Editor
KOMPAS.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus memperluas peran strategisnya di tingkat internasional dengan memperkuat diplomasi halal sekaligus mempromosikan nilai-nilai Islam Wasathiyah atau Islam moderat.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kerja sama akademik dan diplomasi budaya saat melakukan kunjungan ke Guangdong University of Foreign Studies (GDUFS), Guangzhou, Tiongkok.
Komitmen tersebut ditegaskan Ketua MUI Bidang Infokomdigi, KH Masduki Baidlowi, saat memimpin delegasi MUI dalam pertemuan dengan jajaran pimpinan GDUFS pada Sabtu (11/7/2026).
Dalam pidato utamanya, KH Masduki menekankan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok tidak cukup hanya dibangun melalui jalur diplomasi antarpemerintah (state to state), tetapi juga harus diperkuat melalui hubungan antarmasyarakat (people-to-people diplomacy) dan diplomasi budaya (culture-to-culture diplomacy).
Baca juga: MUI Kritik Skema Pembiayaan Haji 2027: Tak Adil bagi Jemaah yang Antre
"Melalui kunjungan ke universitas ini, kita ingin melangkah lebih jauh. Mari kita jadikan wahana untuk memperkuat hubungan kedua negara. Tidak saja hubungan diplomasi state to state, tetapi kita lebih memperkuat lagi diplomasi masyarakat dengan masyarakat (people-to-people diplomacy) serta diplomasi budaya (culture-to-culture diplomacy)," ujar KH Masduki Baidlowi di hadapan para akademisi GDUFS.
Dalam kesempatan tersebut, KH Masduki juga memperkenalkan peran MUI sebagai payung besar bagi berbagai organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia. Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk dapat menjadi inspirasi bagi kerja sama lintas budaya.
"Di sinilah peran penting Majelis Ulama Indonesia bertindak sebagai 'tenda besar' atau payung yang menaungi seluruh ormas Islam dan umat Islam secara keseluruhan. Di dalam tenda besar MUI, kami menyatukan visi, merawat moderasi, dan bersama-sama menjaga agar Indonesia tetap aman, damai, dan harmonis," katanya.
Ia menjelaskan, nilai-nilai moderasi yang dikembangkan MUI menjadi modal penting dalam membangun hubungan internasional yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi, tetapi juga saling memahami budaya dan karakter masing-masing bangsa.
Selain isu moderasi, MUI juga menaruh perhatian besar terhadap penguatan ekosistem industri halal global. KH Masduki menilai perguruan tinggi seperti GDUFS memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang memahami dinamika perdagangan internasional sekaligus memiliki wawasan lintas budaya.
Menurutnya, pemahaman tersebut akan menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan, khususnya di sektor produk halal.
Ia mengapresiasi respons positif pemerintah Tiongkok terhadap regulasi halal Indonesia. Hal itu tercermin dari semakin banyaknya produk asal Tiongkok yang telah memenuhi standar halal Indonesia.
"Lebih dari 5.000 produk industri asal Tiongkok kini telah berlabel halal dan masuk ke pasar Indonesia," ungkapnya.
Pencapaian tersebut dinilai menjadi indikator semakin eratnya hubungan kedua negara dalam pengembangan industri halal, yang kini menjadi salah satu sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Pertemuan berlangsung di VIP Hall Gedung Administrasi Kampus Baiyunshan GDUFS pada pukul 14.00 hingga 15.00 waktu setempat. Delegasi MUI disambut secara resmi dengan pengibaran bendera Indonesia dan Tiongkok yang berdampingan serta ucapan selamat datang bertuliskan "A Warm Welcome to the Delegation from Ulama Council of Indonesia" di gedung utama kampus.
Baca juga: DSN MUI Terbitkan Fatwa Distribusi Dana Asuransi Kematian untuk Ahli Waris, Ini Urutan Pembagiannya
Delegasi diterima langsung oleh Wakil Rektor GDUFS Prof. Lan Hongjun bersama Direktur Eksekutif Kantor Internasional Lu Lu, Dekan Fakultas Studi Asia Tenggara Liu Zhiqiang, Kepala Departemen Bahasa Indonesia Xiao Lixian, serta Sekretaris Ketiga Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Liu Weihao.
Rombongan MUI terdiri atas sejumlah pimpinan lintas bidang, di antaranya Ketua Bidang Ekonomi H. Azrul Tanjung, Ketua Bidang Seni Budaya Buya Pasni Rusli, Ketua Bidang Dakwah KH Abdulmanan Abdul Gani, serta para wakil sekretaris jenderal dan pengurus MUI yang membidangi hubungan internasional, halal, dakwah, metodologi fatwa, pesantren, ekonomi, hingga infokomdigi.
Melalui kunjungan ini, MUI berharap kolaborasi dengan dunia akademik Tiongkok tidak hanya memperluas jejaring sertifikasi halal internasional, tetapi juga memperkuat dialog lintas budaya yang menjadi fondasi hubungan Indonesia dan Tiongkok di masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang