Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Sistem pendidikan pesantren akan menjadi bahasan utama dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang digelar pada 5–6 September 2026 di Jakarta.
Forum internasional bertema “Exploring and Revealing the Pesantren Education System” tersebut merupakan bagian dari peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (1926–2026).
Ketua Panitia GIHES 2026 KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan, forum ini tidak dirancang sekadar sebagai seminar, tetapi menjadi ruang dialog dan membangun jejaring antar-lembaga pendidikan Islam dari berbagai negara.
“Dengan populasi muslim dunia yang mencapai sekitar dua miliar jiwa dan usia median hanya 24 tahun, pertanyaannya bukan lagi soal relevansi pendidikan berbasis nilai, melainkan siapa yang akan memimpin percakapan global tentang masa depannya, dan pesantren diyakini punya modal besar untuk mengambil peran tersebut,” kata Anang dalam rilisnya, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: 100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
Menurut Anang, pendidikan dunia saat ini menghadapi tantangan besar, termasuk perubahan kebutuhan keterampilan generasi muda dan persoalan kesehatan mental.
Di sisi lain, sejumlah kompetensi yang dinilai semakin penting pada masa depan, seperti kemampuan berpikir analitis, ketangguhan, kepemimpinan, dan empati, merupakan kemampuan nonteknis yang selama ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter di pesantren.
Karena itu, GIHES 2026 ingin membawa pengalaman pendidikan pesantren ke dalam percakapan global mengenai masa depan pendidikan.
Anang menjelaskan, GIHES 2026 dibangun melalui tiga pilar program, yakni Convene, Create, dan Connect.
Convene menjadi forum pertemuan tahunan yang menghadirkan pidato kunci para pemikir global, diskusi lintas lembaga, serta leaders talk.
Sementara Create dirancang sebagai laboratorium pengetahuan untuk menghasilkan kerangka pendidikan, riset, rekomendasi kebijakan, dan deklarasi bersama.
Adapun Connect diarahkan untuk membangun jejaring aktif antar-lembaga pendidikan Islam yang berjalan sepanjang tahun. Melalui jejaring tersebut, lembaga pendidikan dapat berbagi kurikulum, pengalaman, dan praktik terbaik.
Dengan konsep tersebut, kolaborasi yang dibangun melalui GIHES diharapkan tidak berhenti setelah forum dua hari berakhir.
Baca juga: Kiai Imam Jazuli, Tokoh Transformatif Pesantren
Panitia GIHES 2026 KH Hadiyanto Arief mengatakan, hari pertama penyelenggaraan pada Sabtu (5/9/2026) akan difokuskan pada peletakan fondasi gagasan mengenai pendidikan Islam holistik dan sistem pendidikan pesantren.
Rangkaian acara akan diawali dengan sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal dan dijadwalkan dibuka Ketua MPR RI Ahmad Muzani.
Sejumlah pidato kunci akan membahas masa depan pendidikan Islam holistik dan sistem pendidikan pesantren.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti dijadwalkan memberikan perspektif nasional mengenai pendidikan, sedangkan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Amin Abdullah akan membahas lebih dalam sistem pendidikan pesantren.
Menteri Agama Nasaruddin Umar juga diundang untuk membahas peluang dan tantangan pesantren dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Pembicara bersama peserta acara akan berbagi perspektif internasional tentang pendidikan holistik. Kami turut mengundang Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar menjadi penutup akhir di sesi hari pertama untuk membicarakan mengenai peluang dan tantangan pesantren dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” kata Hadiyanto.
Sementara itu, KH Adrian Mafatihullah mengatakan, rangkaian hari kedua, Minggu (6/9/2026), akan dibuat lebih interaktif melalui sejumlah sesi dialog paralel.
Pembahasan antara lain mencakup perbandingan pendidikan tokkatsu Jepang dengan pesantren, pembentukan identitas generasi muda Muslim di dunia Barat, pendidikan holistik di lembaga Muslim India, hingga humanisasi teknologi dalam ekosistem pendidikan yang berlangsung 24 jam.
Pada saat bersamaan, Leaders Talk akan membahas tata kelola pesantren, kaderisasi, keberlanjutan kelembagaan, dan kepemimpinan global.
Forum tersebut kemudian akan menghasilkan kerja sama antar-lembaga melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Kerja sama direncanakan mencakup pertukaran guru, penelitian, kurikulum, publikasi, hingga kemitraan antar-lembaga pendidikan.
GIHES 2026 juga akan ditutup dengan penandatanganan Deklarasi GIHES bertajuk “Timeless Values, Future Civilizations”.
“Rangkaian summit akan diakhiri secara khidmat melalui Gontor Centenary Gathering bersama para duta besar dan tokoh terkemuka di Gedung Nusantara IV, kompleks DPR/MPR Senayan,” ujar Adrian.
Pertemuan tersebut dijadwalkan dipandu Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT