Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PCNU Bone Dukung Prof Nasaruddin Umar Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU di Muktamar NU 2026

Kompas.com, 13 Juli 2026, 16:44 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bone menyatakan dukungan kepada Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU.

Dukungan tersebut disampaikan menjelang pelaksanaan Muktamar NU yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

PCNU Bone menilai Prof. Nasaruddin Umar memiliki pengalaman organisasi, kapasitas kepemimpinan, dan rekam jejak yang kuat di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Jelang Muktamar, Rembuk Warga NU Jabodetabek Seri 3 Soroti Diplomasi Internasional PBNU

Selain menyatakan dukungan, PCNU Bone juga memastikan akan berpartisipasi dalam Muktamar sebagai peserta.

Ketua PCNU Bone Nilai Nasaruddin Umar Layak Pimpin PBNU

Ketua PCNU Bone Rahmatunnair menyampaikan dukungan tersebut pada Senin (13/7/2026). Ia mengatakan pengurus NU Bone telah bersiap menghadiri Muktamar dan ikut menyukseskan agenda lima tahunan organisasi tersebut.

Baca juga: Ansor Tutup Kaderisasi Nasional 2026 di Tempat Muktamar ke-35 NU

"Insyaallah kita siap berangkat dan menyukseskan Muktamar NU," ujarnya.

Rahmatunnair menilai Prof. Nasaruddin Umar, yang berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, merupakan sosok yang layak memimpin PBNU karena memiliki pengalaman panjang dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, baik dari sisi profesionalisme maupun proses kaderisasi di NU, Menteri Agama RI tersebut memenuhi kriteria untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.

"Saya kira beliau sangat layak dari semua aspek. Mau dilihat dari profesionalisme maupun kekaderan, beliau sangat layak untuk kita dukung bersama memimpin NU ke depan," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Prof. Nasaruddin Umar tidak hanya dikenal sebagai tokoh asal Sulawesi Selatan, tetapi telah menjadi tokoh nasional yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan Nahdlatul Ulama.

"Beliau bukan hanya tokoh yang dikenal di Sulawesi, tetapi sudah menjadi milik bangsa Indonesia dan NU secara umum seluruh Indonesia," ucapnya.

Pengalaman di PBNU Jadi Modal Kepemimpinan

Rahmatunnair turut menyoroti rekam jejak Prof. Nasaruddin Umar yang pernah menjabat sebagai Katib 'Aam PBNU. Pengalaman tersebut dinilai menjadi bekal penting untuk memimpin PBNU pada periode mendatang.

"Beliau mempunyai pengalaman yang lama di NU. Sudah pernah menjadi Katib 'Aam. Jadi tidak diragukan lagi kalau beliau memimpin NU. Saya kira NU ke depan semakin baik kalau beliau yang menjadi pemimpinnya," tuturnya.

Ia kembali menegaskan sikap organisasi yang dipimpinnya.

"PCNU Bone mendukung Prof. Nasaruddin Umar untuk maju," tegas Rahmatunnair.

Saat ditanya mengenai sosok ideal Ketua Umum PBNU, Rahmatunnair menilai Prof. Nasaruddin Umar telah memenuhi seluruh kriteria yang dibutuhkan, termasuk sebagai ulama dan kader NU.

"Saya kira beliau memenuhi semua kriteria. Apalagi beliau memang sudah ulama," katanya.

Ajak Warga NU Jaga Persatuan Jelang Muktamar

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, Rahmatunnair mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama menjaga persatuan dan menghormati mekanisme organisasi dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU.

Ia berharap seluruh tahapan Muktamar berjalan secara profesional dengan mempertimbangkan pengalaman dan rekam jejak setiap calon.

"Kita serahkan pada mekanisme yang ada. Kita tetap menjaga persatuan, mengedepankan profesionalisme, dan tentunya juga mempertimbangkan pengalaman seseorang untuk kita dukung bersama menjadi Ketua NU," ujarnya.

Rahmatunnair juga mengungkapkan bahwa dari Kabupaten Bone biasanya terdapat lima delegasi resmi yang mengikuti Muktamar NU. Namun, jumlah rombongan yang berangkat umumnya lebih banyak karena turut diikuti kader dan warga NU lainnya.

"Biasanya lima orang delegasi resmi. Tapi biasanya ada rombongan yang ikut, sehingga jumlahnya lebih dari itu," ujarnya.

Dukungan PCNU Bone menambah dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan menentukan kepemimpinan PBNU periode berikutnya.

Selain menjadi forum pemilihan Ketua Umum, Muktamar juga menjadi ajang konsolidasi organisasi untuk merumuskan arah dan program strategis Nahdlatul Ulama ke depan.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "PCNU Bone Dukung Prof Nasaruddin Umar Maju Calon Ketua Umum PBNU". 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar