KOMPAS.com - Tidur merupakan kebutuhan alami setiap manusia. Namun dalam Islam, tidur tidak hanya dipandang sebagai waktu beristirahat, melainkan juga bagian dari ibadah apabila diawali dengan adab dan niat yang baik.
Salah satu sunnah yang paling dikenal adalah tidur dengan posisi miring ke kanan.
Banyak orang mengira anjuran tersebut berkaitan semata-mata dengan kesehatan.
Padahal, hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkannya sebagai adab sebelum tidur sekaligus bentuk persiapan seorang hamba untuk menyerahkan diri kepada Allah SWT.
Al-Qur'an menggambarkan tidur sebagai keadaan ketika Allah menahan ruh manusia untuk sementara, lalu mengembalikannya apabila ajalnya belum tiba.
Allah berfirman dalam QS Az-Zumar Ayat 42:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا
Allāhu yatawaffal-anfusa ḥīna mawtihā wallatī lam tamut fī manāmihā.
Baca juga: Depresi Bukan Berarti Kurang Iman, Ini Ikhtiar Mengatasinya Menurut Islam
Artinya: “Allah memegang nyawa seseorang ketika matinya dan memegang nyawa orang yang belum mati ketika tidurnya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa tidur merupakan nikmat sekaligus pengingat akan kematian. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidur dalam keadaan suci, berzikir, dan mengikuti adab yang baik.
Dalil paling jelas berasal dari hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bara' bin Azib RA. Rasulullah SAW memberikan beberapa adab sebelum tidur, termasuk berwudhu dan berbaring di sisi kanan.
Diriwayatkan oleh Al-Bara' bin Azib RA:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ
Idzā ataita maḍja‘aka fatawaḍḍa’ wuḍū’aka liṣ-ṣalāh, tsumma iḍṭaji‘ ‘alā syiqqikal-aiman.
Artinya: “Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di sisi kananmu.” (HR Sahih al-Bukhari No. 247 dan Sahih Muslim No. 2710).
Baca juga: Tanwir Muhammadiyah 2026 Digelar di Palu, Bahas Program 25 Tahun dan Persiapan Muktamar
Hadis ini menunjukkan bahwa tidur miring ke kanan bukan sekadar kebiasaan Rasulullah, melainkan sunnah yang beliau anjurkan secara langsung kepada para sahabat.
Para ulama menjelaskan bahwa Islam memiliki kaidah mendahulukan sisi kanan dalam perkara yang mulia (takrim). Karena itu, tangan kanan digunakan untuk makan, kaki kanan didahulukan ketika masuk masjid, dan sisi kanan dianjurkan ketika memulai tidur.
Imam An-Nawawi menerangkan bahwa anjuran ini merupakan bagian dari adab yang menunjukkan penghormatan terhadap sunnah Rasulullah SAW.
Tujuannya bukan mengharamkan posisi tidur lainnya, tetapi menjadikan posisi kanan sebagai kebiasaan yang lebih utama ketika mulai beristirahat.
Dengan demikian, seseorang yang sesekali berubah posisi saat tidur tidak dianggap menyelisihi sunnah, karena yang dianjurkan adalah memulai tidur dengan miring ke kanan.
Baca juga: Cara Shalat Berjamaah Saat Imam Sudah Rukuk untuk Makmum Masbuk
Hadis Al-Bara' bin Azib tidak hanya menyebut posisi tidur, tetapi juga rangkaian adab sebelum berbaring.
Rasulullah SAW menganjurkan berwudhu terlebih dahulu, kemudian berbaring di sisi kanan dan membaca doa sebelum tidur.
Adab ini menunjukkan bahwa seorang Muslim menutup harinya dengan keadaan suci dan mengingat Allah.
Tidur pun berubah dari sekadar aktivitas fisik menjadi ibadah yang bernilai pahala.
Selain itu, Rasulullah SAW juga membiasakan membaca zikir dan doa sebelum tidur sebagai bentuk tawakal kepada Allah apabila malam itu menjadi tidur terakhirnya.
Baca juga: Kemenag Sulteng Perkuat Pembinaan 181 Eks Napiter di Poso
Dalam fikih, para ulama menjelaskan bahwa tidur miring ke kanan hukumnya sunnah, bukan wajib. Artinya, seseorang tetap boleh tidur telentang, tengkurap, maupun ke kiri apabila memiliki kebutuhan atau merasa lebih nyaman.
Namun, terdapat hadis lain yang menunjukkan Rasulullah SAW tidak menyukai tidur tengkurap karena dianggap sebagai posisi yang tidak disukai Allah. Karena itu, posisi yang paling dianjurkan tetap memulai tidur dengan miring ke kanan.
Apabila seseorang berganti posisi secara alami saat sudah tertidur, hal tersebut tidak menjadi masalah karena terjadi di luar kesengajaan.
Baca juga: Kemenag Sulteng Perkuat Pembinaan 181 Eks Napiter di Poso
Hikmah terbesar dari sunnah ini adalah membangun kesadaran bahwa tidur merupakan bentuk penyerahan diri kepada Allah. Seorang Muslim menutup harinya dengan wudhu, zikir, doa, dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Kebiasaan sederhana seperti memiringkan tubuh ke kanan mengajarkan bahwa sunnah tidak selalu berupa ibadah besar.
Justru dalam aktivitas sehari-hari, seorang mukmin dapat menghadirkan kecintaan kepada Nabi melalui adab-adab kecil yang beliau teladankan.
Karena itu, ketika hendak tidur malam, mulailah dengan berwudhu, membaca doa, lalu berbaring di sisi kanan.
Sunnah sederhana ini menjadi pengingat bahwa setiap hari layak ditutup dengan mengingat Allah dan berharap bangun kembali dalam rahmat-Nya.
Baca juga: Daftar Lengkap Juara MTQ Nasional 2026, Menag: Gelar Bukan Akhir
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.