Editor
KOMPAS.com - Masjid Tua Wapauwe di Desa Kaitetu, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi salah satu peninggalan penting dalam sejarah masuknya Islam di Maluku dan Nusantara.
Masjid ini berada di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sekitar satu jam perjalanan darat dari Ambon. Lokasinya juga berjarak sekitar 300 meter dari Benteng Amsterdam dan kawasan pantai.
Baca juga: Sejarah Masjid Al Azhar, Ternyata Dulunya Masjid Agung Kebayoran Baru
Dari permukiman warga, pengunjung akan menemukan gapura dan pagar putih dengan tulisan "Mesjid Tua Wapaue Kaitetu." Bangunan utamanya terlihat sederhana dengan ukuran sekitar 10 x 10 meter.
Di dalamnya, benda-benda bersejarah masih berdampingan dengan perlengkapan ibadah yang digunakan hingga sekarang.
Berdiri sejak 1414, masjid ini tetap digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus menyimpan berbagai artefak yang merekam perjalanan sejarah masyarakat setempat.
Baca juga: Sejarah Masjid Cut Meutia, Masjid yang Bangunannya Kayak Bukan Masjid
Dilansir dari Antara, Masjid Tua Wapauwe dipercaya pernah dipindahkan dari puncak Gunung Wawane ke Kaitetu hanya dalam semalam.
Peristiwa tersebut diyakini terjadi ratusan tahun lalu ketika penduduk turun ke kawasan pesisir setelah kedatangan pedagang dari Eropa.
Kisah pemindahan tersebut terdengar seperti legenda. Namun, konstruksi tradisional masjid yang memungkinkan bangunannya dibongkar dan dipasang kembali dalam waktu relatif singkat menjadi salah satu hal yang menguatkan cerita tersebut.
Raja Negeri Kaitetu, M. Armin Lumaela, menjelaskan sejarah masjid tersebut saat ditemui di lokasi.
"Masjid Tua Wapauwe ini merupakan salah satu situs sejarah perjalanan masuknya Islam, termasuk bukan cuma Maluku, tapi di Nusantara," katanya.
Salah satu bagian yang masih menunjukkan usia bangunan adalah saka guru atau tiang utama masjid.
Permukaannya kasar dengan bekas pahatan kapak, yang menjadi penanda teknik pengerjaan pada masa awal pembangunan.
Menurut Armin, bangunan masjid dipercaya masih menggunakan sejumlah material asli sejak pertama kali didirikan.
Sementara bagian yang diganti dalam renovasi besar pada 1990–1991 lebih mudah dikenali karena memiliki permukaan yang lebih halus dan dibuat menggunakan mesin.
Keunikan Masjid Tua Wapauwe juga terlihat dari penggunaan material lokal. Atapnya menggunakan rumbia dari daun sagu, sedangkan panel dinding berwarna cokelat dibuat dari pelepah sagu atau gaba-gaba.
Bagian bawah dinding menggunakan kapur dari batu karang yang dicampur lendir daun waru sebagai perekat.
Konstruksi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Masjid Tua Wapauwe memiliki sistem konstruksi tradisional yang tidak menggunakan paku maupun pasak untuk menyatukan bagian-bagian bangunan.
"Sistemnya seperti puzzle. Jadi kalau tiang itu ada lidahnya, balok ada lubangnya," kata Armin.
Teknik tersebut juga dikaitkan dengan kondisi Maluku yang rawan gempa. Sistem sambungan antarkomponen memungkinkan struktur bangunan memiliki fleksibilitas ketika menghadapi guncangan.
"Jadi, fungsinya ini yang orang di Jepang punya teknik konstruksi anti-gempa, kita punya leluhur juga sudah. Teknik itu sudah digunakan," katanya, menjelaskan.
Selain bangunan, sejumlah benda bersejarah masih tersimpan di dalam masjid. Salah satunya lampu gantung kuno yang memiliki bentuk menyerupai lampu pada rumah joglo.
Lampu tersebut menggunakan sumbu dan minyak kelapa sebagai bahan bakar. Di bagian depan masjid juga terdapat mimbar kayu yang masih digunakan untuk khutbah shalat Jumat.
"Mimbarnya yang kita ganti cuma catnya, tapi kayunya masih asli dari tahun 1414," kata Armin.
Mimbar tersebut memiliki warna hijau dengan sentuhan kuning dan merah muda. Pada bagian atasnya terdapat relief buah nanas yang dalam bahasa lokal disebut pawa, yang berarti petunjuk atau penerang.
Pada sisi kiri dan kanan mimbar terdapat bendera segitiga merah putih. Armin menyebut benda tersebut merupakan duplikat panji-panji yang dipercaya telah ada sejak awal berdirinya masjid.
"Nah, ini masih pertanyaan, apa pengaruhnya kok bisa sampai sekarang negara bisa punya simbol bendera yang sama, merah putih ini?" ujar Armin.
Artefak lain yang tersimpan di dalam Masjid Tua Wapauwe antara lain bedug panjang, timbangan zakat kuno dengan ukiran bunga melati, serta tongkat yang digunakan untuk khutbah Jumat.
Armin mengatakan penelitian LIPI terhadap material tongkat tersebut menunjukkan bahwa bahan kayunya tidak ditemukan di Nusantara, melainkan berasal dari Hadramaut.
Masjid tersebut juga menyimpan mushaf Al-Qur'an kuno yang diperkirakan ditulis sekitar 1500 menggunakan kertas dari Eropa. Periode tersebut berdekatan dengan kedatangan Portugis di Maluku pada 1512.
Di bagian lain, terdapat kayu tua berwarna putih yang disandarkan pada tembok. Menurut Armin, kayu tersebut merupakan pintu masjid dari era 1414 yang sudah tidak digunakan karena termakan usia.
Meski berusia lebih dari enam abad, Masjid Tua Wapauwe masih terawat dan tetap digunakan sebagai tempat ibadah.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, bangunan utama juga dilengkapi tambahan beranda berukuran 6 x 4 meter.
Keaslian masjid dijaga melalui rambu-rambu adat yang mengatur proses pemugaran. Sebelum renovasi dilakukan, diperlukan musyawarah dengan Tukang Husa Lua atau Tukang 12, lembaga adat yang beranggotakan 12 orang.
Anggotanya terdiri atas tokoh yang dihormati, kepala adat, serta pengrajin yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus. Mereka bertugas memastikan aturan adat tetap dijalankan, termasuk mengawasi berbagai ritual dan upacara dalam proses pemugaran.
"Tukang 12 ini, mereka punya posisi ini (karena) garis keturunan dan mereka adalah pelaku adat," ujar Armin.
Setiap anggota Tukang 12 memiliki keahlian yang berbeda. Ada yang bertugas berkomunikasi dengan pemerintahan adat, menentukan ukuran konstruksi, mengevaluasi kualitas pekerjaan, hingga menemukan kesalahan dalam proses pengerjaan.
Peran tersebut pada umumnya diwariskan kepada anak laki-laki mereka. Kewenangan Tukang 12 juga mencakup keputusan mengenai apakah masjid boleh direnovasi, waktu pelaksanaan, hingga proses pengerjaannya.
"Inilah salah satu hal yang (membuat) masjid ini masih terawat, karena ketika kita mengganti atau merenovasi pun tidak bisa merubah sesuai dengan yang sudah ada," papar Armin.
Aturan adat tersebut membuat perubahan pada Masjid Tua Wapauwe tidak dilakukan sembarangan. Bagian tertentu dapat diperbarui sesuai kebutuhan, tetapi fungsi dan karakter utama bangunan tetap dipertahankan sebagai warisan sejarah dari generasi ke generasi.
Masjid Tua Wapauwe bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi penanda perjalanan panjang Islam di Maluku dan Nusantara.
Keberadaan arsitektur tradisional, artefak kuno, serta aturan adat membuat masjid ini tetap mempertahankan karakter sejarahnya hingga kini.
Warisan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat Kaitetu menjaga peninggalan keagamaan melalui perpaduan tradisi, pengetahuan lokal, dan praktik ibadah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT