Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pendidikan dan Jatuh Bangunnya Peradaban, Bagaimana Peran Guru?

Kompas.com, 30 Agustus 2026, 19:34 WIB
Reni Susanti

Editor


KULON PROGO, KOMPAS.com — Kekayaan alam yang melimpah tidak serta-merta membuat sebuah bangsa menjadi besar.

Tanpa manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan mengelolanya, kekayaan tersebut berisiko tidak memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) sekaligus Dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Nur Rizal mengatakan, pendidikan memiliki peran penting untuk mengubah potensi manusia menjadi kapasitas yang menentukan masa depan bangsa.

"Kita tidak boleh menjadi penonton atas kekayaan kita sendiri," kata Rizal dalam Ngkaji Pendidikan bertajuk "Jatuh Bangunnya Peradaban" di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu (29/8/2026).

Baca juga: Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 700 guru dan pendidik dari berbagai daerah di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat hingga Sumatera.

Mahasiswa, perwakilan pemerintah, dan Dewan Pendidikan juga mengikuti kegiatan yang digelar bersama komunitas GSM Kulon Progo tersebut.

Dalam rilisnya, Rizal mengajak para guru melihat perjalanan sejumlah peradaban dunia untuk memahami hubungan antara kemampuan manusia untuk belajar dan keberlangsungan sebuah bangsa.

Menurut dia, kejayaan suatu bangsa pada masa lalu tidak menjamin kemampuannya bertahan menghadapi perubahan.

"Peradaban tidak jatuh dalam satu hari dan tidak bangkit karena satu kebijakan. Peradaban dibangun setiap hari melalui cara suatu bangsa mendidik manusia, memperlakukan gagasan, dan menyediakan ruang untuk bertumbuh," ujarnya.

Pendidikan dan Jatuh Bangunnya Peradaban

Rizal mengambil pengalaman Yunani, Romawi, Jepang, dan China sebagai bahan refleksi.

Perjalanan Yunani dan Romawi, menurut dia, menunjukkan bahwa sistem yang pernah membawa sebuah bangsa mencapai kejayaan dapat kehilangan relevansi ketika lingkungan berubah dan cara lama tidak lagi mampu menjawab persoalan baru.

Jepang memperlihatkan pengalaman berbeda. Guncangan yang dihadapi negara tersebut justru menjadi momentum untuk membuka diri, belajar, dan melakukan pembaruan.

"Jepang bangkit bukan karena sudah mengetahui jawabannya, melainkan karena berani mengakui, 'Kami belum tahu,' kemudian belajar dan mengubah institusi negara," kata Rizal.

Baca juga: Aceh Menuju Episentrum Wakaf Dunia: Menanam Pohon Peradaban lewat Peta Jalan Strategis 2026

China juga dinilai membangun kapasitasnya melalui proses belajar, eksperimen, evaluasi, dan keterbukaan terhadap pengetahuan.

Setelah mengalami berbagai kegagalan pada era Mao Zedong, China semakin memberikan tempat penting bagi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan.

Dari perjalanan sejumlah negara tersebut, Rizal melihat krisis tidak dengan sendirinya menentukan apakah sebuah bangsa akan jatuh atau bangkit.

Kemampuan membaca perubahan, belajar dari kegagalan, serta melakukan koreksi justru menjadi faktor penting.

Kekayaan Alam Butuh Manusia Berpengetahuan

Rizal kemudian membawa refleksi tersebut pada kondisi Indonesia.

Menurut dia, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam, keragaman budaya, jumlah penduduk, serta investasi yang besar di bidang pendidikan.

Anggaran pendidikan Indonesia pada 2025, misalnya, mencapai sekitar Rp 724,3 triliun. Akses pendidikan juga telah menjangkau sekitar 408.000 satuan pendidikan formal.

Namun, menurut Rizal, luasnya akses dan besarnya investasi pendidikan perlu dilihat bersama dengan kualitas manusia yang dihasilkan.

Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak sekolah yang tersedia, tetapi seberapa jauh pendidikan mampu membuat manusia memahami persoalan, menggunakan pengetahuan, menciptakan sesuatu, serta beradaptasi terhadap perubahan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam strategis.

Rizal menyebut Indonesia memiliki sekitar 42,3 persen cadangan nikel dunia serta sumber daya mineral lain yang dapat menjadi modal pembangunan.

Namun, sumber daya tersebut tidak akan menghasilkan nilai tambah dengan sendirinya.

"Mineral tidak mengolah dirinya sendiri. Ia baru menjadi kekuatan ketika ada manusia yang mampu mengubahnya menjadi teknologi, industri, dan nilai tambah," ujarnya.

Karena itu, kekayaan alam dan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan.

Manusia yang memiliki ilmu dan keterampilan dibutuhkan agar sumber daya yang dimiliki bangsa dapat dikelola, dijaga, dan dikembangkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Dalam Islam, ilmu juga ditempatkan pada kedudukan penting dalam kehidupan manusia.

Al-Quran melalui Surah Al-Mujadalah ayat 11 menyebut Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

Pengetahuan tidak hanya menjadi jalan bagi seseorang untuk berkembang, tetapi juga bekal untuk menghadirkan manfaat, mengambil keputusan secara bijak, serta mengelola apa yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab.

Tantangan Kualitas Pendidikan Indonesia

Rizal turut menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022.

Ia menyebut capaian Indonesia masih tertinggal dari rata-rata negara OECD dalam matematika, literasi, dan sains.

Kesenjangan tersebut, menurut dia, memperlihatkan pekerjaan besar pendidikan Indonesia dalam membangun kemampuan anak memahami realitas, menggunakan pengetahuan, memecahkan persoalan, menciptakan sesuatu, dan beradaptasi.

"Institusi yang baik bukanlah institusi yang paling banyak mengatur manusia, melainkan yang paling mampu mengembangkan potensi manusia," kata Rizal.

Karena itu, pendidikan tidak seharusnya berhenti pada upaya menyeragamkan kemampuan anak.

Setiap anak memiliki talenta dan keunikan yang perlu ditemukan, dikembangkan, serta dihubungkan dengan pengetahuan dan persoalan nyata.

GSM menggambarkan proses tersebut dalam empat tahapan, yakni talenta, terhubung, bergerak, dan menjadi kapasitas.

Dengan cara pandang tersebut, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui jumlah sekolah, peserta didik, maupun besarnya anggaran.

Ukuran yang tidak kalah penting adalah seberapa banyak potensi manusia Indonesia yang berhasil ditemukan dan dikembangkan menjadi kekuatan bagi masyarakat.

Guru Membentuk Manusia, Manusia Mengubah Bangsa

Dalam proses tersebut, Rizal menempatkan guru pada posisi penting.

Perubahan besar sebuah bangsa, menurut dia, dapat bermula dari interaksi yang berlangsung setiap hari di ruang kelas.

Guru memang tidak selalu berada pada posisi yang secara langsung menentukan kebijakan negara, mengubah perekonomian, ataupun membangun industri.

Namun, guru memiliki kesempatan untuk membentuk manusia yang kelak mengambil berbagai peran tersebut.

Pendidikan karena itu tidak semata-mata berurusan dengan nilai akademik. Pendidikan juga menjadi proses mempersiapkan manusia agar mampu memahami zaman, bekerja sama, memecahkan persoalan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang berada di sekitarnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, ilmu memperoleh maknanya ketika dapat digunakan untuk menghadirkan manfaat.

Kekayaan alam pun tidak cukup hanya dimiliki. Ia membutuhkan manusia yang mempunyai pengetahuan untuk mengelola sekaligus menjaganya agar tidak habis tanpa memberikan kemaslahatan bagi generasi berikutnya.

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, Rizal menilai salah satu pertaruhan pendidikan adalah kemampuan bangsa menyiapkan manusia yang sanggup mengelola kekayaan dan menentukan masa depannya sendiri.

Pada akhirnya, kekayaan terbesar sebuah bangsa bukan hanya apa yang tersimpan di dalam tanah atau terbentang di alamnya.

Kekayaan tersebut baru menjadi kekuatan ketika terdapat manusia yang mampu memahami, mengolah, menjaga, dan mengembangkannya.

"Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya akan potensi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang paling mampu mengembangkan potensinya," kata Rizal.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Pendidikan dan Jatuh Bangunnya Peradaban, Bagaimana Peran Guru?
Pendidikan dan Jatuh Bangunnya Peradaban, Bagaimana Peran Guru?
Aktual
Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab
Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab
Aktual
Massa Gus Yusuf Demo di Lokasi Muktamar NU, Gus Yahya Imbau Tenang
Massa Gus Yusuf Demo di Lokasi Muktamar NU, Gus Yahya Imbau Tenang
Aktual
Muktamar NU Memanas, Massa Gus Yusuf Coba Terobos Arena Sidang Usai Keputusan Iddah
Muktamar NU Memanas, Massa Gus Yusuf Coba Terobos Arena Sidang Usai Keputusan Iddah
Aktual
Menjaga Kearifan Lokal, Cara Membuka Jalan Rezeki dari Desa
Menjaga Kearifan Lokal, Cara Membuka Jalan Rezeki dari Desa
Aktual
Pesan Alissa Wahid untuk Pemimpin Baru PBNU: Kembalikan Kepercayaan Warga NU
Pesan Alissa Wahid untuk Pemimpin Baru PBNU: Kembalikan Kepercayaan Warga NU
Aktual
Maulid Nabi, Kemenimipas Galang Rp 1,8 Miliar untuk NTT dan Santuni Anak Yatim
Maulid Nabi, Kemenimipas Galang Rp 1,8 Miliar untuk NTT dan Santuni Anak Yatim
Aktual
Benarkah Tidur Setelah Subuh Tidak Baik dalam Islam? Ini Penjelasannya
Benarkah Tidur Setelah Subuh Tidak Baik dalam Islam? Ini Penjelasannya
Aktual
Gus Ipang Bocorkan Kesiapan Kiai Imam Jazuli Masuk Bursa Ketum PBNU
Gus Ipang Bocorkan Kesiapan Kiai Imam Jazuli Masuk Bursa Ketum PBNU
Aktual
Mars Fatayat NU: Lirik, Makna, dan Sejarah Singkat Fatayat Nahdlatul Ulama
Mars Fatayat NU: Lirik, Makna, dan Sejarah Singkat Fatayat Nahdlatul Ulama
Aktual
Voting Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih AHWA, Ini Mekanismenya
Voting Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih AHWA, Ini Mekanismenya
Aktual
Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih Lewat AHWA, 401 Suara Setuju
Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih Lewat AHWA, 401 Suara Setuju
Aktual
Bandung Menuju Kota Kuliner, AKAR Soroti Restoran Nonhalal dan Fasilitas Ibadah
Bandung Menuju Kota Kuliner, AKAR Soroti Restoran Nonhalal dan Fasilitas Ibadah
Aktual
Muktamar NU Usul UKT PTN Tak Hanya Berdasarkan Pekerjaan Orangtua
Muktamar NU Usul UKT PTN Tak Hanya Berdasarkan Pekerjaan Orangtua
Aktual
Badan Usaha Milik Ansor Rambah Bisnis Kendaraan Listrik dan Panel Surya
Badan Usaha Milik Ansor Rambah Bisnis Kendaraan Listrik dan Panel Surya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar