KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlu disertai panduan moral dan etika.
Menurut Nasaruddin, teknologi tidak memiliki nilai moral sehingga manusia tetap memegang tanggung jawab atas penggunaan dan dampaknya.
“Super AI tidak memiliki moral dan etika,” kata Nasaruddin dalam webinar “Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Dari Dialog Lintas Agama Menuju Aksi Kemanusiaan” yang digelar secara daring, Rabu (16/9/2026).
Baca juga: Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
Nasaruddin menilai perkembangan AI membawa tantangan baru bagi kehidupan manusia. Teknologi telah berkembang melampaui fungsi sebagai alat bantu dan dapat memengaruhi cara manusia hidup, bekerja, serta berinteraksi.
Karena itu, pembicaraan mengenai AI dinilai tidak cukup hanya membahas ilmu pengetahuan dan inovasi. Perkembangannya juga perlu dilihat dari perspektif etika dan spiritual.
Agama, menurut Nasaruddin, dapat memberikan arah nilai agar kemajuan teknologi tetap berpihak pada martabat manusia. Sebab, kecanggihan teknologi tidak dapat menggantikan hati nurani, empati, dan tanggung jawab moral.
Nasaruddin menyampaikan pandangan tersebut saat membahas tindak lanjut Deklarasi Istiqlal.
Deklarasi yang ditandatangani Nasaruddin bersama Paus Fransiskus pada 5 September 2024 itu menyoroti persoalan dehumanisasi dan perubahan iklim.
Menurut dia, Deklarasi Istiqlal tidak semestinya berhenti sebagai dokumen simbolik. Dialog lintas agama perlu dilanjutkan menjadi kolaborasi untuk menjawab persoalan kemanusiaan, termasuk tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi.
Baca juga: Menag Ungkap 7 Faktor Pemicu Perceraian: Ekonomi hingga Beda Pilihan Politik
Selain konflik sosial dan krisis lingkungan, perubahan teknologi dinilai turut memengaruhi kehidupan dan hubungan antarmanusia. Oleh karena itu, forum lintas agama dapat menjadi ruang untuk membicarakan etika AI, perdamaian, dan kelestarian lingkungan.
Nasaruddin juga menyoroti pentingnya diplomasi keagamaan atau religious diplomacy.
Komunitas agama dinilai memiliki modal sosial untuk membangun kepercayaan, mempertemukan kelompok yang berbeda, dan mencari jalan keluar atas berbagai persoalan global.
Kementerian Agama turut mendorong forum kolaboratif dan perjumpaan informal agar hubungan lintas agama tidak hanya dibangun melalui seminar, tetapi juga melalui pengalaman bersama.
Melalui semangat Deklarasi Istiqlal, Nasaruddin berharap dialog lintas agama berkembang menjadi gerakan kemanusiaan yang ikut memberikan arah moral bagi perkembangan teknologi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.