Editor
KOMPAS.com - Tokoh perempuan Nahdlatul Ulama (NU) Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid meminta rekonsiliasi dilakukan setelah Muktamar Ke-35 NU.
Menurutnya, rekonsiliasi diperlukan untuk menyatukan kembali kelompok-kelompok yang mengalami gesekan dalam dinamika internal organisasi.
Baca juga: Indahnya Kebersamaan, Muhammadiyah Terjunkan Kokam dan 10.000 Porsi Bakso di Muktamar NU
Yenny mengatakan kepemimpinan NU yang terpilih melalui Muktamar Ke-35 memiliki tanggung jawab utama untuk merangkul seluruh kelompok yang terlibat dalam pertikaian.
"Siapa pun yang akan memenangkan, akan terpilih, maka kewajiban utamanya adalah menyatukan seluruh faksi yang sekarang terlibat dalam pertikaian," kata Yenny dalam keterangannya di Jombang, Jawa Timur, Rabu (19/8/2026) seperti silansir dari Antara.
Baca juga: Sambut Muktamar NU ke-35: PCNU Jombang Siapkan Masjid Ramah Muktamirin
Putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu menegaskan Muktamar Ke-35 NU tidak semestinya hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan.
Muktamar juga perlu menjadi momentum untuk mengakhiri ketegangan sekaligus memperkuat persatuan warga NU.
Menurut Yenny, kepengurusan PBNU yang terbentuk setelah muktamar perlu segera melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi secara menyeluruh.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengembalikan soliditas organisasi setelah berbagai dinamika internal.
Yenny menilai proses rekonsiliasi tidak boleh diarahkan untuk mengutamakan kepentingan kelompok atau faksi tertentu.
Seluruh elemen NU, kata dia, perlu kembali berpegang pada prinsip dasar serta warisan yang ditinggalkan para pendiri organisasi.
"Mengembalikan NU kembali ke khitahnya, ya. Lalu menjadikan Qanun Asasi sebagai prinsip dasar menjalankan Nahdlatul Ulama ke depannya nanti," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar dinamika menjelang Muktamar Ke-35 NU tidak memunculkan faksi-faksi baru.
Menurutnya, kemunculan kelompok baru justru berpotensi memperpanjang ketegangan di internal NU.
Yenny berharap muktamar dapat menghasilkan kepemimpinan dan tata kelola organisasi yang mampu merangkul seluruh kelompok.
Dengan demikian, warga NU diharapkan dapat kembali berjalan bersama setelah muktamar selesai.
"Jangan sampai muktamar hanya menghasilkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah muktamar seluruh warga NU bisa kembali berjalan bersama," katanya.
PBNU akan menggelar Muktamar Ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Sesuai jadwal, pembukaan Muktamar Ke-35 NU akan dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Forum tersebut menjadi agenda penting bagi NU dalam menentukan kepemimpinan sekaligus arah organisasi ke depan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT