Editor
KOMPAS.com - Tidak semua kenikmatan yang diterima seseorang merupakan tanda bahwa Allah SWT meridhainya.
Dalam ajaran Islam, ada kondisi ketika seseorang terus memperoleh kemudahan, kekayaan, atau kesuksesan meski tetap bergelimang dalam kemaksiatan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai istidraj, yaitu pemberian kenikmatan dunia yang justru menjadi jalan menuju kebinasaan karena membuat seseorang semakin jauh dari Allah SWT.
Baca juga: Istidraj: Banyak Nikmat Tetapi Tidak Menambah Taat
Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami makna istidraj agar tidak keliru menilai setiap nikmat yang diperoleh.
Istidraj adalah keadaan ketika Allah SWT memberikan berbagai kenikmatan dunia kepada seseorang yang terus-menerus melakukan kemaksiatan, sehingga ia merasa aman dan terlena hingga akhirnya mendapat azab.
Baca juga: Kenapa Kenikmatan Dunia Bisa Menyesatkan? Mengenal Istidraj
Dalam kondisi ini, nikmat yang diterima bukan menjadi tanda kemuliaan, melainkan bentuk penangguhan hukuman agar dosa terus bertambah.
Mengenai istidraj, dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ١٨٢ وَأُمْلِي لَهُمْۗ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ ١٨٣
Artinya: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.” (QS. Al-A'raf [7]: 182–183).
Makna ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah dapat memberikan kelapangan kepada orang yang mengingkari-Nya, bukan sebagai bentuk kasih sayang, melainkan agar mereka semakin tenggelam dalam kelalaian sebelum datang hukuman yang telah ditetapkan.
Rasulullah SAW juga menjelaskan hakikat istidraj melalui sebuah hadis.
“Jika kamu melihat Allah memberikan kemewahan dunia kepada hamba-Nya yang suka melanggar perintah-Nya, maka itulah yang disebut istidraj.” (HR. Ahmad)
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa keberlimpahan harta, jabatan, maupun kesuksesan tidak selalu menjadi ukuran kedekatan seseorang dengan Allah SWT.
Yang menjadi tolok ukur adalah apakah nikmat tersebut semakin mendekatkan seseorang kepada ketaatan atau justru membuatnya semakin lalai.
Menurut ulama tafsir Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, istidraj merupakan bentuk pemanjaan dari Allah yang membuat manusia semakin tenggelam dalam kehinaan akibat terus-menerus melakukan kemaksiatan.
Sementara itu, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa istidraj adalah keadaan ketika seseorang secara perlahan dijauhkan dari jalan kebenaran tanpa disadari hingga akhirnya azab datang secara tiba-tiba.
Al-Qur'an memuat sejumlah kisah yang menjadi contoh istidraj dalam kehidupan.
Fir'aun memperoleh kekuasaan yang sangat besar, tetapi kesombongannya membuat ia terus menentang Allah SWT hingga akhirnya ditenggelamkan bersama pasukannya.
Begitu pula Qarun yang dikaruniai kekayaan melimpah setelah sebelumnya hidup dalam keterbatasan.
Kekayaan tersebut justru membuatnya sombong dan lupa kepada Allah hingga akhirnya ia dibenamkan ke dalam bumi bersama seluruh hartanya.
Allah SWT juga berfirman:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Artinya: “Dan janganlah orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali Imran: 178).
Beberapa tanda yang sering dikaitkan dengan istidraj antara lain:
Meski demikian, ciri-ciri tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menghakimi orang lain. Hakikat istidraj merupakan urusan Allah SWT, sedangkan manusia hanya diperintahkan untuk terus melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri.
Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan:
“Takutlah pada perlakuan baik Allah kepadamu di tengah durhakamu yang terus-menerus terhadap-Nya. Karena itu bisa jadi sebuah istidraj.”
Ulama menganjurkan agar setiap Muslim senantiasa mengevaluasi diri ketika memperoleh nikmat agar tidak terjerumus dalam istidraj.
Salah satu caranya ialah memastikan bahwa setiap nikmat semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.
Beberapa amalan yang dapat dilakukan untuk menghindari istidraj antara lain memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah dan dzikir, menjauhi perbuatan maksiat, memperbanyak sedekah, serta senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dengan demikian, setiap karunia yang diterima dapat menjadi jalan menuju keberkahan, bukan menjadi sebab datangnya hukuman yang tidak disadari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang