Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menjelang Muktamar ke-35 NU, Menengok Jejak Para Rais Aam dari Masa ke Masa

Kompas.com, 25 Agustus 2026, 09:57 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sosok Rais Aam kembali menjadi salah satu perhatian penting dalam perjalanan organisasi.

Dalam struktur jam'iyah NU, Rais Aam memiliki posisi sentral sebagai pemimpin tertinggi dalam jajaran Syuriyah. Berbagai kebijakan organisasi dan otoritas keagamaan yang menentukan arah perjalanan NU berada dalam pertimbangannya.

Karena itu, menjelang Muktamar ke-35 NU, menarik untuk menengok kembali jejak para Rais Aam yang menjadi salah satu kompas perjalanan jam'iyah dari masa ke masa.

Jika dilihat berdasarkan karakter kepemimpinannya, perjalanan Rais Aam dapat dibagi dalam tiga periode besar, yakni era pendiri dan konsolidasi awal, era pembaruan dan penguatan Khittah 1926, serta era fiqih sosial dan organisasi modern. Berikut penjelasannya yang dikutip dari situs resmi panitia Muktamar Ke-30 NU.

Baca juga: Jelang Muktamar Ke-35,Tokoh Muda NU Sebut Rais Aam Harus Jaga Organisasi dari Politik Praktis

Era Pendiri dan Konsolidasi Awal

Pada masa awal berdirinya NU, kepemimpinan organisasi bertumpu pada ulama-ulama kharismatik. Perhatian utama diarahkan pada konsolidasi akidah, penguatan jam'iyah, serta perjuangan menghadapi situasi kebangsaan.

Tiga ulama menjadi figur utama pada periode ini.

1. KH Hasyim Asy'ari

KH Hasyim Asy'ari menjabat sejak 1926 hingga 1947. Pendiri Pesantren Tebuireng ini merupakan peletak dasar jam'iyah NU dan satu-satunya tokoh yang menyandang gelar Rais Akbar.

Sosok KH Hasyim Asy'ari juga lekat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang membangkitkan perlawanan umat Islam terhadap penjajah.

2. KH Abdul Wahab Chasbullah

Setelah KH Hasyim Asy'ari, kepemimpinan Rais Aam dilanjutkan KH Abdul Wahab Chasbullah pada 1947 hingga 1971.

Kiai Wahab dikenal sebagai salah satu inisiator sekaligus motor penggerak utama NU. Kepemimpinannya yang dinamis mengawal NU melewati berbagai fase sejarah, mulai dari era revolusi kemerdekaan, Orde Lama, hingga awal Orde Baru.

3. KH Bisri Syansuri

KH Bisri Syansuri menjabat Rais Aam pada 1971 hingga 1980. Ia dikenal sebagai ulama ahli fiqih yang sangat memegang teguh hukum-hukum syariat.

Di tengah dinamika politik Orde Baru, KH Bisri Syansuri turut memberikan warna terhadap sikap dan kebijakan NU. Salah satunya adalah sikap tegasnya dalam menyikapi RUU Perkawinan yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.

Era Pembaruan dan Penguatan Khittah

Memasuki periode berikutnya, NU menghadapi fase krusial. Organisasi mulai meninggalkan hiruk-pikuk politik praktis dan kembali menegaskan jati dirinya sebagai jam'iyah yang berorientasi pada sosial-keagamaan.

Beberapa Rais Aam yang memimpin NU pada fase ini antara lain:

4. KH Ali Maksum

KH Ali Maksum menjabat Rais Aam pada 1981 hingga 1984. Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta, ini membawa corak kepemimpinan kultural dan intelektual.

Kepemimpinannya berperan dalam meredam berbagai gejolak internal sekaligus mengawal NU menuju momentum penting kembali ke Khittah 1926.

5. KH Ahmad Shiddiq

KH Ahmad Shiddiq menjadi Rais Aam pada 1984 hingga 1991.

Ia dikenal sebagai salah satu pemikir penting NU. Salah satu kontribusi besarnya adalah merumuskan landasan teologis bagi penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan NU dalam menegaskan bahwa keislaman dan kebangsaan dapat berjalan beriringan.

6. Prof KH Ali Yafie

Setelah KH Ahmad Shiddiq wafat pada 1991, Prof KH Ali Yafie menjadi Penjabat Rais Aam pada 1991-1992.

Selain dikenal sebagai akademisi, KH Ali Yafie juga dikenal melalui gagasan fiqhul bi'ah atau fiqih lingkungan. Gagasan tersebut merespons persoalan lingkungan yang mulai mendapatkan perhatian serius.

7. KH Ilyas Ruhiat

KH Ilyas Ruhiat kemudian memimpin sebagai Rais Aam pada 1992 hingga 1999.

Ulama kharismatik dari Cipasung, Tasikmalaya, tersebut mengawal NU melewati masa-masa krusial menjelang dan setelah Reformasi 1998.

Kepemimpinannya dikenal mengedepankan kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan sosial-politik yang sangat cepat.

Era Fiqih Sosial dan Organisasi Modern

Periode ketiga ditandai dengan semakin kuatnya perhatian NU terhadap fiqih sosial, tata kelola organisasi, kemandirian ekonomi, serta penerapan nilai-nilai agama dalam menjawab persoalan masyarakat kontemporer.

8. KH Sahal Mahfudh

KH Sahal Mahfudh menjabat Rais Aam pada 1999 hingga 2014.

Nama KH Sahal Mahfudh sangat erat dengan paradigma fiqih sosial, yakni pendekatan yang berusaha membumikan khazanah kitab kuning ke dalam solusi atas persoalan nyata masyarakat.

Kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat menjadi bagian dari persoalan yang dapat didekati melalui perspektif fiqih sosial.

9. KH Musthofa Bisri

Setelah KH Sahal Mahfudh wafat pada 2014, posisi Rais Aam dilanjutkan KH Musthofa Bisri sebagai Pejabat Rais Aam hingga Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015.

KH Musthofa Bisri tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga budayawan dan sastrawan. Karya-karya puisinya turut memberikan warna tersendiri dalam khazanah pemikiran dan kebudayaan Islam di Indonesia.

10. KH Ma'ruf Amin

Dalam Muktamar ke-33 NU tahun 2015, KH Ma'ruf Amin menjadi Rais Aam dan menjabat hingga 2018.

KH Ma'ruf Amin dikenal memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi syariah dan kemandirian ekonomi umat.

Pada 2018, ia mengundurkan diri dari posisi Rais Aam setelah dipercaya menjadi calon Wakil Presiden dan kemudian menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia pada 2019.

11. KH Miftachul Akhyar

KH Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam PBNU sejak 2018 hingga saat ini.

Dalam kepemimpinannya, KH Miftachul Akhyar menekankan pentingnya kedisiplinan organisasi serta penguatan sinergi struktural NU.

Konsolidasi dari tingkat pusat hingga daerah menjadi salah satu perhatian dalam upaya membangun organisasi yang lebih solid.

Rais Aam dan Arah NU ke Depan

Jejak para Rais Aam tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan tertinggi Syuriyah NU selalu menghadapi tantangan yang berbeda sesuai dengan zamannya.

KH Hasyim Asy'ari dan para penerus awal menghadapi persoalan pendirian serta konsolidasi jam'iyah. Generasi berikutnya mengawal NU dalam momentum kembali ke Khittah 1926.

Sementara era berikutnya membawa NU pada penguatan fiqih sosial, tata kelola organisasi, serta respons terhadap persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Kini, menjelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, perjalanan panjang tersebut menjadi penting untuk kembali direnungkan.

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Ribuan Nahdliyin Khatamkan Al-Quran di 3.500 Titik

Muktamar bukan hanya forum untuk menentukan kepemimpinan NU, tetapi juga momentum untuk membaca kembali arah perjalanan jam'iyah di tengah perubahan zaman.

Sosok Rais Aam yang akan menjadi bagian dari kepemimpinan NU ke depan tentu diharapkan mampu meneruskan tradisi keulamaan sekaligus menjawab tantangan baru yang dihadapi Nahdlatul Ulama.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Terkini Lainnya
Maulid Nabi 2026, Menag: Akhlak Fondasi Membangun Peradaban
Maulid Nabi 2026, Menag: Akhlak Fondasi Membangun Peradaban
Aktual
Karhutla dalam Perspektif Islam, Mengapa Merusak Alam Dilarang?
Karhutla dalam Perspektif Islam, Mengapa Merusak Alam Dilarang?
Aktual
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Menengok Jejak Para Rais Aam dari Masa ke Masa
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Menengok Jejak Para Rais Aam dari Masa ke Masa
Aktual
MUI Kritik Pemblokiran Rekening Aktivis: Anwar Abbas Ingatkan Risiko 'Rush Money'
MUI Kritik Pemblokiran Rekening Aktivis: Anwar Abbas Ingatkan Risiko "Rush Money"
Aktual
Maulid Nabi 2026 Kapan? Ini Tanggal, Hari, dan Status Liburnya
Maulid Nabi 2026 Kapan? Ini Tanggal, Hari, dan Status Liburnya
Aktual
Maulid Nabi 2026: Sejarah, Hikmah, dan Hukum Puasa di Hari Kelahiran Rasulullah
Maulid Nabi 2026: Sejarah, Hikmah, dan Hukum Puasa di Hari Kelahiran Rasulullah
Aktual
Maulid Nabi Ngapain Saja? Ini Kegiatan yang Bisa Muslim Lakukan
Maulid Nabi Ngapain Saja? Ini Kegiatan yang Bisa Muslim Lakukan
Aktual
Dalil dan Hadis tentang Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Penjelasannya
Dalil dan Hadis tentang Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Penjelasannya
Aktual
Memperingati Maulid Nabi: Ini 20 Quotes Islami Ucapan Maulid 2026
Memperingati Maulid Nabi: Ini 20 Quotes Islami Ucapan Maulid 2026
Aktual
Amalan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Doa dan Selawatnya
Amalan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Doa dan Selawatnya
Aktual
Apakah Muhammadiyah Merayakan Maulid Nabi? Ini Penjelasan Majelis Tarjih
Apakah Muhammadiyah Merayakan Maulid Nabi? Ini Penjelasan Majelis Tarjih
Aktual
6 Shalawat Singkat untuk Dibaca saat Maulid Nabi: Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
6 Shalawat Singkat untuk Dibaca saat Maulid Nabi: Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Doa Sebelum Belajar agar Mudah Memahami Ilmu, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Sebelum Belajar agar Mudah Memahami Ilmu, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
5 Amalan Maulid Nabi, dari Sholawat hingga Sedekah
5 Amalan Maulid Nabi, dari Sholawat hingga Sedekah
Aktual
Doa Malam Maulid Nabi: Bacaan, Sholawat, dan Amalan yang Bisa Diamalkan
Doa Malam Maulid Nabi: Bacaan, Sholawat, dan Amalan yang Bisa Diamalkan
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar