Editor
KULON PROGO, KOMPAS.com — Kekayaan alam yang melimpah tidak serta-merta membuat sebuah bangsa menjadi besar.
Tanpa manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan mengelolanya, kekayaan tersebut berisiko tidak memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) sekaligus Dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Nur Rizal mengatakan, pendidikan memiliki peran penting untuk mengubah potensi manusia menjadi kapasitas yang menentukan masa depan bangsa.
"Kita tidak boleh menjadi penonton atas kekayaan kita sendiri," kata Rizal dalam Ngkaji Pendidikan bertajuk "Jatuh Bangunnya Peradaban" di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu (29/8/2026).
Baca juga: Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab
Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 700 guru dan pendidik dari berbagai daerah di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat hingga Sumatera.
Mahasiswa, perwakilan pemerintah, dan Dewan Pendidikan juga mengikuti kegiatan yang digelar bersama komunitas GSM Kulon Progo tersebut.
Dalam rilisnya, Rizal mengajak para guru melihat perjalanan sejumlah peradaban dunia untuk memahami hubungan antara kemampuan manusia untuk belajar dan keberlangsungan sebuah bangsa.
Menurut dia, kejayaan suatu bangsa pada masa lalu tidak menjamin kemampuannya bertahan menghadapi perubahan.
"Peradaban tidak jatuh dalam satu hari dan tidak bangkit karena satu kebijakan. Peradaban dibangun setiap hari melalui cara suatu bangsa mendidik manusia, memperlakukan gagasan, dan menyediakan ruang untuk bertumbuh," ujarnya.
Rizal mengambil pengalaman Yunani, Romawi, Jepang, dan China sebagai bahan refleksi.
Perjalanan Yunani dan Romawi, menurut dia, menunjukkan bahwa sistem yang pernah membawa sebuah bangsa mencapai kejayaan dapat kehilangan relevansi ketika lingkungan berubah dan cara lama tidak lagi mampu menjawab persoalan baru.
Jepang memperlihatkan pengalaman berbeda. Guncangan yang dihadapi negara tersebut justru menjadi momentum untuk membuka diri, belajar, dan melakukan pembaruan.
"Jepang bangkit bukan karena sudah mengetahui jawabannya, melainkan karena berani mengakui, 'Kami belum tahu,' kemudian belajar dan mengubah institusi negara," kata Rizal.
Baca juga: Aceh Menuju Episentrum Wakaf Dunia: Menanam Pohon Peradaban lewat Peta Jalan Strategis 2026
China juga dinilai membangun kapasitasnya melalui proses belajar, eksperimen, evaluasi, dan keterbukaan terhadap pengetahuan.
Setelah mengalami berbagai kegagalan pada era Mao Zedong, China semakin memberikan tempat penting bagi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan.
Dari perjalanan sejumlah negara tersebut, Rizal melihat krisis tidak dengan sendirinya menentukan apakah sebuah bangsa akan jatuh atau bangkit.
Kemampuan membaca perubahan, belajar dari kegagalan, serta melakukan koreksi justru menjadi faktor penting.
Rizal kemudian membawa refleksi tersebut pada kondisi Indonesia.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam, keragaman budaya, jumlah penduduk, serta investasi yang besar di bidang pendidikan.
Anggaran pendidikan Indonesia pada 2025, misalnya, mencapai sekitar Rp 724,3 triliun. Akses pendidikan juga telah menjangkau sekitar 408.000 satuan pendidikan formal.
Namun, menurut Rizal, luasnya akses dan besarnya investasi pendidikan perlu dilihat bersama dengan kualitas manusia yang dihasilkan.
Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak sekolah yang tersedia, tetapi seberapa jauh pendidikan mampu membuat manusia memahami persoalan, menggunakan pengetahuan, menciptakan sesuatu, serta beradaptasi terhadap perubahan.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam strategis.
Rizal menyebut Indonesia memiliki sekitar 42,3 persen cadangan nikel dunia serta sumber daya mineral lain yang dapat menjadi modal pembangunan.
Namun, sumber daya tersebut tidak akan menghasilkan nilai tambah dengan sendirinya.
"Mineral tidak mengolah dirinya sendiri. Ia baru menjadi kekuatan ketika ada manusia yang mampu mengubahnya menjadi teknologi, industri, dan nilai tambah," ujarnya.
Karena itu, kekayaan alam dan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan.
Manusia yang memiliki ilmu dan keterampilan dibutuhkan agar sumber daya yang dimiliki bangsa dapat dikelola, dijaga, dan dikembangkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Dalam Islam, ilmu juga ditempatkan pada kedudukan penting dalam kehidupan manusia.
Al-Quran melalui Surah Al-Mujadalah ayat 11 menyebut Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Pengetahuan tidak hanya menjadi jalan bagi seseorang untuk berkembang, tetapi juga bekal untuk menghadirkan manfaat, mengambil keputusan secara bijak, serta mengelola apa yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab.
Rizal turut menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022.
Ia menyebut capaian Indonesia masih tertinggal dari rata-rata negara OECD dalam matematika, literasi, dan sains.
Kesenjangan tersebut, menurut dia, memperlihatkan pekerjaan besar pendidikan Indonesia dalam membangun kemampuan anak memahami realitas, menggunakan pengetahuan, memecahkan persoalan, menciptakan sesuatu, dan beradaptasi.
"Institusi yang baik bukanlah institusi yang paling banyak mengatur manusia, melainkan yang paling mampu mengembangkan potensi manusia," kata Rizal.
Karena itu, pendidikan tidak seharusnya berhenti pada upaya menyeragamkan kemampuan anak.
Setiap anak memiliki talenta dan keunikan yang perlu ditemukan, dikembangkan, serta dihubungkan dengan pengetahuan dan persoalan nyata.
GSM menggambarkan proses tersebut dalam empat tahapan, yakni talenta, terhubung, bergerak, dan menjadi kapasitas.
Dengan cara pandang tersebut, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui jumlah sekolah, peserta didik, maupun besarnya anggaran.
Ukuran yang tidak kalah penting adalah seberapa banyak potensi manusia Indonesia yang berhasil ditemukan dan dikembangkan menjadi kekuatan bagi masyarakat.
Dalam proses tersebut, Rizal menempatkan guru pada posisi penting.
Perubahan besar sebuah bangsa, menurut dia, dapat bermula dari interaksi yang berlangsung setiap hari di ruang kelas.
Guru memang tidak selalu berada pada posisi yang secara langsung menentukan kebijakan negara, mengubah perekonomian, ataupun membangun industri.
Namun, guru memiliki kesempatan untuk membentuk manusia yang kelak mengambil berbagai peran tersebut.
Pendidikan karena itu tidak semata-mata berurusan dengan nilai akademik. Pendidikan juga menjadi proses mempersiapkan manusia agar mampu memahami zaman, bekerja sama, memecahkan persoalan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang berada di sekitarnya.
Dalam perspektif yang lebih luas, ilmu memperoleh maknanya ketika dapat digunakan untuk menghadirkan manfaat.
Kekayaan alam pun tidak cukup hanya dimiliki. Ia membutuhkan manusia yang mempunyai pengetahuan untuk mengelola sekaligus menjaganya agar tidak habis tanpa memberikan kemaslahatan bagi generasi berikutnya.
Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, Rizal menilai salah satu pertaruhan pendidikan adalah kemampuan bangsa menyiapkan manusia yang sanggup mengelola kekayaan dan menentukan masa depannya sendiri.
Pada akhirnya, kekayaan terbesar sebuah bangsa bukan hanya apa yang tersimpan di dalam tanah atau terbentang di alamnya.
Kekayaan tersebut baru menjadi kekuatan ketika terdapat manusia yang mampu memahami, mengolah, menjaga, dan mengembangkannya.
"Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya akan potensi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang paling mampu mengembangkan potensinya," kata Rizal.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT