Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih dari 14 Abad Berlalu, Mengapa Nabi Muhammad SAW Masih Diteladani hingga Hari Ini?

Kompas.com, 25 Agustus 2026, 15:11 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com - Ketika fajar menyingsing di sebuah pesantren di Jombang, seorang santri membuka kitab kuning dan mempelajari bagaimana Nabi Muhammad SAW berwudhu dan shalat.

Pada pagi yang hampir bersamaan, seorang Muslim di Marrakesh memakai wangi-wangian sebelum berangkat bekerja.

Di sebuah kampus di Yogyakarta, seorang mahasiswa mengawali presentasinya dengan salam. Sementara di kota lain yang mungkin berjarak ribuan kilometer, seorang anak belajar makan dengan tangan kanan dari ibunya.

Baca juga: Seperti Apa Nabi Muhammad ketika Marah?

Orang-orang itu tidak saling mengenal. Mereka hidup dalam bahasa, bangsa, dan kebudayaan yang berbeda.

Sebagian tinggal di kota besar, sebagian lainnya di desa kecil. Ada yang lahir dan tumbuh dalam keluarga Muslim selama beberapa generasi, ada pula yang baru mengenal Islam ketika dewasa.

Namun, dalam banyak hal kecil di kehidupan mereka terdapat satu titik pertemuan, yakni mereka sama-sama berusaha mengikuti seorang manusia yang hidup lebih dari 14 abad lalu di Jazirah Arab.

Manusia itu adalah Muhammad bin Abdullah.

Bagi umat Islam, mengikuti Nabi Muhammad SAW bahkan dapat menjangkau hal-hal yang sangat rinci.

Bukan hanya bagaimana melaksanakan ibadah, tetapi juga bagaimana makan, tidur, berpakaian, berbicara, memperlakukan keluarga, menerima tamu, mengunjungi orang sakit, hingga menjalani kehidupan sehari-hari.

Lebih dari 14 abad telah berlalu sejak Rasulullah SAW wafat. Namun, mengapa kehidupan beliau masih terus dipelajari dan diteladani hingga hari ini?

Baca juga: Nabi Muhammad Menjadi Yatim Sejak dalam Kandungan, Begini Masa Kecil Rasulullah

Ketika Kekuasaan Besar Menjadi Sejarah

Dikutip dari laman Muhammadiyah, sejarah manusia dipenuhi nama orang-orang besar.

Alexander Agung dikenal sebagai salah satu penakluk terbesar dunia kuno. Julius Caesar menjadi salah satu nama penting dalam sejarah Romawi. Genghis Khan membangun kekuasaan yang membentang sangat luas.

Para firaun Mesir, kaisar-kaisar Tiongkok, dan raja-raja besar lainnya pernah memimpin wilayah luas dengan kekayaan, tentara, dan kekuasaan yang luar biasa pada zamannya.

Nama mereka masih dipelajari hingga sekarang.

Namun, kekuasaan tidak selalu meninggalkan hubungan yang mendalam antara seorang tokoh dan manusia yang hidup berabad-abad sesudahnya.

Kita mungkin mempelajari strategi perang Alexander Agung atau politik Julius Caesar. Namun, kebiasaan pribadi mereka tidak menjadi pedoman kehidupan sehari-hari bagi komunitas besar yang hidup berabad-abad kemudian.

Nabi Muhammad SAW menempati posisi yang berbeda bagi umat Islam.

Sejak masa hidupnya, orang-orang di sekeliling Nabi memberikan perhatian besar terhadap perkataan dan tindakannya.

Para sahabat memperhatikan bagaimana beliau beribadah, memperlakukan orang lain, menghadapi persoalan, hingga menjalani kehidupan bersama keluarganya.

Perhatian itu tidak berhenti setelah Rasulullah SAW wafat.

Apa yang diketahui para sahabat disampaikan kepada generasi berikutnya, lalu diwariskan kembali kepada generasi sesudahnya.

Mengapa Kehidupan Nabi Dicatat Begitu Rinci?

Dari proses panjang tersebut berkembang khazanah hadis yang sangat luas.

Umat Islam tidak sekadar mewariskan cerita mengenai Nabi Muhammad SAW. Dalam tradisi keilmuan Islam, berkembang pula metode untuk menilai riwayat mengenai beliau.

Para ulama hadis meneliti orang-orang yang menyampaikan sebuah riwayat, hubungan antarrantai periwayatan, hingga isi riwayat tersebut.

Dari proses itu berkembang berbagai cabang ilmu hadis yang menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan Islam.

Tidak semua riwayat kemudian dinilai memiliki kekuatan yang sama. Ada hadis yang dikategorikan sahih, hasan, dhaif, bahkan terdapat riwayat yang dinilai palsu.

Perbedaan tersebut justru memperlihatkan adanya upaya panjang untuk memilah riwayat tentang Nabi.

Sebab, bagi umat Islam, kehidupan Rasulullah SAW bukan hanya cerita mengenai seseorang yang pernah hidup pada masa lalu.

Kehidupannya menjadi salah satu rujukan dalam menjalani kehidupan.

Teladan yang Hidup dalam Hal-Hal Sederhana

Lebih dari 14 abad setelah Rasulullah SAW wafat, jejak keteladanan itu masih dapat ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sangat sederhana.

Seorang ibu mengajarkan anaknya mengucapkan salam.

Seorang pedagang berusaha berkata jujur kepada pembelinya.

Seseorang menyempatkan diri menjenguk temannya yang sakit dan mendoakannya.

Seorang pemuda berusaha menahan amarah. Sementara di tempat lain, seseorang bangun sebelum fajar untuk menunaikan shalat malam.

Jika dilihat satu per satu, tindakan tersebut mungkin tampak kecil.

Namun, ketika dilakukan oleh begitu banyak orang, di berbagai tempat, dan diwariskan selama berabad-abad, ia menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kebiasaan pribadi.

Di sinilah pengaruh Nabi Muhammad SAW menarik untuk dipahami.

Banyak tokoh sejarah meninggalkan bangunan, buku, monumen, atau wilayah kekuasaan.

Sebagian warisan tersebut masih dapat disaksikan hingga sekarang.

Sementara itu, salah satu warisan Nabi Muhammad SAW terus hidup melalui manusia.

Ia berpindah dari orangtua kepada anak, dari guru kepada murid, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sejarah Islam memang mengenal berbagai kerajaan dan kekhalifahan besar. Namun, pergantian dinasti dan pemerintahan tidak menghentikan umat Islam mempelajari kehidupan Nabi di rumah, masjid, sekolah, pesantren, maupun universitas.

Mengapa Muslim Meneladani Nabi Muhammad SAW?

Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari kedudukan Nabi Muhammad SAW dalam Islam.

Bagi umat Islam, Muhammad SAW bukan sekadar pemimpin besar atau tokoh penting dalam sejarah Jazirah Arab. Beliau adalah Rasulullah, utusan Allah SWT.

Al-Qur'an menempatkan Rasulullah SAW sebagai teladan bagi orang-orang beriman.
Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab: 21)

Al-Qur'an juga menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang memiliki akhlak agung.

Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam: 4)

Dua ayat tersebut membantu menjelaskan mengapa kehidupan Nabi menjadi begitu penting bagi umat Islam.

Meneladani Rasulullah SAW bukan sekadar bentuk kekaguman kepada seorang tokoh besar.

Bagi seorang Muslim, mengikuti Nabi merupakan bagian dari upaya menjalankan ajaran Allah SWT dalam kehidupan.

Al-Qur'an membawa petunjuk, sementara kehidupan Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana nilai-nilai Islam dijalankan dalam berbagai keadaan.

Nabi yang Mengalami Kehidupan Manusia

Nabi Muhammad SAW menjalani berbagai peran dalam kehidupannya.

Beliau menjadi suami, ayah, sahabat, pedagang, pemimpin agama, sekaligus pemimpin masyarakat.

Beliau juga mengalami berbagai sisi kehidupan manusia: kehilangan orang-orang tercinta, penolakan, konflik, kemenangan, kesedihan, dan kegembiraan.

Kehidupan Rasulullah SAW tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah dari persoalan manusia.

Ada seorang Nabi yang harus menghadapi orang-orang yang menentangnya. Ada seorang suami yang menjalani kehidupan keluarga. Ada seorang ayah yang kehilangan anak. Ada pula seorang pemimpin yang harus mengambil keputusan dalam keadaan sulit.

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat kehidupan Nabi terus menjadi sumber pembelajaran bagi umat Islam dalam menghadapi beragam situasi.

Dunia Berubah, Persoalan Manusia Tetap Ada

Kehidupan manusia hari ini tentu sangat berbeda dengan dunia ketika Nabi Muhammad SAW hidup.

Kita mengenal telepon pintar, pesawat terbang, internet, kecerdasan buatan, dan media sosial.

Perjalanan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat ditempuh dalam hitungan jam. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu panjang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain kini dapat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik.

Namun, teknologi tidak menghapus persoalan dasar manusia.

Manusia masih merasa takut dan memiliki harapan. Kita masih kehilangan orang yang dicintai, marah, kecewa, jatuh, bangkit, mencari sahabat, membangun keluarga, dan berusaha memahami tujuan hidup.

Karena itulah kehidupan Nabi Muhammad SAW masih terus dibaca dan dipelajari.

Para ulama mempelajari kehidupan Nabi untuk memahami agama. Sejarawan mengkajinya untuk melihat perubahan yang terjadi di Jazirah Arab.

Para pemikir mempelajari perkembangan masyarakat yang kemudian melahirkan peradaban Islam.

Kehidupan Rasulullah SAW juga terus dibicarakan dari berbagai perspektif, mulai dari kepemimpinan, pendidikan, keluarga, komunikasi, ekonomi, hingga kehidupan sosial.

Popularitas Bisa Berlalu, Keteladanan Bertahan

Pengaruh Nabi Muhammad SAW menjadi semakin menarik ketika dilihat dari kehidupan modern.

Kita hidup pada zaman ketika popularitas dapat dihitung dengan angka.

Jumlah pengikut di media sosial, tayangan, tanda suka, dan unggahan dapat menjadi ukuran seberapa populer seseorang.

Seorang atlet dapat memengaruhi gaya berpakaian jutaan penggemarnya. Seorang penyanyi dapat membuat sebuah produk diburu banyak orang. Seorang tokoh terkenal dapat menarik perhatian dunia hanya melalui satu unggahan di media sosial.

Namun, popularitas dan pengaruh tidak selalu merupakan hal yang sama.

Popularitas dapat datang dengan cepat, kemudian perlahan menghilang. Nama yang hari ini memenuhi layar bisa saja beberapa tahun kemudian jarang terdengar.

Sementara pengaruh yang mengakar bekerja dengan cara berbeda.

Ia masuk ke dalam nilai, kebiasaan, cara berpikir, hingga cara seseorang memperlakukan manusia lainnya.

Di titik inilah pengaruh Nabi Muhammad SAW sulit diabaikan.

Lebih dari 14 abad setelah beliau wafat, namanya masih disebut setiap hari oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia. Kehidupannya masih dipelajari. Kisahnya masih diceritakan kepada anak-anak. Perkataan dan tindakannya masih dibahas dalam majelis ilmu.

Dan mungkin, jejak pengaruh itu paling mudah ditemukan bukan pada monumen-monumen besar, melainkan pada hal-hal sederhana.

Pada seorang anak yang belajar mengucapkan salam.

Pada seseorang yang berusaha menahan amarah.

Pada pedagang yang memilih berlaku jujur.

Pada seorang anak yang diajarkan makan dengan tangan kanan.

Mereka mungkin hidup ribuan kilometer satu sama lain dan tidak pernah saling bertemu.

Namun, melalui tindakan-tindakan kecil itu, mereka terhubung oleh keteladanan seorang manusia yang hidup lebih dari 14 abad lalu: Nabi Muhammad SAW.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Lebih dari 14 Abad Berlalu, Mengapa Nabi Muhammad SAW Masih Diteladani hingga Hari Ini?
Lebih dari 14 Abad Berlalu, Mengapa Nabi Muhammad SAW Masih Diteladani hingga Hari Ini?
Aktual
Kiai Imam Jazuli Gerakkan 10.000 Pesantren Rintisan, Gandeng Gus Ipang Perkuat Branding
Kiai Imam Jazuli Gerakkan 10.000 Pesantren Rintisan, Gandeng Gus Ipang Perkuat Branding
Aktual
Jelang Muktamar di Jombang, Gus Yahya: Sebenarnya NU Itu Apa?
Jelang Muktamar di Jombang, Gus Yahya: Sebenarnya NU Itu Apa?
Aktual
Ribuan Pemuda dan Mahasiswa Ajak Anak Muda Jadi Pelopor Perdamaian
Ribuan Pemuda dan Mahasiswa Ajak Anak Muda Jadi Pelopor Perdamaian
Aktual
21 Ucapan Maulid Nabi 2026, Cocok Dibagikan di WhatsApp dan Media Sosial
21 Ucapan Maulid Nabi 2026, Cocok Dibagikan di WhatsApp dan Media Sosial
Aktual
Maulid Nabi 2026, Menag: Akhlak Fondasi Membangun Peradaban
Maulid Nabi 2026, Menag: Akhlak Fondasi Membangun Peradaban
Aktual
Karhutla dalam Perspektif Islam, Mengapa Merusak Alam Dilarang?
Karhutla dalam Perspektif Islam, Mengapa Merusak Alam Dilarang?
Aktual
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Menengok Jejak Para Rais Aam dari Masa ke Masa
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Menengok Jejak Para Rais Aam dari Masa ke Masa
Aktual
MUI Kritik Pemblokiran Rekening Aktivis: Anwar Abbas Ingatkan Risiko 'Rush Money'
MUI Kritik Pemblokiran Rekening Aktivis: Anwar Abbas Ingatkan Risiko "Rush Money"
Aktual
Maulid Nabi 2026 Kapan? Ini Tanggal, Hari, dan Status Liburnya
Maulid Nabi 2026 Kapan? Ini Tanggal, Hari, dan Status Liburnya
Aktual
Maulid Nabi 2026: Sejarah, Hikmah, dan Hukum Puasa di Hari Kelahiran Rasulullah
Maulid Nabi 2026: Sejarah, Hikmah, dan Hukum Puasa di Hari Kelahiran Rasulullah
Aktual
Maulid Nabi Ngapain Saja? Ini Kegiatan yang Bisa Muslim Lakukan
Maulid Nabi Ngapain Saja? Ini Kegiatan yang Bisa Muslim Lakukan
Aktual
Dalil dan Hadis tentang Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Penjelasannya
Dalil dan Hadis tentang Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Penjelasannya
Aktual
Memperingati Maulid Nabi: Ini 20 Quotes Islami Ucapan Maulid 2026
Memperingati Maulid Nabi: Ini 20 Quotes Islami Ucapan Maulid 2026
Aktual
Amalan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Doa dan Selawatnya
Amalan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Doa dan Selawatnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar