Editor
KOMPAS.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta memiliki makna penting bagi kehidupan antarumat beragama.
Menurutnya, keberadaan terowongan tersebut dapat menjadi simbol toleransi Indonesia yang layak diperkenalkan kepada masyarakat dunia.
Baca juga: Antusiasme Jemaat Melewati Terowongan Silaturahim Katedral Jakarta-Masjid Istiqlal
Pandangan tersebut disampaikan Menag Nasaruddin Umar yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal saat menerima kunjungan Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Reem Alabali Radovan.
Sebelumnya, Radovan bersama rombongan mengunjungi Masjid Istiqlal dan kemudian melanjutkan kunjungan ke Katedral Jakarta.
Baca juga: Mengenal Terowongan Silaturahmi yang Menghubungkan Istiqlal-Katedral
“Saya kira ini adalah sebuah simbol yang perlu diperkenalkan oleh dunia. Bahwa dua rumah ibadah itu disatukan oleh sebuah tunnel, tolerance tunnel,” kata Menag Nasaruddin Umar, Rabu (19/8/2026).
Menag mengatakan Radovan bersama rombongan yang terdiri atas sejumlah anggota parlemen Jerman terkesan melihat dua rumah ibadah dari agama berbeda dapat terhubung secara langsung. Terowongan tersebut dinilai membawa pesan persaudaraan dan toleransi antarumat beragama.
“Mereka sangat terkesan karena inilah yang pertama kali dia lihat ada semacam rumah ibadah kembaran antara masjid dengan katedral yang dihubungkan dengan tolerance tunnel,” ucapnya.
Menurut Menag Umar, Terowongan Silaturahmi merupakan satu-satunya terowongan toleransi di dunia.
Karena itu, keberadaan terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta tersebut dinilai memiliki posisi penting sebagai salah satu ikon Jakarta dalam menggambarkan kehidupan beragama di Indonesia.
Ia menjelaskan, sejumlah ornamen di dalam terowongan juga dirancang untuk merepresentasikan nilai toleransi.Terowongan tersebut dilengkapi suara yang menjadi simbol dari tradisi kedua agama.
“Jika datang dari arah Katedral, kita dapat mendengar suara lonceng gereja. Sementara jika datang dari arah masjid, kita dapat mendengar suara bedug, yang merupakan salah satu tradisi dan simbol dalam Islam,” jelas Menag Umar.
Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, menyampaikan pandangan serupa mengenai kedekatan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta.
Menurutnya, posisi kedua rumah ibadah yang berdampingan tersebut memiliki makna simbolis yang kuat dalam merepresentasikan toleransi dan nasionalisme.
“Sejak awal, kedekatan kedua rumah ibadah ini memang memiliki makna simbolis yang kuat. Simbolisme tentang toleransi dan nasionalisme tersebut kemudian semakin lengkap dengan hadirnya Terowongan Silaturahim ini,” ucapnya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT