Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Muktamar NU, Ali Masykur Musa: Semangat Kebangsaan Tak Boleh Luntur

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 13:37 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com — Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Mudir Aly Idarah Aliyah JATMAN Ali Masykur Musa mengajak keluarga besar NU memperkokoh fondasi kebangsaan dengan meneguhkan Amanatul Wathaniyah atau komitmen kebangsaan.

Ali Masykur menegaskan, semangat kebangsaan tidak boleh luntur ketika NU memasuki abad kedua. Dinamika organisasi maupun pergantian kepemimpinan tidak semestinya menggeser orientasi dasar NU sebagai organisasi yang berkhidmat kepada umat dan bangsa Indonesia.

“Semangat kebangsaan tidak boleh luntur, siapapun ketua umumnya,” tegas Ali Masykur Musa dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Jumat (14/8/2026).

Menurut dia, kepemimpinan NU harus ditempatkan sebagai amanah untuk berkhidmat, bukan sebagai sarana memenuhi kepentingan personal maupun kelompok tertentu.

“NU tidak boleh dijual, NU adalah untuk umat, NU untuk bangsa, bukan NU untuk kepentingan diri sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Jangan Jegal Gus Yahya dan Gus Salam dengan Tafsir Aturan

NU Harus Menjadi Bagian dari Solusi Bangsa

Ali Masykur mengatakan, komitmen kebangsaan merupakan bagian penting dari sejarah panjang NU. Karena itu, sejarah hubungan NU dengan perjalanan bangsa tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus diwujudkan melalui kontribusi nyata.

Ia menekankan, ketika bangsa menghadapi persoalan, NU semestinya hadir sebagai bagian dari solusi.

“Saat ada masalah bangsa, di situlah NU harus menjadi part of solution-nya,” katanya.

Menurutnya, kebesaran NU tidak semata-mata diukur dari jumlah warga, luas struktur organisasi, maupun kekuatan sosial dan politik yang dimiliki. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana NU mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

“NU untuk umat, NU untuk bangsa,” tegasnya.

Islam dan Indonesia dalam Satu Tarikan Napas

Ali Masykur juga mengingatkan bahwa semangat kebangsaan memiliki akar kuat dalam tradisi NU. Salah satunya tercermin dalam spirit Ahlul Wathan yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama.

Menurut dia, relasi antara Islam dan Indonesia maupun Islam dan negara tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat ditempatkan dalam satu orientasi pengabdian kepada masyarakat dan negara.

“NU dan negara, Islam dan negara, harus ditarik satu nafas. Ya Indonesia, ya Islam, ya Islam, ya Indonesia,” tegasnya.

Pandangan tersebut, lanjut Ali Masykur, telah menjadi bagian dari sikap kebangsaannya sejak dirinya menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 1991-1994.

Ia menilai, komitmen keislaman dan kebangsaan harus berjalan beriringan, terlebih ketika NU memasuki abad kedua.

Pesan untuk Kepemimpinan NU

Dalam konteks Muktamar NU ke-35, Ali Masykur menilai gagasan Amanatul Wathaniyah menjadi pesan penting bagi siapa pun yang nantinya menerima amanah kepemimpinan NU.

Pemimpin NU ke depan, menurut dia, harus mampu menjaga organisasi tetap menjadi kekuatan keumatan sekaligus kekuatan kebangsaan.

NU harus hadir untuk umat, berkhidmat bagi bangsa, serta mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan negara.

“Ketika Indonesia menghadapi persoalan, NU semestinya hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi,” ujarnya.

Baca juga: NU Pertimbangkan Larang Semua Pengurus Harian Rangkap Jabatan

Karena itu, Amanatul Wathaniyah tidak boleh berhenti sebagai slogan kebangsaan. Bagi Ali Masykur, ia merupakan bagian dari ruh perjuangan NU dan kesadaran bahwa pengabdian kepada agama dan bangsa dapat berjalan dalam satu tarikan napas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Aktual
Peristiwa Rabiul Awal: Mengenang Momen Rasulullah Lahir hingga Wafat
Peristiwa Rabiul Awal: Mengenang Momen Rasulullah Lahir hingga Wafat
Aktual
Doa Upacara 17 Agustus 2026, Teks Lengkap untuk Peringatan HUT ke-81 RI
Doa Upacara 17 Agustus 2026, Teks Lengkap untuk Peringatan HUT ke-81 RI
Doa dan Niat
Nama dan Gelar Nabi Muhammad SAW Beserta Maknanya
Nama dan Gelar Nabi Muhammad SAW Beserta Maknanya
Aktual
Menjawab Mitos Larangan Menikah di Bulan Rabiul Awal, Ini Hukum Islam dan Penjelasannya
Menjawab Mitos Larangan Menikah di Bulan Rabiul Awal, Ini Hukum Islam dan Penjelasannya
Aktual
Kisah Pemuda Pendosa yang Dimuliakan karena Cinta kepada Nabi Muhammad SAW
Kisah Pemuda Pendosa yang Dimuliakan karena Cinta kepada Nabi Muhammad SAW
Aktual
Apa Itu Sutrah dalam Shalat? Kenali Fungsi dan Hukumnya Menggunakannya
Apa Itu Sutrah dalam Shalat? Kenali Fungsi dan Hukumnya Menggunakannya
Aktual
Hukum Imam Salat Sambil Duduk, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Hukum Imam Salat Sambil Duduk, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Daun Sirih Disulap Jadi Sabun, Cara Mahasiswa Muhammadiyah Ajari Siswa Hidup Bersih
Daun Sirih Disulap Jadi Sabun, Cara Mahasiswa Muhammadiyah Ajari Siswa Hidup Bersih
Aktual
Jelang Muktamar NU, Ali Masykur Musa: Semangat Kebangsaan Tak Boleh Luntur
Jelang Muktamar NU, Ali Masykur Musa: Semangat Kebangsaan Tak Boleh Luntur
Aktual
Jangan Jegal Gus Yahya dan Gus Salam dengan Tafsir Aturan
Jangan Jegal Gus Yahya dan Gus Salam dengan Tafsir Aturan
Aktual
Dari Iqra hingga Jurnalisme, Haedar Nashir: Islam Punya Tradisi Literasi yang Kuat
Dari Iqra hingga Jurnalisme, Haedar Nashir: Islam Punya Tradisi Literasi yang Kuat
Aktual
Doa Naik Kendaraan dan Bepergian: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Naik Kendaraan dan Bepergian: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Harian
Apakah Kentut dari Kemaluan Membatalkan Wudhu? Ini Pendapat Para Ulama
Apakah Kentut dari Kemaluan Membatalkan Wudhu? Ini Pendapat Para Ulama
Aktual
33 Jemaah Umrah Gagal Berangkat dari Soetta, Kemenhaj Ungkap Travel Diduga Tak Berizin
33 Jemaah Umrah Gagal Berangkat dari Soetta, Kemenhaj Ungkap Travel Diduga Tak Berizin
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar