memengaruhi keputusan atau menimbulkan konflik kepentingan.

Kisah Umar bin Abdul Aziz Memadamkan Lampu

Dalam riwayat lain yang dikutip Ali al-Shalabi (2017), Umar bin Abdul Aziz juga sangat berhati-hati menggunakan fasilitas negara.

Ia hanya menyalakan lampu yang dibiayai negara ketika mengurus urusan kaum Muslimin atau pekerjaan pemerintahan.

Setelah urusan tersebut selesai, lampu negara dipadamkan dan diganti dengan lampu yang menggunakan biaya pribadi apabila hendak mengurus kepentingan keluarga.

Sikap tersebut menjadi bukti bahwa Umar benar-benar membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi, bahkan dalam hal yang tampak sederhana.

Sikap Umar bin Abdul Aziz Jadi Teladan Integritas bagi Pejabat  

Kisah Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bahwa integritas tidak hanya diukur dari kemampuan menghindari korupsi dalam jumlah besar.

Integritas juga tercermin dari keberanian menjaga batas antara hak pribadi dan fasilitas negara, serta menghindari penyalahgunaan wewenang sekecil apa pun.

Dengan memandang hadiah kepada pejabat sebagai potensi suap dan menjaga setiap aset publik secara penuh tanggung jawab, Umar bin Abdul Aziz memberikan standar moral yang tinggi bagi seorang pemimpin.

Keteladanannya mengajarkan bahwa amanah publik harus dijaga dengan penuh kehati-hatian karena setiap penyimpangan, sekecil apa pun, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat.

Sebagaimana pesan yang menjadi penutup kisah tersebut, "Selain kejujuran, melawan korupsi butuh keberanian untuk menarik garis yang jelas antara hak pribadi dan harta negara, serta menutup segala pintu masuk hadiah."

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar