Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Kebiasaan sederhana seperti mengatur waktu makan, mendapatkan cahaya alami pada pagi hari, beraktivitas fisik, hingga menjaga waktu tidur dinilai dapat membantu tubuh bekerja selaras dengan jam biologisnya.
Pendekatan tersebut diterapkan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) melalui program SALAM Sehat Tamansari bersama masyarakat RW 09 Kelurahan Tamansari, Kota Bandung.
Ketua tim program SALAM Sehat Tamansari, dr. Hilmi Sulaiman Rathomi mengatakan, tantangan dalam promosi kesehatan bukan hanya membuat masyarakat mengetahui pola hidup sehat, tetapi juga membuat kebiasaan tersebut mudah dilakukan secara konsisten.
"Tantangan terbesar promosi kesehatan sering kali bukan membuat masyarakat tahu apa yang sehat, tetapi membantu agar perilaku sehat lebih mudah dilakukan dan dipertahankan dalam kehidupan nyata," ujar Hilmi dalam rilisnya, Minggu (23/8/2026).
"Karena itu, SALAM Sehat dirancang bukan sekadar sebagai penyuluhan, tetapi sebagai pengalaman perubahan perilaku," sambungnya.
Baca juga: Apa Arti Amanat Jabatan dalam Islam? Ini Penjelasan Surat An-Nisa Ayat 58
SALAM Sehat Tamansari merupakan program promosi kesehatan yang mendorong masyarakat menyelaraskan aktivitas sehari-hari dengan jam biologis tubuh sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan metabolik dan mencegah penyakit kronis.
Program ini menggunakan pendekatan behavioral economics dan choice architecture.
Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan informasi mengenai jam biologis dan pola hidup sehat, tetapi juga perangkat yang dirancang untuk mempermudah mereka mengambil pilihan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya berupa piring makan yang dilengkapi penanda waktu makan seimbang.
Baca juga: Gempa NTT, Muhammadiyah Terjunkan EMT dan Siapkan Rumah Sakit Lapangan
Peserta juga memperoleh penutup mata untuk mendukung kualitas tidur serta mengikuti tantangan mengunggah foto langit pagi melalui grup WhatsApp.
Tantangan tersebut digunakan untuk mendorong peserta beraktivitas di luar ruangan sekaligus mendapatkan paparan cahaya alami pada pagi hari.
Selain itu, peserta mendapatkan kartu deposit sembako sebagai bagian dari strategi untuk mendorong konsistensi perubahan perilaku selama program.
Melalui cara tersebut, intervensi kesehatan dilakukan pada sejumlah kebiasaan sehari-hari, mulai dari waktu makan, paparan cahaya, aktivitas fisik, hingga tidur dan istirahat.
Kepala Puskesmas Tamansari dr. Beti Sulistyorini mengatakan, pendekatan tersebut relevan dengan tantangan penyakit tidak menular yang dihadapi masyarakat.
"Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas kini menjadi bagian penting dari masalah kesehatan yang kita hadapi di masyarakat," kata Beti.
Menurut dia, pencegahan penyakit tidak menular tidak cukup dilakukan dengan membuat masyarakat mengetahui hal-hal yang baik bagi kesehatan.
Pengetahuan tersebut perlu diterapkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
"Upaya mengatur waktu makan, aktivitas, paparan cahaya, dan istirahat agar lebih selaras dengan jam biologis tubuh merupakan pendekatan yang menarik untuk membantu masyarakat membangun pola hidup yang lebih sehat," ujarnya.
Sebanyak delapan kader Posyandu sebelumnya telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menjadi Kader SALAM atau Pendamping Ritme Hidup Sehat.
Para kader akan mendampingi peserta selama 14 hari untuk mencoba dan mempertahankan kebiasaan yang lebih selaras dengan ritme alami tubuh.
Program tersebut juga menghubungkan pemahaman mengenai jam biologis dengan nilai keislaman tentang keteraturan waktu.
Salah satunya merujuk pada Surat Al-Qasas ayat 73 yang menjelaskan mengenai malam sebagai waktu beristirahat dan siang sebagai waktu mencari sebagian karunia Allah SWT.
Hilmi mengatakan, konsep keteraturan tersebut memiliki titik temu dengan ilmu kesehatan modern mengenai ritme sirkadian.
"Menjaga kesehatan dengan mengikuti keteraturan yang Allah ciptakan pada tubuh juga dapat kita maknai sebagai bagian dari ibadah dan upaya menjaga amanah tubuh yang diberikan kepada kita," kata Hilmi.
Menurut dia, Al-Quran berulang kali mengingatkan manusia mengenai siang dan malam yang mempunyai fungsi berbeda.
"Sains modern membantu kita memahami bahwa tubuh memang memiliki jam biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh mengikuti waktu dalam sehari," jelasnya.
Kajian mengenai jam biologis juga telah mendapatkan perhatian besar dalam ilmu kedokteran modern.
Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2017 diberikan kepada Jeffrey C Hall, Michael Rosbash, dan Michael W Young atas penemuan mekanisme molekuler yang mengendalikan ritme sirkadian.
Temuan tersebut membantu menjelaskan bagaimana makhluk hidup menyesuaikan ritme biologisnya dengan siklus siang dan malam.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT