Editor
KOMPAS.com - Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana karena kesehatan, keluarga, ekonomi, maupun masa depan dapat berubah sewaktu-waktu.
Dalam menghadapi ketidakpastian tersebut, seorang Muslim dituntut tetap berpegang pada keimanan, melakukan ikhtiar, serta menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Dewan Pakar Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Untung Cahyono, dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (24/8/2026).
Untung mengajak jamaah merenungkan makna berislam ketika situasi dan kondisi kehidupan tidak selalu sesuai harapan.
Menurutnya, menjalankan ajaran Islam cenderung lebih mudah ketika kebutuhan terpenuhi, kesehatan terjaga, dan kehidupan keluarga berlangsung tenang.
Namun, keadaan dapat berubah sewaktu-waktu. Seseorang yang sebelumnya memiliki waktu cukup untuk beribadah, misalnya, dapat menghadapi kondisi berbeda ketika anggota keluarga jatuh sakit dan membutuhkan perhatian serta perawatan.
Baca juga: Mengenal 6 Rukun Iman dan Penjelasannya Lengkap
“Berislam dalam kondisi yang seperti itu menjadi tidak mudah,” ujarnya.
Persoalan kehidupan juga memiliki tingkat dan cakupan yang beragam. Ketidakpastian dapat dialami secara pribadi, kemudian meluas ke keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, umat Islam perlu mampu menentukan sikap terbaik dalam berbagai keadaan tanpa kehilangan pegangan keagamaannya.
Salah satu dasar penting dalam menghadapi ketidakpastian, menurut Untung, adalah menyadari bahwa dunia bersifat sementara dan terus mengalami perubahan. Kondisi yang saat ini terasa baik, nyaman, dan stabil dapat berubah pada waktu berikutnya.
Ia menggambarkan hal tersebut melalui pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Harta, kendaraan, rumah, fasilitas, maupun berbagai kesenangan yang pernah memberikan kepuasan memiliki keterbatasan dan tidak bersifat kekal.
“Dunia itu bersifat sementara dan penuh perubahan,” katanya.
Karena itu, manusia diingatkan agar tidak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan.
Harta, jabatan, popularitas, dan kepuasan materi dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi semuanya memiliki batas dan pada akhirnya dapat hilang atau ditinggalkan.
Sebaliknya, kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal.
Untung menekankan bahwa kenikmatan akhirat dalam keyakinan Islam tidak dibatasi oleh kerusakan, kelelahan, kesedihan, maupun kebosanan, dengan puncak kenikmatan berupa rida Allah SWT.
Dalam kajiannya, ia juga mengutip makna Surah an-Nahl ayat 96 bahwa apa yang ada pada manusia akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.
Bagi Untung, ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak menggantungkan seluruh orientasi hidup pada sesuatu yang bersifat sementara.
Kesadaran bahwa dunia terus berubah juga berkaitan dengan cara seorang Muslim memahami ujian kehidupan.
Untung menjelaskan bahwa ketidakpastian bukan semata sesuatu yang harus ditakuti, tetapi dapat menjadi ujian untuk mengukur kualitas iman.
Ia merujuk Surah al-Ankabut ayat 2 yang menegaskan bahwa manusia tidak cukup hanya mengatakan telah beriman tanpa mengalami ujian.
Kehidupan tidak seharusnya dijalani dengan sikap terlalu merasa aman atau terlena karena setiap orang perlu menyadari bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan manusia.
Ujian dapat hadir dalam berbagai bentuk, seperti ketakutan, kekurangan harta, kehilangan orang yang dicintai, persoalan kesehatan, maupun kesulitan lainnya.
Hal yang penting adalah bagaimana seseorang menerima, menjalani, dan mengambil pelajaran dari ujian tersebut dengan kesabaran.
“Ketidakpastian adalah ujian untuk menguji kualitas iman manusia,” katanya.
Untung kemudian menghubungkan ketidakpastian dengan konsep qada dan qadar.
Menurutnya, iman kepada takdir semestinya memberikan ketenangan kepada manusia ketika menghadapi berbagai peristiwa dalam kehidupan.
Ia menjelaskan qada sebagai ketetapan Allah SWT yang bersifat azali, sedangkan qadar dipahami sebagai ketentuan atau ukuran nyata dari ketetapan Allah dalam kehidupan manusia.
Keduanya menjadi bagian dari landasan keimanan seorang Muslim dalam memahami perjalanan hidup.
Meski demikian, iman kepada takdir tidak boleh berubah menjadi sikap fatalistis. Meyakini qada dan qadar bukan berarti manusia berhenti berusaha dan menyerahkan seluruh kehidupannya tanpa ikhtiar.
“Iman kepada takdir bukan berarti diam tanpa usaha,” tegasnya.
Seorang Muslim, menurut Untung, tetap harus bekerja, berusaha, dan berdoa. Tawakal dilakukan setelah seseorang menjalankan ikhtiar secara maksimal, bukan dijadikan alasan untuk menutup jalan usaha.
Sikap pasrah tanpa ikhtiar justru dapat berbahaya, terutama apabila berkembang di kalangan generasi muda. Seseorang tidak seharusnya hanya menunggu perubahan dengan alasan bahwa segala sesuatu telah ditentukan.
Manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk berhati-hati, mencari jalan keluar, bekerja, dan memperbaiki keadaan. Setelah usaha dilakukan, hasil akhirnya kemudian diserahkan kepada Allah SWT.
Menurut Untung, keimanan kepada qada dan qadar memiliki sejumlah hikmah dalam menjalani kehidupan.
Di antaranya menumbuhkan kesabaran dan ketabahan ketika menghadapi musibah, melahirkan kerendahan hati saat memperoleh keberhasilan, serta menjaga optimisme ketika mengalami kegagalan.
Keimanan kepada Allah juga seharusnya membuat manusia tidak mudah putus asa. Kesulitan tidak selalu menjadi akhir perjalanan karena seseorang dapat mengalami kegagalan, kehilangan, atau kenyataan yang tidak sesuai dengan rencana, tetapi keadaan tersebut tidak boleh menghentikan usaha untuk bangkit.
Hidup yang tidak sesuai rencana merupakan bagian dari ketidakpastian yang dapat dihadapi setiap manusia.
Bagi seorang Muslim, kondisi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat iman, tetap berikhtiar, bersabar, dan bertawakal kepada Allah SWT.
Dengan sikap tersebut, kegagalan maupun kesulitan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT