Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Agama (Kemenag) menggelar rukyatul hilal awal Rabiulakhir 1448 Hijriah di Rumah Falak Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (12/9/2026).
Pengamatan tersebut mencatat posisi hilal mencapai 13,04 derajat dengan sudut elongasi 16,72 derajat. Data itu dihimpun sebagai bagian dari dokumentasi rukyatul hilal Kemenag.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat mengatakan, rukyatul hilal merupakan bagian penting dalam rangkaian kegiatan hisab dan rukyat untuk memperoleh data empiris mengenai posisi dan keberadaan hilal.
Baca juga: Kemenag Rilis Posisi Hilal Awal Muharam 1448 H, Ini Hasilnya
“Rukyatul hilal menjadi salah satu bentuk pengamatan langsung terhadap fenomena astronomis yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan ibadah umat Islam,” ujar Arsad dalam rilisnya, Senin (14/9/2026).
“Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dikembangkan dengan melibatkan unsur akademik dan komunitas,” lanjutnya.
Pengamatan melibatkan Rumah Falak Pondok Labu, mahasiswa Program Studi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, serta komunitas Indonesian Islamic Astronomy Club (IIAC) Jabodetabek.
Menurut Arsad, pelibatan perguruan tinggi dan komunitas falak dapat memperluas ruang pembelajaran sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang hisab dan rukyat.
Mahasiswa dan generasi muda berkesempatan mengikuti proses observasi hilal secara langsung, mulai dari persiapan hingga pencatatan dan analisis hasil pengamatan.
“Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga dapat memahami bagaimana proses observasi dilakukan dan bagaimana data hasil pengamatan dicatat serta dianalisis,” katanya.
Kepala Subdirektorat Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag Ismail Fahmi menjelaskan, peserta menggunakan instrumen astronomi untuk memantau posisi hilal di ufuk. Hasil pengamatan kemudian dicatat dan didokumentasikan sebagai data observasi.
Menurut Ismail, kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya keterpaduan metode hisab dan rukyat dalam pengembangan ilmu falak.
Baca juga: Krisis Air Saat Kemarau, Bolehkah Warga Mengambil Air dari Masjid?
Hisab memberikan gambaran mengenai posisi dan kondisi geometris hilal, sedangkan rukyat menghadirkan data berdasarkan pengamatan langsung di lapangan.
“Hisab dan rukyat memiliki posisi yang saling melengkapi. Perhitungan memberikan informasi mengenai posisi hilal, sementara observasi memberikan pengalaman empiris melalui pengamatan langsung,” jelas Ismail.
Selain berkaitan dengan pemantauan hilal, data hasil observasi dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran, penelitian, dan pengembangan kajian astronomi Islam.
Arsad mengatakan, Kemenag akan terus mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga falak, dan komunitas astronomi Islam. Sinergi tersebut diharapkan memperkuat kompetensi generasi muda dan menjaga kesinambungan tradisi keilmuan falak di Indonesia.
“Harapannya, kolaborasi seperti ini terus diperkuat sehingga lahir generasi yang memiliki kemampuan dalam ilmu falak, baik dari sisi teoretis maupun praktik observasi,” tutur Arsad.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.